Aktivis Palestina Saif Abu Kishk tiba di Barcelona, Spanyol, setelah dideportasi oleh otoritas Israel menyusul keterlibatannya dalam misi kemanusiaan “Armada Keteguhan Global” yang bertujuan menembus blokade Jalur Gaza.
Setibanya di Bandara Barcelona, Abu Kishk menyerukan mobilisasi internasional yang lebih luas untuk mendukung rakyat Palestina dan mengakhiri apa yang ia sebut sebagai impunitas Israel terhadap Gaza.
Dalam pernyataannya, Abu Kishk menegaskan bahwa upaya mematahkan blokade Gaza bukan tanggung jawab segelintir individu, melainkan kewajiban bersama masyarakat internasional.
Ia mengajak gerakan solidaritas di universitas, organisasi kemanusiaan, dan kelompok pendukung Palestina di berbagai negara untuk terus memperjuangkan keadilan dan hak-hak rakyat Palestina.
“Tahap berikutnya membutuhkan persatuan gerakan rakyat dan lembaga internasional untuk mengakhiri pengepungan Gaza serta melanjutkan perjuangan menuju Palestina merdeka,” ujarnya.
Pernyataan Abu Kishk muncul beberapa jam setelah pemerintah Israel mengumumkan deportasi dirinya bersama aktivis asal Brasil, Thiago Avila.
Kementerian Luar Negeri Israel melalui platform X menyebut keduanya sebagai bagian dari “armada provokatif” yang mencoba menembus blokade laut Gaza.
Sebelum tiba di Barcelona, Abu Kishk sempat transit di Athena, Yunani, melalui Bandara Ben Gurion, lalu melanjutkan perjalanan ke Madrid dan Barcelona.
Para aktivis sebelumnya ditahan saat mengikuti pelayaran “Global Steadfastness Flotilla” atau Armada Keteguhan Global yang berangkat pada 12 April 2026 dari pelabuhan di Prancis dan Spanyol menuju Gaza.
Baca Artikel Lainnya: Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 51 Orang, Petugas Medis Kembali Jadi Sasaran
Misi tersebut melibatkan lebih dari 50 kapal yang membawa bantuan kemanusiaan dan aktivis solidaritas internasional dari berbagai negara.
Menurut panitia armada, sebanyak 345 aktivis dari 39 negara ikut dalam pelayaran tersebut. Namun, pasukan Israel mencegat sejumlah kapal di perairan internasional sebelum mencapai Gaza.
Sebanyak 21 kapal dengan sekitar 175 aktivis dilaporkan ditahan, sementara kapal lainnya dipaksa kembali menuju perairan Yunani setelah operasi dihentikan.
Pemerintah Israel menegaskan akan terus mencegah setiap upaya menerobos blokade laut Gaza dengan alasan keamanan.
Sementara itu, kelompok solidaritas Palestina menyatakan mereka akan terus mengorganisasi misi kemanusiaan internasional guna menekan pembukaan akses bantuan ke Jalur Gaza yang selama ini dibatasi ketat.
Blokade Gaza kembali menjadi sorotan internasional di tengah memburuknya kondisi kemanusiaan dan meningkatnya tekanan terhadap akses bantuan bagi warga sipil Palestina. (haidar/andalusmedia.id)