Jutaan warga Yaman memadati ibu kota Sana’a dan berbagai kota lainnya pada Jumat (31/7/2026) dalam aksi unjuk rasa besar yang menyatakan dukungan terhadap kelanjutan operasi militer melawan Arab Saudi. Demonstrasi itu berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, bertepatan dengan pengumuman Riyadh mengenai pembentukan koalisi maritim multinasional di Laut Merah.
Aksi bertema “Blokade Dibalas Blokade, Eskalasi Dibalas Eskalasi” tersebut disebut penyelenggara sebagai bentuk dukungan rakyat terhadap langkah-langkah yang diambil gerakan Ansarallah dalam menghadapi blokade dan serangan militer.
Dalam pernyataan yang dibacakan di hadapan massa, penyelenggara menyebut para peserta memberikan mandat kepada pemimpin Ansarallah, Sayyed Abdul-Malik al-Houtsi, untuk mengambil langkah apa pun yang dianggap perlu demi mengakhiri blokade terhadap Yaman.
Massa juga menyatakan dukungan terhadap strategi blokade maritim yang diterapkan terhadap kapal-kapal yang dianggap melanggar larangan navigasi Yaman, serta mendukung respons angkatan bersenjata Yaman atas serangan udara yang dilancarkan Arab Saudi.
Selain menyoroti konflik dengan Riyadh, aksi tersebut menjadi ajang solidaritas bagi rakyat Palestina. Para peserta memperingati wafatnya Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, sekaligus menegaskan dukungan terhadap Jalur Gaza dan prinsip Kesatuan Medan.
Dalam aksi itu, massa juga mengecam serangan gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi di Irak yang mereka nilai sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara tersebut.
Di saat yang sama, Arab Saudi mengumumkan pembentukan koalisi maritim multinasional untuk memperkuat keamanan jalur pelayaran di Laut Merah.
Menurut Kementerian Pertahanan Saudi, Riyadh akan memimpin aliansi tersebut sekaligus menjadi lokasi markas besar koalisi. Pengumuman itu disampaikan setelah pertemuan pendiri yang dihadiri perwakilan militer dari 43 negara serta Uni Eropa.
Baca Artikel Lainnya: Amerika Serikat Lancarkan Serangan Balasan ke Iran, Ledakan Guncang Bandar Abbas hingga Bushehr
Sebanyak 14 negara secara terbuka menyatakan dukungan terhadap inisiatif tersebut, termasuk Turki, Pakistan, Mesir, Sudan, dan Djibouti. Sementara itu, Oman dan Uni Emirat Arab (UEA) tidak termasuk dalam daftar negara pendukung yang diumumkan.
Koalisi tersebut dibentuk di tengah meningkatnya ancaman terhadap jalur perdagangan internasional setelah serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan wilayah sekitarnya.
Sebelumnya, Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Brigadir Jenderal Yahya Saree, mengumumkan bahwa pertahanan udara Yaman berhasil menembak jatuh sebuah drone pengintai Saudi jenis Karayel di Provinsi Saada.
Ia juga mengklaim pasukannya menargetkan kapal tanker minyak Saudi NCC GHAZAL menggunakan rudal balistik karena dianggap melanggar larangan navigasi yang diberlakukan Yaman.
Perkembangan terbaru ini menandai meningkatnya konfrontasi antara Yaman dan Arab Saudi, sekaligus memperbesar kekhawatiran terhadap stabilitas Laut Merah yang menjadi salah satu jalur pelayaran perdagangan dan distribusi energi paling penting di dunia. (haidar/andalusmedia.id)














