• Latest
  • All
  • Kabar Suriah
  • Kabar Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
Nawaf Salam

Nawaf Salam Dijadwalkan Kunjungi Damaskus, Negosiasi dengan ‘Israel’ Jadi Isu Krusial

1 minggu ago
Abiy Ahmed

Perang Sudan Kian Panas, Nama Abiy Ahmed Muncul di Balik Dukungan untuk RSF

15 jam ago
Al-Aqsa

Al-Aqsa Memanas Jelang Jumat Nakba, Palestina Sebut Ancaman Israel Paling Berbahaya

15 jam ago
Pemerintah Baru Suriah Desak Lebanon Seret Buronan Rezim Assad

Pemerintah Baru Suriah Tuduh Hizbullah Lindungi Penjahat Rezim Assad di Lebanon

18 jam ago
Hizbullah

Hizbullah Sembunyikan Ratusan Perwira Rezim Assad di Lebanon

18 jam ago
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Copyright
Kamis, Mei 14, 2026
Andalus Media
  • Home
  • Suriah
    • Kabar Suriah
    • Masa Revolusi Suriah
    • Tokoh Revolusi Suriah
    • Sejarah Suriah
  • Palestina
    • Kabar Palestina
    • Sejarah Palestina
    • Tokoh Palestina
  • Dunia Islam
    • Afghanistan
    • Arab Saudi
    • Qatar
    • Yordania
    • Turki
    • Irak
    • Uyghur
    • Sudan
    • Rohingnya
    • Lebanon
    • Mesir
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Andalus Media
  • Home
  • Suriah
  • Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi
Home Suriah

Nawaf Salam Dijadwalkan Kunjungi Damaskus, Negosiasi dengan ‘Israel’ Jadi Isu Krusial

Nawaf Salam Perdana Menteri Lebanon dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Damaskus

by Admin Andalus
1 minggu ago
A A
Nawaf Salam

Presiden Ahmed al-Sharaa bertemu dengan Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam - Reuters

2.4k
SHARES
4.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Nawaf Salam Perdana Menteri Lebanon dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Damaskus dalam waktu dekat, di tengah meningkatnya dinamika politik kawasan yang dipicu tekanan Amerika Serikat serta eskalasi agresi ‘Israel’ di sejumlah front.

Dilansir dari Syria TV, sumber diplomatik Lebanon menyebut bahwa kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan langkah strategis untuk menata ulang hubungan antara Beirut dan Damaskus, sekaligus menyelaraskan pendekatan dalam menghadapi isu sensitif, khususnya negosiasi dengan pihak pendudukan ‘Israel’.

Kunjungan tersebut berlangsung dalam konteks regional yang kompleks. Lebanon disebut mulai bergerak mendekati poros Mediterania Timur yang melibatkan Siprus, Yunani, dan ‘Israel’. Langkah ini, termasuk proses delimitasi batas maritim dengan Siprus tanpa koordinasi dengan Suriah dan Turki, dipandang sebagai perubahan signifikan dalam orientasi geopolitik Beirut.

Sejumlah analis menilai bahwa kecenderungan ini berpotensi melemahkan koordinasi strategis antara Lebanon dan Suriah, serta membuka ruang bagi tekanan eksternal yang lebih besar, terutama dari ‘Israel’ yang terus berupaya memperluas pengaruhnya di kawasan.

RelatedPosts

Perang Sudan Kian Panas, Nama Abiy Ahmed Muncul di Balik Dukungan untuk RSF

Al-Aqsa Memanas Jelang Jumat Nakba, Palestina Sebut Ancaman Israel Paling Berbahaya

Damaskus Waspadai Fragmentasi Jalur Negosiasi

Sumber-sumber di Damaskus mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap arah kebijakan Lebanon yang dinilai membuka jalur negosiasi tanpa kerangka politik terpadu. Kondisi ini dinilai berisiko menciptakan fragmentasi dalam proses perundingan, yang pada akhirnya menguntungkan ‘Israel’.

