YERUSALEM — Ketegangan di kawasan Masjid Al-Aqsa kembali memanas setelah Menteri Israel urusan Negev dan Galilea, Yitzhak Wasserlauf , memasuki kompleks suci tersebut memperingatkan peringatan pendudukan Yerusalem Timur oleh Israel pada 1967 menurut kalender Ibrani.
Media Israel melaporkan kunjungan Wasserlauf dilakukan beberapa hari sebelum pawai bendera tahunan pemukim Yahudi di Yerusalem. Momentum itu juga bertepatan dengan peringatan Nakba bagi rakyat Palestina, yang mengenang pengusiran massal warga Palestina pada tahun 1948.
Surat kabar Haaretz menyebut Wasserlauf mengajak warga Israel untuk ikut memasuki kawasan Al-Aqsa sebagai bagian dari apa yang disebut “revolusi” yang dipimpin Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir . Keduanya berasal dari partai sayap kanan Jewish Power dan dikenal sering memicu kontroversi lewat aksi serupa.
Situasi semakin tegang setelah 22 pejabat Israel melaporkan mendesak kepolisian agar mengizinkan pemukim masuk ke kompleks Al-Aqsa saat memperingatkan pendudukan Yerusalem. Surat itu ditandatangani sembilan menteri dan 13 anggota parlemen Israel.
Kelompok ekstremis Israel “By Our Hands” juga termasuk ikut mendorong aksi masuk massal ke Al-Aqsa. Sementara itu, sekitar 50 ribu pemukim diperkirakan akan mengikuti pawai bendera di Yerusalem Timur dengan rute yang melewati kawasan Palestina.
Sejumlah organisasi Palestina memperingatkan bahwa langkah-langkah tersebut dapat memicu ledakan situasi keamanan di Yerusalem dan Tepi Barat. Mereka menilai pemerintah Israel sedang berupaya mengubah status quo Masjid Al-Aqsa bersejarah yang selama ini berada di bawah pengelolaan Wakaf Islam Yordania.
Baca Artikel Lainnya: Perang Sudan Kian Panas, Nama Abiy Ahmed Muncul di Balik Dukungan untuk RSF
Peneliti wilayah Yerusalem menyebut kelompok ekstremis Israel kini mendorong perluasan jam masuk pemukim ke kawasan Al-Aqsa, termasuk membuka akses pada hari Jumat yang selama ini dibatasi karena tingginya jumlah jamaah Muslim. Langkah itu dianggap sebagai bagian dari proyek Yahudisasi Yerusalem secara bertahap.
Di sisi lain, aparat keamanan Israel melaporkan meningkatkan penjagaan di sekitar Kota Tua Yerusalem menjelang pawai bendera dan peringatan Nakba. Pembatasan bagi akses warga Palestina juga diperkirakan diperketat untuk mencegah aksi protes dan bentrokan.
Hamas mengecam keras langkah pemerintah Israel dan menilai aksi tersebut sebagai bagian dari upaya sistematis mengubah identitas Yerusalem dan memperkuat kontrol atas Al-Aqsa. Menurut Hamas, provokasi itu terus dilakukan meski mendapat perhatian internasional.
Pemerintah Qatar juga mengutuk masuknya pejabat Israel ke kompleks Al-Aqsa. Doha menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan bentuk intimidasi terhadap umat Islam. Qatar meminta komunitas internasional segera mengambil tindakan untuk menghentikan pelanggaran di Yerusalem Timur.
Bagi rakyat Palestina, Al-Aqsa bukan hanya tempat ibadah, tetapi simbol identitas nasional dan garis pertahanan utama menghadapi proyek Yahudisasi Yerusalem. (haidar/andalusmedia.id)














