Perdana Menteri Irak yang ditunjuk, Ali Faleh al-Zaidi, menyatakan kesiapan negaranya untuk berperan sebagai mediator dalam meredakan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan al-Zaidi dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Selasa (5/5/2026). Dalam pembicaraan itu, ia menegaskan bahwa Irak mendukung penuh jalur diplomasi dan dialog sebagai solusi utama dalam menyelesaikan konflik serta berbagai krisis regional.
Al-Zaidi menilai bahwa eskalasi ketegangan antara Teheran dan Washington memerlukan pendekatan yang konstruktif dan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa Irak memiliki posisi strategis dan hubungan yang relatif seimbang dengan kedua pihak, sehingga berpotensi memainkan peran sebagai penengah.
Menurutnya, keterlibatan Irak dalam proses mediasi dapat membantu membuka ruang komunikasi yang lebih luas dan mengurangi risiko konflik terbuka. Ia juga menekankan pentingnya stabilitas kawasan, yang dinilai sangat bergantung pada hubungan antara Iran dan Amerika Serikat.
Dalam pembicaraan tersebut, kedua pihak turut membahas hubungan bilateral antara Irak dan Iran. Mereka sepakat untuk memperkuat kerja sama di berbagai sektor, termasuk ekonomi dan keamanan, serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di masa mendatang.
Selain itu, al-Zaidi dan Pezeshkian juga menyatakan komitmen untuk melanjutkan komunikasi intensif melalui pertukaran kunjungan resmi antar pejabat tinggi kedua negara. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan strategis sekaligus menjaga stabilitas kawasan.
Sebelumnya, Pakistan sempat menjadi tuan rumah pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat. Namun, proses tersebut belum menghasilkan kesepakatan konkret akibat perbedaan pandangan yang masih tajam, terutama terkait isu program nuklir Iran.
Baca Artikel Lainnya: Menlu Jerman Dukung Kehadiran Pasukan Israel di Lebanon Selatan
Situasi ini menunjukkan bahwa upaya diplomatik masih menghadapi tantangan besar. Oleh karena itu, inisiatif dari Irak dinilai sebagai peluang baru untuk mendorong dialog yang lebih produktif antara kedua negara.
Sebagai negara yang berada di tengah dinamika geopolitik kawasan, Irak memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas regional. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kerap berdampak pada situasi keamanan di Irak, sehingga peran mediasi dinilai sejalan dengan kepentingan nasionalnya.
Pengamat menilai bahwa keberhasilan Irak dalam menjalankan peran ini akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga keseimbangan hubungan dengan kedua pihak. Selain itu, dukungan internasional juga menjadi faktor penting dalam memperkuat posisi Irak sebagai mediator.
Dengan latar belakang tersebut, langkah al-Zaidi menawarkan peran mediasi menjadi sinyal bahwa Irak ingin mengambil posisi lebih aktif dalam diplomasi regional. Upaya ini diharapkan dapat berkontribusi pada terciptanya stabilitas yang lebih luas di Timur Tengah.
Perkembangan selanjutnya dari inisiatif ini akan menjadi perhatian komunitas internasional, terutama dalam melihat sejauh mana peluang terciptanya dialog konstruktif antara Iran dan Amerika Serikat. (haidar/andalusmedia.id)