Menurut analisis Suriah, pemerintahan Benjamin Netanyahu berupaya mengeksploitasi perbedaan posisi antara Beirut dan Damaskus untuk memaksakan realitas baru secara bertahap di lapangan. Strategi tersebut dilakukan melalui kombinasi tekanan militer dan pembukaan jalur diplomasi terpisah dengan masing-masing pihak.

Pendekatan semacam ini, jika berhasil, dinilai dapat melemahkan posisi tawar kedua negara secara bersamaan. Suriah memandang bahwa perundingan yang tidak terkoordinasi hanya akan menghasilkan kesepakatan yang timpang dan tidak berkelanjutan.

Pengalaman Suriah pada 2025 disebut menjadi rujukan penting. Saat itu, Damaskus sempat terlibat dalam negosiasi langsung, namun menghentikan proses tersebut karena ketidakseimbangan kekuatan yang mencolok. Pelajaran tersebut kini ingin ditegaskan kepada Lebanon agar tidak mengulangi kesalahan serupa di tengah situasi yang lebih kompleks.

Selain itu, sumber diplomatik Arab juga mengungkap adanya kekhawatiran terkait rencana ‘Israel’ membentuk realitas lapangan baru melalui penggabungan wilayah pengaruh antara Lebanon selatan dan Suriah selatan, dalam apa yang disebut sebagai “garis kuning”.

Jika skenario ini terwujud, ‘Israel’ berpotensi memperoleh kendali strategis atas jalur perbatasan antara kedua negara. Hal ini tidak hanya berdampak pada aspek keamanan, tetapi juga dapat mengubah peta geopolitik kawasan secara permanen.

Langkah tersebut juga dinilai sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk melemahkan stabilitas Suriah. ‘Israel’ disebut terus melakukan berbagai tekanan, termasuk dukungan terhadap kelompok separatis di wilayah selatan, serta kampanye media yang menargetkan pemerintahan Presiden Ahmad al-Sharaa.

Dalam pandangan Damaskus, seluruh dinamika ini menunjukkan bahwa konflik tidak lagi bersifat lokal, melainkan bagian dari kontestasi geopolitik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Kunjungan Jadi Ujian Arah Politik Lebanon

Di tengah tekanan tersebut, Lebanon kini berada pada posisi yang sangat menentukan. Negara itu dihadapkan pada pilihan antara melanjutkan integrasi dengan poros regional tertentu atau memperkuat koordinasi dengan lingkungan geografis dan politiknya, khususnya Suriah.

Keterlibatan dalam poros Mediterania Timur tanpa koordinasi yang memadai dinilai berpotensi melemahkan posisi tawar Lebanon. Sebaliknya, pendekatan yang lebih terkoordinasi dengan Suriah dan negara-negara regional lainnya dapat memperkuat posisi Beirut dalam menghadapi tekanan eksternal.

Dilansir dari Syria TV, sumber diplomatik mengungkap adanya upaya aktif dari Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Mesir untuk mencegah memburuknya situasi di Lebanon dan Suriah.

Upaya ini bertujuan membangun kerangka politik dan keamanan bersama sebagai “payung perlindungan” bagi kedua negara. Ankara dan Riyadh disebut memainkan peran utama dalam mendorong stabilitas kawasan melalui pendekatan diplomasi dan mediasi.

Sumber tersebut juga menyebut bahwa pesan tegas telah disampaikan kepada Beirut agar tidak terburu-buru melakukan negosiasi langsung dengan ‘Israel’ tanpa keseimbangan politik yang memadai.

Bahkan, Turki dilaporkan mengusulkan gagasan lebih lanjut, termasuk kemungkinan penempatan pasukan multinasional di wilayah perbatasan Lebanon selatan dan Suriah selatan. Langkah ini dimaksudkan untuk mengendalikan eskalasi dan mencegah terjadinya konflik berskala luas.

Di sisi lain, ‘Israel’ justru dilaporkan menolak keterlibatan mediator regional, khususnya Turki, dan lebih memilih jalur negosiasi langsung di bawah pengawasan Amerika Serikat.

