Menteri Luar Negeri Jerman, Johannes Wadephul, menyatakan dukungannya terhadap keberadaan pasukan Israel di sebagian wilayah Lebanon selatan. Ia menilai langkah tersebut diperlukan untuk melindungi wilayah utara Israel dari serangan kelompok Hizbullah.
Pernyataan itu disampaikan Wadephul dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, di Berlin pada Selasa (6/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Sa’ar menegaskan bahwa Israel tidak memiliki niat untuk mencaplok wilayah Lebanon. Ia menyatakan bahwa kehadiran militer Israel di Lebanon selatan semata-mata bertujuan melindungi warga dari ancaman serangan lintas batas.
Wadephul menyampaikan dukungan terhadap pernyataan tersebut, sekaligus mengutuk serangan Hizbullah terhadap Israel. Ia juga mendesak pemerintah Lebanon untuk mengambil langkah tegas, termasuk melucuti kelompok bersenjata tersebut.
Meski mendukung posisi Israel, Wadephul menegaskan pentingnya menjaga perlindungan terhadap warga sipil. Ia memperingatkan agar konflik tidak diselesaikan dengan mengorbankan masyarakat sipil di kedua belah pihak.
Menurutnya, penyelesaian jangka panjang hanya dapat dicapai melalui kesepakatan yang menjamin keamanan bersama. Ia juga mendorong kelanjutan negosiasi antara Lebanon dan Israel guna meredakan ketegangan yang terus meningkat.
Wadephul menekankan bahwa Lebanon tidak boleh menjadi “medan perang” yang membuat warga sipil menanggung dampak konflik. Ia menilai kondisi tersebut justru berpotensi memperburuk situasi keamanan di kawasan dan tidak memberikan solusi jangka panjang bagi Israel.
Baca Artikel Lainnya: Sudan Tuduh UEA dan Ethiopia Terlibat Serangan Drone ke Bandara Khartoum
Sementara itu, Sa’ar menyebut warga Israel di wilayah utara saat ini hidup dalam tekanan akibat serangan yang dilancarkan Hizbullah. Ia menegaskan bahwa langkah militer yang diambil merupakan bentuk pertahanan diri.
Di lapangan, eskalasi konflik masih terus berlangsung. Militer Israel dilaporkan melancarkan sekitar 60 serangan ke wilayah Lebanon dalam satu hari, yang mengakibatkan sedikitnya lima orang tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.
Sebagai respons, Hizbullah mengklaim telah melakukan 17 serangan balasan yang menargetkan berbagai posisi militer Israel, termasuk tank dan konsentrasi pasukan di wilayah perbatasan.
Meskipun gencatan senjata telah disepakati sejak pertengahan April, serangan lintas batas tetap terjadi. Israel juga dilaporkan menetapkan zona terlarang sejauh 10 kilometer dari garis perbatasan, serta membatasi akses warga sipil dan media ke wilayah tersebut.
Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan bahwa sejak 2 Maret, serangan Israel telah menyebabkan sekitar 2.700 orang tewas dan lebih dari 8.200 lainnya luka-luka. Angka tersebut mencerminkan dampak kemanusiaan yang signifikan dari konflik yang masih berlangsung.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa situasi di Lebanon selatan masih berada dalam kondisi rapuh. Dukungan internasional dan upaya diplomatik dinilai menjadi faktor penting dalam mencegah eskalasi lebih lanjut di kawasan. (haidar/andalusmedia.id)