• Latest
  • All
  • Kabar Suriah
  • Kabar Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
Hemedti

Hemedti Tegaskan Siap Perang hingga 2040, RSF Klaim Tak Akan Menyerah

3 bulan ago
Jenderal Rusia

Jenderal Rusia Peringatkan Konflik Asia Barat Bisa Mengancam Israel

2 hari ago
Negara Teluk

Iran Peringatkan Negara Teluk, Dukungan untuk AS Bisa Dianggap Keterlibatan

2 hari ago
Saudi

Saudi Kecam Serangan Israel ke Abu al-Duhur, Sebut Langgar Kedaulatan Suriah

3 hari ago
Bandara Abu al-Duhur

Israel Bombardir Bandara Abu al-Duhur di Suriah, AS Cegah Bentrokan dengan Turki

3 hari ago
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Copyright
Sabtu, Agustus 22, 2026
Andalus Media
  • Home
  • Suriah
    • Kabar Suriah
    • Masa Revolusi Suriah
    • Tokoh Revolusi Suriah
    • Sejarah Suriah
  • Palestina
    • Kabar Palestina
    • Sejarah Palestina
    • Tokoh Palestina
  • Dunia Islam
    • Afghanistan
    • Arab Saudi
    • Qatar
    • Yordania
    • Turki
    • Irak
    • Uyghur
    • Sudan
    • Rohingnya
    • Lebanon
    • Mesir
    • Amerika
    • Iran
    • Israel
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Andalus Media
  • Home
  • Suriah
  • Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi
Home Sudan

Hemedti Tegaskan Siap Perang hingga 2040, RSF Klaim Tak Akan Menyerah

Komandan RSF Sudan sebut perdamaian bukan tanda kelemahan di tengah tekanan militer dan isu perpecahan internal

by Admin Andalus
3 bulan ago
A A
Hemedti

Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti.

2.4k
SHARES
4.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Komandan Rapid Support Forces atau RSF, Mohamed Hamdan Dagalo, kembali muncul di hadapan puluhan perwira bawahannya setelah lama tidak tampil di medan perang. Dalam pidatonya, Hemedti menegaskan keinginan mencapai perdamaian, namun sekaligus menyatakan kesiapan menghadapi perang berkepanjangan di Sudan.

Hemedti mengatakan pasukannya siap melanjutkan konflik hingga tahun 2040 apabila situasi mengharuskannya. Ia bahkan mengungkapkan bahwa sejumlah perkiraan militer memprediksi perang Sudan dapat terus berlangsung sampai 2033.

Menurut Hemedti, pihak militer Sudan selama ini menafsirkan kesediaan RSF untuk bernegosiasi sebagai tanda kelemahan. Namun ia membantah anggapan tersebut dan menegaskan bahwa sikap pasukannya didasarkan pada keyakinan bahwa perang berkepanjangan tidak akan memberikan keuntungan bagi siapa pun.

Dalam pidato itu, Hemedti juga mengklaim jumlah pasukannya meningkat drastis sejak perang dimulai. Ia menyebut RSF yang sebelumnya beranggotakan sekitar 143 ribu personel kini berkembang menjadi 450 ribu pejuang.

RelatedPosts

Jenderal Rusia Peringatkan Konflik Asia Barat Bisa Mengancam Israel

Iran Peringatkan Negara Teluk, Dukungan untuk AS Bisa Dianggap Keterlibatan

Ia menilai peningkatan jumlah tersebut sebagai bukti adanya dukungan rakyat terhadap RSF di tengah konflik yang terus berlangsung.

Selain aspek militer, Hemedti berjanji memperbaiki kondisi administrasi di wilayah yang berada di bawah kendali RSF serta meningkatkan pelayanan publik bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa perhatian terhadap korban luka perang dan keluarga anggota pasukan yang tewas akan menjadi prioritas utama. Menurutnya, pendidikan anak-anak anggota RSF yang gugur juga akan dimasukkan dalam program utama pada fase berikutnya.

Hemedti turut mengakui bahwa larangan ekspor ternak dan hasil pertanian dari wilayah yang dikuasai RSF bertujuan mencegah aliran devisa jatuh ke tangan pihak lawan dalam konflik.

Ia mengklaim tengah menyiapkan jalur perdagangan alternatif untuk mengurangi kerugian yang dialami peternak dan petani di wilayah konflik.

Namun, seorang eksportir ternak dan biji minyak di Darfur menyebut kebijakan tersebut justru menyebabkan harga komoditas anjlok dan memicu kerugian besar bagi produsen lokal.

Eksportir itu juga menuduh RSF memonopoli jalur ekspor melalui Chad dan Libya timur lewat perusahaan-perusahaan yang disebut berafiliasi dengan kelompok tersebut.

Sejumlah pengamat menilai pidato Hemedti muncul di tengah tekanan militer dan politik yang semakin meningkat terhadap RSF.

