Hamas mengklaim proses pemilihan internal untuk mengisi kekosongan kepemimpinan pasca pembunuhan sejumlah petinggi oleh Israel hampir rampung.
Penasihat media kepala biro politik Hamas, Taher Al-Nunu, mengatakan sebagian besar posisi kepemimpinan telah ditentukan melalui mekanisme internal organisasi.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera Mubasher yang dipublikasikan Selasa (12/5/2026), Al-Nunu menyebut restrukturisasi dilakukan setelah terbunuhnya pemimpin Hamas Ismail Haniyeh dan sejumlah anggota biro politik lainnya.
Menurutnya, Hamas menggunakan sistem konsultasi dan pemilihan tertutup untuk menentukan struktur kepemimpinan baru.
Ia membantah kabar bahwa Hamas sudah secara resmi menetapkan satu sosok sebagai pemimpin utama organisasi.
“Sebagian posisi kepemimpinan sudah ditentukan, sementara sisanya masih dalam proses penyelesaian,” kata Al-Nunu.
Terkait gencatan senjata di Jalur Gaza, Hamas menuduh Israel tidak menjalankan komitmen fase pertama kesepakatan yang sebelumnya dicapai di Sharm El-Sheikh.
Al-Nunu mengklaim Hamas telah memenuhi kewajiban dengan menyerahkan tahanan hidup maupun jenazah sesuai jadwal yang disepakati.
Namun, menurutnya, Israel belum mengizinkan masuknya rumah sementara, alat berat, rehabilitasi rumah sakit, serta pemulihan pasokan listrik ke Gaza.
Ia juga menuduh pasukan Israel terus memperluas penguasaan wilayah di Gaza. Menurut Hamas, sekitar 55 hingga 60 persen wilayah Gaza kini berada di bawah kendali militer Israel.
Al-Nunu menolak tuduhan bahwa Hamas menghambat implementasi kesepakatan karena menolak pelucutan senjata.
Menurutnya, pembahasan mengenai persenjataan kelompok perlawanan baru akan dilakukan pada fase kedua negosiasi.
“Hamas tidak akan masuk ke fase kedua sebelum ada bukti nyata bahwa Israel menjalankan kewajibannya pada fase pertama,” ujarnya.
Al-Nunu turut mengkritik Amerika Serikat yang dinilai mendorong percepatan negosiasi fase kedua tanpa memastikan implementasi tahap pertama berjalan sesuai kesepakatan.
Baca Artikel Lainnya: Aktivis Palestina Saif Abu Kishk Tiba di Barcelona Usai Dideportasi Israel
Ia menjelaskan fase kedua seharusnya mencakup penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, pembentukan komite teknokrat, kehadiran pasukan internasional, hingga pembahasan negara Palestina.
Selain itu, Hamas juga menuduh Israel menghambat kerja UNRWA terutama di wilayah Gaza utara.
Al-Nunu menegaskan Hamas masih menganggap perang di Gaza terus berlangsung meski intensitasnya berubah.
Ia menyebut pembunuhan warga sipil, pembatasan bantuan, serta krisis air dan listrik masih terjadi di berbagai wilayah Gaza.
Menurutnya, tekanan militer Israel, termasuk tewasnya Azzam Al-Hayya, putra pemimpin Hamas Khalil Al-Hayya, tidak akan membuat Hamas mundur dari proses negosiasi maupun perlawanan.
Hamas juga membantah tuduhan Israel bahwa kelompok tersebut tengah membangun kembali kekuatan militer untuk melancarkan serangan baru.
Menurut Al-Nunu, tuduhan itu digunakan Israel sebagai alasan untuk melanjutkan operasi militer di Gaza. (haidar/andalusmedia.id)