ADDIS ABABA — Nama Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, kembali jadi sorotan setelah pemerintah Sudan menuduh Addis Ababa ikut memanaskan perang saudara Sudan melalui dukungan terhadap Pasukan Dukungan Cepat (RSF) pimpinan Mohamed Hamdan Dagalo. Tuduhan itu muncul di tengah meningkatnya konflik di wilayah Nil Biru dan perbatasan Ethiopia-Sudan.
Hubungan Sudan dan Ethiopia sebenarnya punya sejarah panjang. Pada 1991, Sudan pernah membantu tokoh pemberontak Ethiopia, Meles Zenawi, kembali ke Addis Ababa untuk mengambil alih kekuasaan dari rezim Mengistu Haile Mariam. Namun lebih dari tiga dekade kemudian, situasi justru berbalik. Sudan kini menilai Ethiopia bukan lagi sekadar tetangga atau mediator, tetapi sudah menjadi bagian dari konflik.
Ketegangan terbaru meningkat setelah RSF merebut kota Kurmuk di wilayah Nil Biru yang berbatasan langsung dengan Ethiopia. Kota itu punya posisi strategis karena menjadi jalur penting menuju Sudan Selatan dan dekat dengan Bendungan Roseires, salah satu sumber listrik utama Sudan. Militer Sudan menuding serangan ke Kurmuk berasal dari arah Assosa di wilayah Benishangul-Gumuz, Ethiopia.
Dugaan keterlibatan Ethiopia makin kuat setelah investigasi Reuters mengungkap keberadaan kamp pelatihan RSF di kawasan berhutan Mengi dekat perbatasan Sudan. Kamp itu disebut mampu menampung ribuan pejuang dan diduga dipakai melatih anggota RSF serta kelompok sekutunya. Aktivitas militer juga terdeteksi di sekitar Bandara Assosa, termasuk pembangunan hanggar pesawat, area drone, dan sistem komunikasi satelit.
Laporan Humanitarian Research Lab Universitas Yale ikut memperkuat dugaan tersebut. Mereka menemukan aktivitas logistik dan militer intensif di pangkalan Ethiopia sepanjang akhir 2023 hingga awal 2024. Truk logistik, kendaraan tempur, dan suplai bahan bakar disebut terus bergerak menuju wilayah dekat Sudan.
Baca Artikel Lainnya: Al-Aqsa Memanas Jelang Jumat Nakba, Palestina Sebut Ancaman Israel Paling Berbahaya
Sejumlah pemantau sumber terbuka juga menuding Ethiopia menjadi jalur distribusi logistik RSF dari berbagai negara di kawasan Tanduk Afrika. Jalur itu disebut terhubung dengan Chad, Somaliland, hingga Republik Afrika Tengah. Bahkan politikus oposisi Ethiopia, Jawar Mohammed, pernah menuduh Ethiopian Airlines dipakai mengangkut personel RSF lewat penerbangan sipil.
Di sisi lain, Abiy Ahmed sebelumnya dikenal sebagai mediator regional saat revolusi Sudan 2019. Ethiopia kala itu berperan dalam kesepakatan transisi sipil-militer Sudan dan membuat Abiy mendapat Nobel Perdamaian. Namun hubungan Addis Ababa dan Khartoum mulai retak akibat sengketa wilayah Al-Fashaga dan proyek Bendungan GERD yang memicu konflik dengan Sudan dan Mesir.
Situasi makin sensitif ketika Abiy menerima Hemedti secara resmi di Addis Ababa pada akhir 2023. Foto pertemuan keduanya dianggap Sudan sebagai sinyal bahwa Ethiopia mulai berpihak kepada RSF.
Pengamat menilai ambisi Ethiopia mendapatkan akses langsung ke Laut Merah menjadi salah satu alasan utama keterlibatan Addis Ababa dalam perang Sudan. Ethiopia beberapa tahun terakhir aktif memperluas pengaruh di kawasan Tanduk Afrika, termasuk lewat kerja sama pelabuhan di Somaliland dan rencana penguatan angkatan laut.
Perang Sudan kini dinilai bukan lagi konflik internal biasa, tetapi arena perebutan pengaruh regional yang melibatkan Ethiopia, Mesir, Eritrea, Uni Emirat Arab, dan sejumlah kekuatan lain. Banyak analis khawatir konflik dapat berubah menjadi perang regional besar apabila campur tangan negara-negara tetangga terus meningkat. (haidar/andalusmedia.id)