Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 51 orang tewas akibat serangan Israel dalam 24 jam terakhir, termasuk dua petugas medis yang bertugas di wilayah selatan negara itu.
Serangan terbaru disebut menyasar dua titik layanan kesehatan di kawasan Qalawiya dan Tibnin, Distrik Bint Jbeil.
Pemerintah Lebanon menuding Israel terus melanggar hukum internasional dan norma kemanusiaan dengan menjadikan tenaga medis serta fasilitas kesehatan sebagai target serangan.
“Israel terus melakukan pelanggaran serius dengan menyerang langsung paramedis dan fasilitas kesehatan,” demikian pernyataan Kementerian Kesehatan Lebanon.
Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah memasuki pekan ketiga sejak diberlakukan pada 16 April 2026. Namun, intensitas serangan justru dilaporkan meningkat di berbagai wilayah Lebanon selatan.
Menurut data pemerintah Lebanon, sejak operasi militer Israel dimulai kembali pada 2 Maret 2026, jumlah korban tewas telah mencapai 2.846 orang.
Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mencatat sedikitnya 103 tenaga medis Lebanon tewas dan sekitar 230 lainnya terluka akibat lebih dari 130 serangan Israel terhadap fasilitas kesehatan dan petugas medis.
Kepala Pertahanan Sipil Lebanon di Kota Tyre, Ali Safiuddin, mengatakan para petugas penyelamat kini bekerja di bawah ancaman kematian setiap hari.
“Kami hidup dalam ancaman setiap detik. Kami tidak tahu apakah akan selamat atau terbunuh saat menjalankan tugas,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa banyak rekan mereka telah gugur selama operasi penyelamatan di wilayah konflik yang terus menjadi sasaran serangan udara dan artileri.
Jurnalis Al Jazeera, Obaida Hitto, yang melaporkan langsung dari Tyre, mengatakan hukum humaniter internasional sebenarnya memberikan perlindungan terhadap tenaga medis dan petugas tanggap darurat dalam konflik bersenjata.
Baca Artikel Lainnya: Michael Lynk Tuduh Israel Ingin Hapus Warga Palestina, Termasuk Komunitas Kristen
“Namun di garis depan Lebanon selatan, pertanyaannya bukan lagi apakah serangan akan datang, tetapi berapa banyak petugas yang masih tersisa untuk menolong korban,” katanya.
Sementara itu, dokter bedah perang dan pekerja kemanusiaan, Dr. Tahir Mohammed, mengaku melihat pola serangan yang sama seperti yang terjadi di Jalur Gaza.
Ia mengatakan banyak tenaga kesehatan, mahasiswa kedokteran, dan perawat di Gaza juga menjadi korban serangan Israel selama perang berlangsung.
“Kebijakan menargetkan tenaga kesehatan terlihat konsisten antara Gaza dan Lebanon,” ujarnya.
Menurutnya, jika memiliki kesempatan, Israel akan memperluas pendudukan ke wilayah selatan Lebanon tanpa mempertimbangkan dampak kemanusiaan terhadap warga sipil.
Serangan yang berlangsung sejak awal Maret juga disebut telah memaksa lebih dari 1,2 juta warga Lebanon meninggalkan rumah mereka akibat situasi keamanan yang memburuk.
Meski kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku sejak pertengahan April, berbagai serangan udara dan penembakan artileri masih terus dilaporkan terjadi di wilayah selatan Lebanon.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran internasional terhadap kemungkinan meluasnya konflik regional di Timur Tengah. (haidar/andalusmedia.id)