Pidato itu disampaikan tidak lama setelah Mayor Jenderal Al-Nur Adam Al-Qubba, salah satu tokoh penting dalam struktur kepemimpinan RSF, membelot dan bergabung dengan tentara Sudan.

Baca Artikel Lainnya: Serangan Udara Israel Hantam Rumah di Gaza, Anak-anak Jadi Korban Luka

Pembelotan tersebut disertai tuduhan adanya perpecahan internal, lemahnya moral pasukan, serta menurunnya keinginan bertempur di kalangan anggota RSF.

Para analis juga menyoroti janji Hemedti untuk merawat sekitar 50 ribu anak anggota pasukan yang tewas. Pernyataan itu dianggap mencerminkan besarnya korban di pihak RSF selama perang berlangsung.

Meski demikian, seorang pejabat media RSF yang tidak disebutkan namanya menolak tuduhan adanya krisis internal dalam tubuh kelompok tersebut.

Kepada Al Jazeera, pejabat itu menyebut isu perpecahan hanya “propaganda hitam” yang disebarkan oleh lawan-lawan RSF, termasuk militer Sudan dan kelompok Islamis.

Menurutnya, pidato Hemedti justru menunjukkan komitmen RSF terhadap perdamaian sekaligus kesiapan menghadapi perang dalam jangka panjang.

Pakar urusan Afrika, Kofi Kwaku, menilai konflik Sudan kini telah berubah menjadi “perang internasional” akibat campur tangan dan dukungan eksternal terhadap pihak-pihak yang bertikai.

Ia menyebut para pemimpin militer lebih fokus pada perebutan kekuasaan dibandingkan penderitaan rakyat Sudan yang terdampak perang.

Kwaku juga menilai Uni Afrika dan lembaga internasional gagal memaksakan solusi nyata untuk menghentikan konflik.

Menurutnya, Sudan kini menghadapi tiga kemungkinan skenario, yakni perang berkepanjangan yang memicu perpecahan negara, pembekuan konflik melalui gencatan senjata parsial, atau eskalasi regional yang meluas hingga Ethiopia, Sudan Selatan, dan kawasan Laut Merah.

Sementara itu, analis politik Faisal Abdul Karim menilai pidato terbaru Hemedti merupakan bagian dari strategi meningkatkan tekanan militer demi memperbesar keuntungan di medan perang.

Menurutnya, seruan perdamaian yang disampaikan Hemedti lebih merupakan langkah politik dan media untuk membangun legitimasi RSF di mata internasional. (haidar/andalusmedia.id)

Tags: berita Timur Tengah terbarukonflik SudanRSFSudan
Share946Tweet591SendShare
Previous Post

Serangan Udara Israel Hantam Rumah di Gaza, Anak-anak Jadi Korban Luka

Next Post

Kiai Ashari Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan Puluhan Santriwati di Pati

Admin Andalus

Website ini dikelola oleh tim editorial yang dipimpin oleh Ust Masud Izzul Mujahid, Lc, berfokus pada penyajian informasi bumi syam, perkembangan dunia islam, serta dinamika geopolitik kawasan Timteng dengan pendekatan analitis dan berbasis sumber terverifikasi.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Hizbullah

Hizbullah Rencanakan Pembunuhan Kepada Pejabat Tinggi Suriah

6 Mei 2026
Israel khawatir pertahanan udara Suriah Damaskus

Israel Khawatir Pertahanan Udara Suriah Bangkit

3 Mei 2026
Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa mencium tangan ayahnya hari ini (media sosial)

Presiden Suriah Ahmad Al-Sharaa Meminta Maaf Kepada Rakyatnya Atas Ucapan Ayahnya

23 Mei 2026
Masjid Umayyah Damaskus simbol sejarah Islam dan pusat peradaban di Bumi Syam sejak masa kekhalifahan

Bumi Syam: Keutamaan, Sejarah, dan Jejak Peradaban Islam

sejarah negara Suriah Damaskus

Sejarah Negara Suriah Modern yang Menentukan Arah Timur Tengah

sejarah Palestina Yerusalem lama

Sejarah Palestina Pasca Runtuhnya Utsmani yang Mengguncang Timur Tengah

Jenderal Rusia

Jenderal Rusia Peringatkan Konflik Asia Barat Bisa Mengancam Israel

20 Agustus 2026
Negara Teluk

Iran Peringatkan Negara Teluk, Dukungan untuk AS Bisa Dianggap Keterlibatan

20 Agustus 2026
Saudi

Saudi Kecam Serangan Israel ke Abu al-Duhur, Sebut Langgar Kedaulatan Suriah

19 Agustus 2026

Copyright © 2026 Andalus Media.

Discover More

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Copyright

Follow Us

  • Home
  • Suriah
  • Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi

Copyright © 2026 Andalus Media.