Gelombang perdebatan memenuhi media sosial Suriah setelah beredarnya potongan wawancara Dr. Hussein al-Sharaa, ayah Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa, yang dianggap sebagian pihak menyinggung masyarakat Deir ez-Zor. Cuplikan video yang tersebar luas itu memicu kemarahan, karena dipahami seolah merendahkan warga provinsi di timur Suriah tersebut.
Kontroversi bermula ketika Dr. Hussein al-Sharaa berbicara dalam sebuah podcast mengenai fenomena sosial antara masyarakat pedesaan dan perkotaan di Suriah. Dalam konteks pembahasan tersebut, ia menyinggung dampak panjang kebijakan Partai Baath yang selama puluhan tahun memperdalam kesenjangan sosial dan regional di berbagai wilayah Suriah.
Namun di media sosial, yang beredar hanyalah potongan video singkat tanpa konteks utuh. Cuplikan tersebut dipotong sedemikian rupa sehingga memunculkan kesan seolah terdapat penghinaan terhadap masyarakat Deir ez-Zor. Potongan itulah yang kemudian menyulut kemarahan dan memunculkan berbagai tuduhan di internet.
Di tengah situasi yang memanas, Presiden Ahmad al-Sharaa mengambil langkah cepat. Ia langsung menghubungi gubernur Deir ez-Zor serta sejumlah tokoh masyarakat dan pemimpin suku di wilayah tersebut untuk menyampaikan permintaan maaf secara pribadi.
Dalam percakapan itu, Ahmad al-Sharaa menegaskan bahwa ucapan ayahnya sama sekali tidak mewakili penghinaan terhadap warga Deir ez-Zor. Ia bahkan menyampaikan kalimat yang kemudian ramai dikutip publik Suriah.
“Kata-kata ayah saya lebih menyakiti saya daripada menyakiti penduduk Deir ez-Zor.”
Pernyataan tersebut langsung menyebar luas di media sosial dan menuai banyak respons positif. Apa yang dilakukan Ahmad al-Sharaa merupakan sesuatu yang hampir tidak pernah terlihat selama puluhan tahun dalam pemerintahan Assad.
Di era sebelumnya, kritik publik terhadap pejabat negara dibalas dengan intimidasi, penangkapan, atau tekanan keamanan. Negara hampir tidak pernah mengakui kesalahan, apalagi meminta maaf secara terbuka kepada rakyat. Karena itu, munculnya seorang presiden yang memilih turun langsung meredakan polemik sebagai perubahan besar dalam budaya politik Suriah.
Banyak aktivis menyebut langkah Ahmad al-Sharaa sebagai wajah “Suriah baru”, yakni pemerintahan yang mencoba mendekat kepada rakyat dan lebih menghormati sensitivitas sosial masyarakat.
Di media sosial, sejumlah pengguna menilai presiden telah menunjukkan kedewasaan politik dengan tidak membiarkan polemik berkembang menjadi konflik regional yang lebih besar. Sebagian lainnya memuji caranya meredam kemarahan publik tanpa pendekatan represif sebagaimana lazim terjadi pada masa lalu.
Warga Deir ez-Zor sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah revolusi Suriah. Provinsi tersebut selama bertahun-tahun menjadi arena perang sengit, perebutan pengaruh militer, hingga pertempuran melawan ISIS. Banyak kota hancur akibat perang panjang, sementara masyarakatnya mengalami penderitaan ekonomi dan sosial yang mendalam.
Karena itu, isu penghormatan terhadap martabat daerah menjadi persoalan sensitif bagi masyarakat setempat. Respons cepat Ahmad al-Sharaa berhasil mencegah kesalahpahaman berkembang menjadi luka sosial baru.
Dalam percakapannya dengan tokoh-tokoh Deir ez-Zor, Ahmad al-Sharaa juga menegaskan bahwa pemerintah sedang menyiapkan berbagai proyek pembangunan untuk wilayah timur Suriah tersebut. Ia menyebut rencana pembangunan rumah sakit, jembatan, serta investasi ekonomi guna mempercepat pemulihan Deir ez-Zor setelah bertahun-tahun dihantam perang.
Ahmad Al-Sharaa bahkan menyambut undangan warga untuk berkunjung langsung ke Deir ez-Zor dalam waktu dekat. Menurut sejumlah laporan lokal, pembahasan mengenai kunjungan tersebut mulai dikoordinasikan bersama pemerintah daerah.
Sementara itu, Dr. Hussein al-Sharaa juga memberikan klarifikasi melalui akun Facebook pribadinya. Ia menegaskan bahwa video yang viral telah dipotong dari konteks pembicaraan sebenarnya dan mengalami penyuntingan yang menimbulkan kesalahpahaman.
Menurutnya, wawancara tersebut sejatinya membahas dampak kebijakan lama rezim Baath yang selama bertahun-tahun menanamkan perpecahan sosial antara desa dan kota di banyak wilayah Suriah. Ia juga menegaskan memiliki hubungan baik dengan masyarakat Deir ez-Zor dan sama sekali tidak bermaksud menghina mereka.
Sebagian besar warga akhirnya melihat polemik ini lebih sebagai akibat dari potongan video yang tidak utuh dibanding penghinaan yang disengaja. Banyak pengguna media sosial menilai penyebaran cuplikan tanpa konteks justru berpotensi memecah persatuan nasional di tengah proses pemulihan Suriah pascajatuhnya rezim lama.
Di sisi lain, perhatian publik akhirnya lebih tertuju pada bagaimana Ahmad al-Sharaa menangani krisis tersebut. Banyak pengamat menilai langkahnya mencerminkan perubahan pendekatan politik di Damaskus, lebih terbuka, lebih komunikatif, dan tidak lagi bertumpu pada bahasa ancaman keamanan.
Meski begitu, masyarakat Suriah tetap menyadari bahwa perubahan simbolik saja tidak cukup. Pemerintahan baru masih menghadapi tantangan besar untuk membangun kembali institusi negara, memulihkan ekonomi, dan menyembuhkan luka sosial akibat perang panjang. (ahmad/andalusmedia.id)














