Pemimpin Hezb-e Islami Afghanistan, Gulbuddin Hekmatyar, menyerukan kepada anggota dan pendukung partainya agar memutus hubungan dengan pihak-pihak yang mendukung pemerintahan Taliban atau Imarah Islam Afghanistan (IIA).
Seruan tersebut disampaikan Hekmatyar dalam sebuah pesan yang dilaporkan Afghanistan International pada Jumat (4/9/2026). Ia secara khusus meminta anggota Hezb-e Islami yang telah bergabung dengan pemerintahan IIA maupun kelompok politik lain untuk tidak lagi mengatasnamakan partainya.
“Berdirilah dengan tulus bersama kelompok-kelompok itu dan berhentilah menggunakan nama Hezb-e Islami,” ujar Hekmatyar dalam pesan tersebut.
Hekmatyar Minta Anggota Menentukan Pilihan
Dalam pernyataannya, Hekmatyar tidak hanya menyinggung Taliban. Ia meminta anggota partainya menjaga jarak secara organisasi dari berbagai kelompok atau tokoh yang mendukung maupun memuji kebijakan sejumlah pemerintahan dan gerakan politik Afghanistan.
Nama-nama yang disebut antara lain pendukung monarki Afghanistan, pemerintahan Mohammad Daoud Khan, kelompok komunis, Jamiat-e Islami, Shura-e Nazar, Taliban serta berbagai gerakan politik lainnya.
Seorang anggota Hezb-e Islami menafsirkan pernyataan tersebut sebagai tuntutan agar kader menentukan pilihan antara tetap mempertahankan afiliasi dengan partai atau memberikan dukungan kepada pemerintahan IIA.
“Pilih menjadi Taliban atau menjadi Hezb-e Islami,” kata anggota tersebut seperti dikutip Afghanistan International.
Hubungan Hekmatyar dan Taliban Berubah
Sikap Hekmatyar terhadap Taliban mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Setelah Taliban kembali menguasai Kabul pada Agustus 2021, Hekmatyar sempat menyambut kembalinya kelompok tersebut.
Namun, hubungan tersebut kemudian semakin renggang. Hekmatyar mulai melontarkan kritik terhadap pemerintahan IIA, terutama terkait pemusatan kekuasaan, pembatasan terhadap masyarakat dan cara pemerintahan Afghanistan dijalankan.
Perubahan sikap itu berlangsung di tengah meningkatnya pembatasan terhadap aktivitas politik di Afghanistan. Radio Free Europe/Radio Liberty melaporkan pada 2024 bahwa IIA melarang aktivitas seluruh partai politik.
Tekanan terhadap Hekmatyar juga disebut meningkat. Rumah yang sebelumnya diberikan pemerintah kepadanya dikosongkan, sementara kegiatan ceramahnya mengalami pembatasan.
Baca Artikel Lainnya: Ben-Gvir Rancang Pemindahan 1,86 Juta Warga Palestina dari Gaza
Kantor Hezb-e Islami Ditutup
Tekanan terhadap organisasi yang dipimpin Hekmatyar dilaporkan terus berlanjut.
Afghanistan International pada Mei 2026 melaporkan bahwa kantor-kantor Hezb-e Islami diperintahkan untuk ditutup. Sejumlah anggota partai juga disebut ditangkap, sedangkan properti dan perlengkapan organisasi dilaporkan disita.
Hekmatyar sendiri disebut telah meninggalkan Afghanistan dan dalam beberapa bulan terakhir berada di Malaysia.
Kondisi tersebut semakin memperlihatkan memburuknya hubungan antara Hekmatyar dan pemerintahan IIA. Seruan terbaru untuk memutus hubungan dengan pihak yang mendukung Taliban sekaligus menegaskan kembali posisi politik Hekmatyar di tengah lingkungan politik Afghanistan yang semakin terbatas bagi partai-partai.
Hekmatyar dan Sejarah Konflik Afghanistan
Gulbuddin Hekmatyar merupakan salah satu tokoh paling dikenal dalam sejarah konflik Afghanistan modern. Ia mendirikan dan memimpin Hezb-e Islami, salah satu kelompok utama yang melawan pendudukan Uni Soviet pada dekade 1980-an.
Setelah periode panjang konflik dengan pemerintahan Afghanistan, Hekmatyar kemudian menandatangani kesepakatan perdamaian dengan pemerintahan Presiden Ashraf Ghani pada 2016. Setahun kemudian, ia kembali ke Kabul dan memasuki arena politik secara terbuka.
Perserikatan Bangsa-Bangsa kemudian mencatat keterlibatannya dalam proses politik Afghanistan, termasuk seruan agar pemilu digunakan sebagai mekanisme untuk menentukan pemerintahan negara tersebut.
Hubungan antara Hezb-e Islami dan Taliban sendiri memiliki sejarah persaingan yang panjang. Keduanya pernah menjadi kekuatan bersenjata yang berhadapan dengan pemerintahan Afghanistan sebelumnya serta pasukan asing.
Namun, setelah Taliban mengambil alih Afghanistan pada 2021, sejumlah mantan anggota Hezb-e Islami kemudian bergabung dengan pemerintahan IIA.
Seruan terbaru Hekmatyar menunjukkan bahwa persaingan dan perbedaan politik antara kedua kubu masih berlanjut, meskipun sebagian mantan anggota kelompoknya telah memilih bergabung dengan pemerintahan Taliban. (haidar/andalusmedia.id)














