Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan militer baru ke sejumlah wilayah di Iran. Operasi yang diumumkan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) itu dilakukan hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan Washington akan membalas serangan yang diklaim dilakukan Iran terhadap pasukan Amerika di Timur Tengah.
Melalui pernyataan resmi di platform X, CENTCOM menyatakan operasi militer telah dimulai sebagai respons atas serangan Iran sehari sebelumnya.
“Kami telah memulai peluncuran serangan terhadap Iran sebagai respons atas upaya serangan Iran kemarin yang menargetkan pasukan AS di Timur Tengah,” tulis CENTCOM.
Seorang pejabat pertahanan Amerika Serikat mengatakan kepada Fox News bahwa serangan udara tersebut menyasar sejumlah target militer di berbagai wilayah Iran.
Tak lama setelah pengumuman itu, media pemerintah Iran melaporkan serangkaian ledakan mengguncang sejumlah daerah di bagian selatan negara tersebut.
Televisi pemerintah Iran menyebut ledakan terdengar di Bandar Abbas, Pulau Abu Musa, Pulau Kish di Provinsi Hormozgan, kawasan sekitar Selat Hormuz, Pulau Qeshm, hingga Kota Bushehr.
Wakil Gubernur Provinsi Hormozgan mengonfirmasi salah satu serangan menghantam sebuah rumah di Pulau Qeshm. Tim penyelamat masih berupaya mengevakuasi dua orang yang diduga terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Sementara itu, kantor berita Tasnim melaporkan proyektil juga menghantam kawasan permukiman di Pulau Qeshm serta lokasi terpisah di sekitar Kota Kazerun, Provinsi Fars.
Baca Artikel Lainnya: Massa Pro-Palestina Kepung Gedung Putih, Desak Trump Stop Bantuan Senjata ke Israel
Di Provinsi Khuzestan, pejabat setempat menyatakan rudal-rudal Amerika Serikat turut menghantam wilayah Abadan dan Shadegan.
Eskalasi terbaru terjadi setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Selasa mengklaim telah meluncurkan rudal balistik ke pangkalan udara dan fasilitas militer Amerika Serikat di Yordania. Namun, militer AS sebelumnya menyatakan seluruh rudal tersebut berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran.
Sebelum operasi dimulai, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan memberikan respons militer terhadap serangan yang menyasar pasukannya.
“Sekarang giliran kami,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Meski demikian, Trump mengatakan jalur diplomasi belum sepenuhnya ditutup. Ia menegaskan Washington tetap akan mengevaluasi peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran, namun saat ini fokus utama pemerintahannya adalah memberikan respons tegas terhadap setiap serangan yang mengancam personel militer Amerika.
Gelombang serangan terbaru ini menandai meningkatnya konfrontasi langsung antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut juga memperbesar kekhawatiran internasional terhadap potensi meluasnya konflik di Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. (haidar/andalusmedia.id)














