• Latest
  • All
  • Kabar Suriah
  • Kabar Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
Rusia-Iran

Rusia-Iran dan Permainan Besar Timur Tengah

1 minggu ago
Abiy Ahmed

Perang Sudan Kian Panas, Nama Abiy Ahmed Muncul di Balik Dukungan untuk RSF

4 jam ago
Al-Aqsa

Al-Aqsa Memanas Jelang Jumat Nakba, Palestina Sebut Ancaman Israel Paling Berbahaya

5 jam ago
Pemerintah Baru Suriah Desak Lebanon Seret Buronan Rezim Assad

Pemerintah Baru Suriah Tuduh Hizbullah Lindungi Penjahat Rezim Assad di Lebanon

7 jam ago
Hizbullah

Hizbullah Sembunyikan Ratusan Perwira Rezim Assad di Lebanon

7 jam ago
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Copyright
Rabu, Mei 13, 2026
Andalus Media
  • Home
  • Suriah
    • Kabar Suriah
    • Masa Revolusi Suriah
    • Tokoh Revolusi Suriah
    • Sejarah Suriah
  • Palestina
    • Kabar Palestina
    • Sejarah Palestina
    • Tokoh Palestina
  • Dunia Islam
    • Afghanistan
    • Arab Saudi
    • Qatar
    • Yordania
    • Turki
    • Irak
    • Uyghur
    • Sudan
    • Rohingnya
    • Lebanon
    • Mesir
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Andalus Media
  • Home
  • Suriah
  • Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi
Home Opini

Rusia-Iran dan Permainan Besar Timur Tengah

by Admin Andalus
1 minggu ago
A A
Rusia-Iran

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi (AFP)

2.4k
SHARES
4.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Rusia-Iran kini bukan lagi sekadar kerja sama biasa antarnegara. Di tengah memanasnya konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, Moskow sedang memainkan permainan geopolitik yang jauh lebih besar. Rusia mungkin tidak mengirim pasukan besar ke Teheran, tetapi Kremlin memberikan sesuatu yang nilainya jauh lebih mahal daripada senjata: perlindungan politik internasional.

Kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi ke Rusia memperjelas posisi Kremlin. Presiden Vladimir Putin ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Iran tidak sendirian menghadapi tekanan Barat. Dalam dunia politik global, dukungan diplomatik dari negara sebesar Rusia bisa menjadi senjata strategis yang lebih mematikan dibanding rudal dan tank.

Artikel opini Ivan Timofeev di Al Jazeera menegaskan bahwa Rusia melihat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sebagai bentuk agresi yang berbahaya, bukan sekadar konflik regional biasa. Moskow menilai perang tersebut membawa ancaman besar terhadap stabilitas dunia, mulai dari risiko bencana kemanusiaan hingga kemungkinan kontaminasi nuklir jika fasilitas atom Iran diserang lebih jauh.

Namun dukungan Rusia terhadap Iran bukan berarti Kremlin siap terjun langsung ke perang. Di sinilah kecerdikan geopolitik Putin terlihat. Rusia-Iran memang memiliki perjanjian strategis sejak 2025, tetapi hubungan itu bukan aliansi militer penuh. Moskow sadar perang besar di Timur Tengah bisa berubah menjadi bencana yang sulit dikendalikan. Rusia masih memiliki hubungan ekonomi dan politik dengan negara-negara Teluk Arab lain. Kremlin tidak ingin seluruh kawasan jatuh ke dalam kekacauan total.

RelatedPosts

Perang Iran Belum Selesai, Trump Hanya Menekan Tombol Jeda

Meski tampil sebagai penyeru perdamaian, Rusia sebenarnya tetap memperoleh keuntungan besar dari konflik Iran. Harga minyak dunia melonjak tajam akibat ketegangan di Selat Hormuz. Perhatian Barat terhadap perang Ukraina mulai terpecah. Bahkan sejumlah analis menyebut konflik Iran membantu memperkuat posisi ekonomi Rusia yang sebelumnya terpukul sanksi Barat.

Baca Artikel Lainnya: Berdirinya Negara Israel dan Perang Enam Hari yang Mengubah Timur Tengah

Tetapi Kremlin juga memahami bahwa keuntungan semacam itu hanya bersifat sementara. Rusia tahu ekonomi mereka tidak bisa terus bergantung pada perang dan kenaikan harga energi. Jika konflik berkepanjangan, efek negatif terhadap ekonomi global justru bisa memukul Rusia sendiri. Diskusi di forum pertahanan internasional bahkan menunjukkan kekhawatiran bahwa instabilitas global dapat memperlemah nilai rubel dan memicu tekanan ekonomi baru terhadap Moskow.

