Pemerintah baru Suriah mulai mengambil langkah tegas terhadap para loyalis rezim Bashar al-Assad yang melarikan diri ke Lebanon. Damaskus kini secara resmi meminta pemerintah Lebanon untuk menangkap dan menyerahkan para mantan perwira militer, aparat intelijen, dan tokoh keamanan rezim lama yang selama ini menjadi buronan dan mendapat perlindungan dari Hizbullah, sebagaimana yang dilaporkan oleh Al-Arabiya.
Permintaan itu disampaikan dalam pembicaraan resmi Suriah–Lebanon beberapa waktu terakhir. Pemerintah Suriah menilai keberadaan para loyalis Assad di Lebanon bukan lagi sekadar persoalan pelarian politik, tetapi telah berubah menjadi ancaman keamanan serius bagi negara.
Menurut sumber pemerintah Suriah, sejumlah aksi sabotase, kerusuhan keamanan, dan kekacauan yang terjadi di wilayah pesisir Suriah, termasuk di Latakia memiliki kaitan langsung dengan jaringan mantan perwira Assad yang kini beroperasi dari Lebanon. Mereka disebut masih menyimpan dendam atas jatuhnya rezim Assad dan terus berusaha menciptakan instabilitas untuk melemahkan pemerintahan baru Suriah.
Damaskus menilai para loyalis Assad itu tidak bergerak sendiri. Pemerintah Suriah secara terang-terangan mencurigai adanya dukungan dari Hizbullah di balik layar, baik dalam bentuk perlindungan, logistik, jalur komunikasi, maupun fasilitas keamanan.
Pemerintah Baru Suriah Tuduh Hizbullah Bermain Dua Wajah
Inilah yang kini menjadi perhatian besar Damaskus. Pemerintah baru Suriah mulai melihat bahwa Hizbullah memainkan dua wajah berbeda dalam isu Suriah. Di depan publik, Hizbullah berusaha menampilkan diri seolah tidak lagi ikut campur dalam urusan internal Suriah setelah runtuhnya rezim Assad. Namun di balik layar, kelompok tersebut justru tetap aktif menopang sisa-sisa jaringan Assad yang mencoba mengganggu stabilitas negara.
Bagi pemerintah Suriah, sikap seperti ini sebagai bentuk campur tangan terselubung terhadap kedaulatan Suriah.
Damaskus memahami bahwa banyak loyalis Assad yang kabur ke Lebanon memiliki hubungan ideologis dan militer yang sangat dekat dengan Hizbullah sejak masa perang Suriah. Selama bertahun-tahun, Hizbullah memang menjadi sekutu utama Bashar al-Assad dan ikut bertempur mempertahankan rezimnya.
Kini setelah Assad jatuh, hubungan itu disebut belum benar-benar putus.
Pemerintah Suriah juga melihat adanya kedekatan akar ideologi antara sebagian loyalis Assad dengan Hizbullah. Banyak tokoh inti rezim Assad berasal dari kalangan Alawi atau Nushairiyah, sementara Hizbullah merupakan kelompok Syiah Imamiyah yang berafiliasi kuat dengan Iran. Meski berbeda secara cabang dan struktur teologi, keduanya selama ini dipersatukan oleh kepentingan politik, militer, dan jaringan poros Iran di kawasan.
Karena itu, Damaskus mulai meyakini bahwa perlindungan terhadap loyalis Assad bukan sekadar hubungan lama antar sekutu perang, tetapi bagian dari upaya mempertahankan pengaruh jaringan pro-Iran di Suriah.
Pemerintah Suriah khawatir jika para mantan perwira Assad terus dibiarkan bebas bergerak di Lebanon, mereka akan menjadi pusat koordinasi operasi sabotase baru terhadap Suriah. Beberapa insiden keamanan belakangan ini disebut memperlihatkan pola operasi yang terorganisasi dan melibatkan mantan aparat rezim yang memiliki pengalaman intelijen serta militer.
Damaskus pun mulai menekan Beirut agar mengambil langkah nyata, bukan hanya pernyataan diplomatik. Pemerintah Suriah ingin Lebanon membuktikan komitmennya terhadap hubungan baru kedua negara dengan menyeret para buronan rezim Assad dan menghentikan segala bentuk perlindungan terhadap mereka.
Di sisi lain, pemerintah Suriah juga ingin menunjukkan bahwa era lama telah berakhir. Tidak ada lagi toleransi terhadap jaringan-jaringan lama rezim Assad yang selama ini dianggap bertanggung jawab atas berbagai kejahatan perang, pembantaian, dan kehancuran Suriah selama lebih dari satu dekade konflik.
Karena itu, isu ini bukan sekadar persoalan keamanan biasa bagi Damaskus. Pemerintah baru Suriah melihatnya sebagai bagian dari perang mempertahankan negara pasca runtuhnya rezim Assad.
Tekanan terhadap Lebanon dan Hizbullah diperkirakan akan terus meningkat dalam waktu dekat, terutama jika aksi sabotase dan gangguan keamanan di Suriah masih terus terjadi.
Bagi Damaskus, stabilitas Suriah tidak akan benar-benar tercapai selama jaringan loyalis Assad masih memiliki tempat aman di Lebanon dan tetap mendapat dukungan dari pihak-pihak yang dulu menopang rezim tersebut. (ahmad/andalusmedia.id)