TEL AVIV — Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali menjadi sorotan internasional setelah video yang menampilkan dirinya memarahi dan mengintimidasi aktivis flotilla bantuan Gaza yang viral di media sosial. Peristiwa itu terjadi setelah angkatan laut Israel mencegat kapal bantuan kemanusiaan yang berlayar menuju Jalur Gaza pada Selasa (19/5/2026).
Dalam rekaman yang tersebar luas, Ben-Gvir terlihat mendatangi sejumlah aktivis yang ditahan di sebuah fasilitas di Israel. Salah seorang aktivis perempuan mendengar slogan dukungan untuk Palestina sebelum dibentak Ben-Gvir dengan nada keras agar diam.
Video tersebut langsung memicu gelombang kritik dari aktivis hak asasi manusia, organisasi solidaritas Palestina, hingga pengguna media sosial di berbagai negara. Banyak pihak yang menilai tindakan Ben-Gvir menunjukkan sikap intimidatif terhadap aktivis sipil yang terlibat dalam misi kemanusiaan.
Menurut laporan media internasional, armada flotilla itu membawa bantuan kemanusiaan dan sejumlah aktivis dari berbagai negara untuk warga Gaza yang masih menghadapi krisis akibat perang dan blokade berkepanjangan. Kapal tersebut dicegat pasukan laut Israel di Laut Mediterania sebelum mencapai wilayah Gaza, kemudian seluruh penumpang dibawa ke Israel untuk menjalani pemeriksaan keamanan.
Video lain yang beredar di platform digital menampilkan sebagian aktivis tetap memiliki dukungan bagi Palestina meski berada dalam tahanan. Pemandangan tersebut semakin mempertegas sorotan terhadap perlakuan aparat Israel terhadap lawan sipil internasional.
Ben-Gvir dikenal sebagai salah satu figur paling keras dalam kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Politikus sayap kanan itu selama ini kerap menuai kontroversi karena pernyataannya terkait warga Palestina serta dukungannya terhadap operasi militer Israel di Gaza dan Tepi Barat.
Sejumlah pengamat menilai kemunculan Ben-Gvir di lokasi aktivisme terpencil juga memiliki pesan politik domestik untuk memperkuat citranya di kalangan pendukung garis keras Israel. Dalam beberapa bulan terakhir, Ben-Gvir terus mendorong kebijakan keamanan yang lebih agresif terhadap kelompok pro-Palestina.
Baca Artikel Lainnya: Imarah Islam Afghanistan Fokus Rekonsiliasi, Diaspora Diminta Kembali ke Kabul
Sementara itu, Freedom Flotilla Coalition menuduh Israel melakukan tindakan ilegal terhadap peserta misi kemanusiaan tersebut. Mereka menyatakan sejumlah aktivisme mengalami perlakuan kasar, intimidasi kapal secara verbal, serta tindakan komunikasi setelah dicegat di perairan internasional.
Beberapa organisasi HAM internasional juga meminta penyelidikan independen terkait tersingkirnya aktivis sipil tersebut. Mereka menilai pencegatan kapal bantuan di laut internasional menimbulkan pertanyaan serius mengenai kepatuhan terhadap hukum internasional dan perlindungan misi kemanusiaan.
Di sisi lain, pemerintah Israel membela tindakan pencegatan itu dengan alasan keamanan. Militer Israel menyebut armada flotilla melanggar blokade laut yang diterapkan terhadap Gaza sejak 2007. Menurut Israel, blokade tersebut diperlukan untuk mencegah penyelundupan senjata ke wilayah Gaza.
Insiden ini kembali menarik perhatian dunia terhadap situasi kemanusiaan di Gaza dan perlakuan terhadap aktivisme pro-Palestina. Tekanan internasional terhadap Israel juga meningkat seiring memburuknya kondisi sipil di Gaza akibat perang berkepanjangan dan terbatasnya akses bantuan kemanusiaan. (haidar/andalusmedia.id)














