Ketegangan di Lebanon selatan kembali meningkat setelah rangkaian serangan yang melibatkan militer Israel dan kelompok Hizbullah. Dalam insiden terbaru, dua tentara Lebanon dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan Israel, sementara Hizbullah mengklaim telah melancarkan 11 operasi balasan terhadap pasukan Israel.
Menurut pernyataan resmi militer Lebanon, seorang perwira dan satu prajurit terluka ringan setelah kendaraan militer yang mereka tumpangi diserang di wilayah Kfar, Bint Jbeil, pada Senin (5/5/2026). Serangan ini terjadi di tengah situasi yang masih tidak stabil, meskipun gencatan senjata telah diumumkan sejak 17 April lalu.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir sedikitnya 17 orang tewas akibat serangan Israel. Secara keseluruhan, sejak 2 Maret, jumlah korban mencapai 2.696 orang meninggal dunia dan 8.264 lainnya mengalami luka-luka. Korban tersebut mencakup warga sipil dari berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia.
Serangan juga dilaporkan menyasar sektor kesehatan dan tim penyelamat. Data menunjukkan terdapat 132 serangan terhadap tenaga medis, yang mengakibatkan 103 orang tewas dan 238 lainnya luka-luka. Selain itu, sedikitnya 25 fasilitas kesehatan dan 119 ambulans mengalami kerusakan. Sebanyak 16 rumah sakit terdampak, dengan tiga di antaranya terpaksa menghentikan operasional secara total.
Meskipun status gencatan senjata masih berlaku, serangan udara Israel dilaporkan terus berlangsung hampir setiap hari. Bahkan, pemboman besar terjadi di puluhan desa di wilayah Lebanon selatan dalam beberapa hari terakhir.
Baca Artikel Lainnya: Emir Qatar Ucapkan Selamat kepada Perdana Menteri Irak yang Baru Ditunjuk
Pada Senin malam, militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga di enam desa, yakni Nabatieh al-Fawqa, Mayfadoun, Qalawiya, Burj Qalawiya, al-Majadel, dan Sarifa. Peringatan tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi sebelum dilaksanakannya operasi militer lanjutan. Israel menyatakan bahwa langkah ini merupakan respons terhadap dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hizbullah.
Sumber lokal melaporkan bahwa serangan udara Israel menghantam lebih dari 20 titik di wilayah selatan, termasuk area yang sebelumnya telah diminta untuk dikosongkan oleh militer Israel.
Di sisi lain, Hizbullah menyatakan telah melakukan 11 operasi militer sebagai bentuk balasan atas serangan yang terjadi. Operasi tersebut melibatkan peluncuran roket dan artileri yang menargetkan posisi serta kendaraan militer Israel di sejumlah wilayah, termasuk Al-Bayyada, Al-Qantara, Ainata, dan Adshit Al-Qusayr.
Kelompok tersebut juga mengklaim telah menggunakan pesawat nirawak atau drone untuk menyerang posisi artileri Israel di Rab Thalathin. Selain itu, bentrokan langsung dilaporkan terjadi di beberapa titik, seperti di sekitar Deir Siryan dan Zawtar al-Sharqiya.
Dalam salah satu insiden, Hizbullah menyebut terjadi kontak senjata jarak dekat dengan pasukan Israel yang menyebabkan korban luka di pihak Israel. Proses evakuasi dilakukan melalui jalur darat sebelum korban diterbangkan ke wilayah Israel untuk mendapatkan perawatan medis.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa dua tentaranya mengalami luka dengan kategori sedang dalam bentrokan di Lebanon selatan. Kedua korban dilaporkan telah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Rambam di Haifa. Selain itu, media Israel juga melaporkan satu tentara lainnya mengalami luka ringan akibat serangan drone.
Di tengah meningkatnya eskalasi militer, upaya diplomatik tetap berlangsung. Otoritas Penyiaran Israel menyebut bahwa Amerika Serikat tengah mengupayakan putaran baru negosiasi antara Lebanon dan Israel yang direncanakan berlangsung di Washington pada pekan depan.
Pembicaraan tersebut akan melibatkan perwakilan dari kedua negara dan menjadi bagian dari upaya mencapai kesepakatan yang lebih luas. Sebelumnya, dua putaran dialog telah dilaksanakan pada pertengahan April lalu.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menegaskan komitmennya terhadap jalur diplomasi sebagai solusi utama konflik. Ia menyatakan bahwa negosiasi merupakan satu-satunya cara untuk mengakhiri ketegangan yang berlangsung saat ini.
Aoun juga menekankan bahwa tujuan utama dari proses diplomatik adalah mendorong penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon serta pembebasan tahanan. Namun demikian, ia menolak kemungkinan pertemuan langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelum tercapainya kesepakatan keamanan yang jelas.
Menurutnya, penghentian serangan harus menjadi prioritas utama sebelum melangkah ke tahap pembahasan lebih lanjut. Pernyataan tersebut mencerminkan posisi Lebanon yang tetap mengedepankan stabilitas dan keamanan nasional di tengah situasi yang terus memanas.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa situasi di Lebanon selatan masih jauh dari kata stabil. Meski gencatan senjata telah diumumkan, realitas di lapangan memperlihatkan konflik yang terus berlangsung dengan intensitas tinggi. (haidar/andalusmedia.id)