Pemerintahan Benjamin Netanyahu disebut meningkatkan tekanan terhadap Lebanon agar segera masuk ke dalam proses negosiasi langsung, bahkan di tengah operasi militer yang masih berlangsung.

Pendekatan ini dikenal sebagai “negosiasi di bawah tekanan”, yang dinilai oleh berbagai pihak sebagai strategi untuk memaksakan kesepakatan yang tidak seimbang.

Kunjungan Nawaf Salam ke Damaskus pun dipandang sebagai ujian nyata bagi kemampuan Lebanon dalam menentukan arah kebijakan luar negerinya di tengah dinamika yang kompleks.

Keberhasilan kunjungan ini akan sangat bergantung pada sejauh mana kedua pihak mampu menyusun kerangka koordinasi yang jelas, menetapkan batasan dalam proses negosiasi, serta mencegah langkah sepihak yang dapat merugikan salah satu pihak.

Lebih dari itu, pertemuan ini juga diharapkan dapat mengembalikan isu Lebanon ke dalam konteks regional yang lebih luas, sehingga tidak terjebak dalam tekanan bilateral yang sempit.

Dalam kesimpulannya, kunjungan ini tidak hanya mencerminkan dinamika hubungan bilateral antara Lebanon dan Suriah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya yang lebih besar untuk membentuk ulang peta kekuatan politik di kawasan. Negosiasi yang berlangsung bukan lagi sekadar proses teknis, melainkan bagian dari kontestasi strategis yang mencakup pengaruh, geografi, dan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. (ahmad/andalusmedia.id)

Tags: berita Timur Tengah terbaruHizbullahisraelkabar suriahkonflik Lebanon IsraelLebanonsuriah
Share945Tweet591SendShare
Previous Post

Serangan di Lebanon Selatan Tentara dan Paramedis Jadi Sasaran, Hizbullah Balas dengan 11 Operasi

Next Post

Al-Sharaa Bahas Investasi dan Rekonstruksi dengan Pengusaha UEA, Mesir, dan Turki

Admin Andalus

Website ini dikelola oleh tim editorial yang dipimpin oleh Ust Masud Izzul Mujahid, Lc, berfokus pada penyajian informasi bumi syam, perkembangan dunia islam, serta dinamika geopolitik kawasan Timteng dengan pendekatan analitis dan berbasis sumber terverifikasi.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Hizbullah

Hizbullah Rencanakan Pembunuhan Kepada Pejabat Tinggi Suriah

6 Mei 2026
Israel khawatir pertahanan udara Suriah Damaskus

Israel Khawatir Pertahanan Udara Suriah Bangkit

3 Mei 2026
Ahmad al-Sharaa

Ahmad al-Sharaa Rombak Kabinet Suriah, Kritik Rakyat Mulai Dijawab

11 Mei 2026
Masjid Umayyah Damaskus simbol sejarah Islam dan pusat peradaban di Bumi Syam sejak masa kekhalifahan

Bumi Syam: Keutamaan, Sejarah, dan Jejak Peradaban Islam

sejarah negara Suriah Damaskus

Sejarah Negara Suriah Modern yang Menentukan Arah Timur Tengah

sejarah Palestina Yerusalem lama

Sejarah Palestina Pasca Runtuhnya Utsmani yang Mengguncang Timur Tengah

Abiy Ahmed

Perang Sudan Kian Panas, Nama Abiy Ahmed Muncul di Balik Dukungan untuk RSF

13 Mei 2026
Al-Aqsa

Al-Aqsa Memanas Jelang Jumat Nakba, Palestina Sebut Ancaman Israel Paling Berbahaya

13 Mei 2026
Pemerintah Baru Suriah Desak Lebanon Seret Buronan Rezim Assad

Pemerintah Baru Suriah Tuduh Hizbullah Lindungi Penjahat Rezim Assad di Lebanon

13 Mei 2026

Copyright © 2026 Andalus Media.

Discover More

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Copyright

Follow Us

  • Home
  • Suriah
  • Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi

Copyright © 2026 Andalus Media.