Washington – Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan penangkapan Mohammed Baqer Saad Dawood Al-Saadi, tokoh senior kelompok bersenjata Irak Kataib Hezbollah , yang terlibat dalam perencanaan serangan di Amerika Serikat, Kanada, dan sejumlah negara Eropa.
Direktur Federal Bureau of Investigation , Kash Patel , menyebut Al-Saadi sebagai “target bernilai tinggi” yang diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan teror internasional pro-Iran.
Departemen Kehakiman AS menyatakan Al-Saadi telah dipindahkan ke New York dan menjalani sidang awal atas enam dakwaan terkait aktivitas intelijen. Ia kini ditahan sambil menunggu proses hukum lanjutan di pengadilan federal.
Menurut dokumen penyelidikan, pria Irak berusia 32 tahun itu dimaksudkan untuk membantu merancang sedikitnya 18 serangan di Eropa dan dua serangan di Kanada sebagai respons terhadap operasi militer AS dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu.
Jaksa federal juga menuduh jaringan tersebut terkait dengan sejumlah serangan terhadap komunitas Yahudi di Eropa, termasuk penusukan dua pria Yahudi di London serta dugaan membakar sinagoge dan toko milik warga Israel di Amsterdam dan Munich.
Penyidik FBI menyebut Al-Saadi beberapa kali berkomunikasi dengan agen yang menyamar dan diduga memberikan peta serta foto lokasi sinagoge di New York dan institusi Yahudi lainnya di Los Angeles dan Arizona.
Meski begitu, hingga kini belum ada serangan yang benar-benar terjadi di wilayah Amerika Serikat. Otoritas AS berhak melakukan penangkapan sebelum rencana tersebut masuk tahap eksekusi.
Departemen Kehakiman juga mengungkap Al-Saadi diduga pernah bekerja dekat dengan Qassem Soleimani , yang tewas dalam serangan drone AS di Baghdad pada tahun 2020.
Baca Artikel Lainnya: Kota-kota Dunia Gelar Aksi Solidaritas Palestina pada Peringatan 78 Tahun Nakba
Kelompok Kataib Hizbullah sendiri dikenal sebagai salah satu faksi bersenjata Irak yang dekat dengan Iran dan sering mengklaim serangan drone maupun rudal terhadap pangkalan militer Amerika di Irak dan kawasan Timur Tengah.
Para analis keamanan menilai penangkapan ini dapat memicu respons dari kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran di Irak dan Suriah. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai milisi yang berafiliasi dengan Iran kerap mengancam kepentingan Amerika Serikat setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Kasus ini juga kembali menyoroti kekhawatiran Barat terhadap meluasnya operasi lintas negara yang melibatkan kelompok-kelompok bersenjata Timur Tengah. Pemerintah AS menuduh jaringan tersebut memanfaatkan media sosial, komunikasi terenkripsi, dan simpatisan di luar negeri untuk menyusun rencana serangan.
Di Irak sendiri, isu keberadaan kelompok bersenjata pro-Iran terus menjadi sumber ketegangan politik. Sebagian pihak mendukung kelompok-kelompok tersebut sebagai bagian dari “poros resistance”, sementara pihak lain menilai aktivitas mereka berisiko membawa Irak lebih jauh ke konflik regional antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Penangkapan ini diperkirakan dapat meningkatkan ketegangan antara Washington dan kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran di kawasan, terutama di konflik tengah regional yang terus memanas sejak perang Gaza dan meningkatnya konfrontasi Iran-Israel. (haidar/andalusmedia.id)