Yang paling menarik dari konflik Rusia-Iran ini adalah munculnya isolasi diplomatik terhadap Amerika Serikat dan Israel. Iran memang menghadapi tekanan militer besar, tetapi Washington ternyata tidak memperoleh dukungan internasional sepenuhnya. Negara-negara Eropa NATO terlihat ragu untuk ikut lebih jauh dalam konflik. Banyak sekutu Amerika menilai perang terhadap Iran terlalu berisiko dan tidak memberi keuntungan strategis jelas.

China juga mengambil posisi yang sangat hati-hati. Beijing menolak eskalasi militer karena berkepentingan menjaga stabilitas perdagangan dan energi global. India pun tidak menunjukkan antusiasme terhadap perang karena jutaan pekerja India berada di kawasan Teluk. Situasi ini membuat Amerika Serikat mulai terlihat sendirian secara diplomatik, sesuatu yang jarang terjadi dalam operasi militer besar Washington sebelumnya.

Konflik ini juga memperlihatkan bahwa ancaman militer Amerika tidak lagi otomatis menakutkan seperti dulu. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, operasi militer besar Amerika gagal menghasilkan kemenangan politik cepat dan mutlak. Iran berhasil bertahan dari tekanan besar, dan itu mengubah persepsi dunia terhadap dominasi Washington.

Meski demikian, Iran belum bisa dianggap menang. Teheran tetap menghadapi masalah besar di sektor ekonomi. Sanksi panjang, tekanan geopolitik, dan ketergantungan pada kebijakan darurat membuat model pembangunan Iran terlihat rapuh. Rusia memahami kelemahan itu. Karena itulah Moskow lebih fokus menjaga Iran tetap bertahan daripada mendorong perang terbuka tanpa akhir.

Rusia-Iran kini menjadi simbol lahirnya dunia multipolar, dunia ketika Amerika Serikat tidak lagi mampu mendikte seluruh arah geopolitik sendirian. Putin tampaknya membaca momentum ini dengan sangat cerdas. Rusia tidak perlu menembakkan misil untuk memperkuat Iran. Dukungan politik saja sudah cukup untuk mengguncang keseimbangan kekuatan global.

Dan itulah yang paling ditakuti Barat saat ini: bukan senjata Rusia, melainkan kemampuan Moskow mengubah isolasi Iran menjadi perlawanan internasional terhadap dominasi Amerika. (ahmad/andalusmedia.id)

Source: Al-Jazeera
Tags: amerika vs iranperang iran vs israelrusiarusia-iran
Share946Tweet591SendShare
Previous Post

Presiden Irak Tunjuk Ali al-Zaidi Bentuk Pemerintahan Baru

Next Post

Perang Iran Belum Selesai, Trump Hanya Menekan Tombol Jeda

Admin Andalus

Website ini dikelola oleh tim editorial yang dipimpin oleh Ust Masud Izzul Mujahid, Lc, berfokus pada penyajian informasi bumi syam, perkembangan dunia islam, serta dinamika geopolitik kawasan Timteng dengan pendekatan analitis dan berbasis sumber terverifikasi.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Hizbullah

Hizbullah Rencanakan Pembunuhan Kepada Pejabat Tinggi Suriah

6 Mei 2026
Israel khawatir pertahanan udara Suriah Damaskus

Israel Khawatir Pertahanan Udara Suriah Bangkit

3 Mei 2026
Ahmad al-Sharaa

Ahmad al-Sharaa Rombak Kabinet Suriah, Kritik Rakyat Mulai Dijawab

11 Mei 2026
Masjid Umayyah Damaskus simbol sejarah Islam dan pusat peradaban di Bumi Syam sejak masa kekhalifahan

Bumi Syam: Keutamaan, Sejarah, dan Jejak Peradaban Islam

sejarah negara Suriah Damaskus

Sejarah Negara Suriah Modern yang Menentukan Arah Timur Tengah

sejarah Palestina Yerusalem lama

Sejarah Palestina Pasca Runtuhnya Utsmani yang Mengguncang Timur Tengah

Abiy Ahmed

Perang Sudan Kian Panas, Nama Abiy Ahmed Muncul di Balik Dukungan untuk RSF

13 Mei 2026
Al-Aqsa

Al-Aqsa Memanas Jelang Jumat Nakba, Palestina Sebut Ancaman Israel Paling Berbahaya

13 Mei 2026
Pemerintah Baru Suriah Desak Lebanon Seret Buronan Rezim Assad

Pemerintah Baru Suriah Tuduh Hizbullah Lindungi Penjahat Rezim Assad di Lebanon

13 Mei 2026

Copyright © 2026 Andalus Media.

Discover More

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Copyright

Follow Us

  • Home
  • Suriah
  • Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi

Copyright © 2026 Andalus Media.