Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa kembali menunjukkan perhatian besarnya terhadap sektor pertanian dengan mengeluarkan Dekret Nomor 120 Tahun 2026 yang memberikan bonus insentif kepada para petani gandum di seluruh negeri. Kebijakan ini disambut luas sebagai langkah penting untuk mendukung para petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan Suriah di tengah proses pemulihan negara pasca jatuhnya Assad.
Melalui dekret tersebut, setiap petani yang menyerahkan hasil panen gandumnya kepada Perusahaan Gandum Suriah akan memperoleh bonus tambahan sebesar 9.000 pound Suriah baru untuk setiap ton gandum, di luar harga pembelian resmi yang telah ditetapkan.
Dengan tambahan bonus itu, total harga pembelian gandum Suriah kini diperkirakan mendekati 400 dolar AS per ton. Angka tersebut jauh lebih mendukung kepentingan petani dibanding musim-musim sebelumnya, terutama di tengah naiknya biaya produksi pertanian dan tantangan ekonomi global.
Kebijakan ini sebagai bentuk respons cepat pemerintah terhadap aspirasi para petani di berbagai wilayah Suriah, khususnya di kawasan timur laut seperti Raqqa yang merupakan salah satu pusat produksi gandum terbesar negara tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, para petani memang menyampaikan keluhan mengenai tingginya biaya produksi, mulai dari pupuk, bahan bakar, benih, hingga alat pertanian yang sebagian besar dipengaruhi fluktuasi dolar AS. Pemerintah Suriah kemudian bergerak cepat dengan menghadirkan solusi nyata melalui bonus insentif yang langsung meningkatkan nilai jual hasil panen mereka.
Banyak pengamat menilai langkah Presiden Ahmad al-Sharaa menunjukkan pendekatan yang lebih dekat kepada rakyat dan sektor-sektor produktif negara. Di tengah berbagai tekanan ekonomi akibat sanksi dan dampak perang panjang, pemerintah berusaha menjaga keseimbangan antara kemampuan negara dan kebutuhan masyarakat.
Suriah Perkuat Sektor Pertanian sebagai Fondasi Pemulihan Negara
Sektor gandum memiliki arti sangat strategis bagi Suriah. Selama bertahun-tahun konflik, produksi pertanian mengalami penurunan tajam akibat rusaknya infrastruktur, terganggunya distribusi bahan bakar, dan berpindahnya jutaan warga dari desa-desa pertanian.
Kini pemerintah Suriah berupaya menghidupkan kembali sektor tersebut sebagai fondasi utama pemulihan ekonomi nasional. Langkah pemberian bonus kepada petani dipandang bukan sekadar kebijakan ekonomi biasa, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengembalikan Suriah menuju swasembada pangan.
Selain meningkatkan harga pembelian gandum, pemerintah juga mulai mempercepat rehabilitasi silo penyimpanan, gudang hasil panen, dan fasilitas logistik pertanian di berbagai provinsi. Perusahaan Gandum Suriah sebelumnya telah mengumumkan program modernisasi pusat penyimpanan sebagai persiapan menghadapi musim panen 2026.
Pemerintah berharap langkah tersebut dapat meningkatkan kapasitas penyimpanan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor pangan di masa depan.
Di sisi lain, keputusan ini juga memperlihatkan perubahan pendekatan ekonomi yang lebih pragmatis dan berbasis produksi nasional. Pemerintahan baru Damaskus tampak ingin menggerakkan kembali sektor riil negara, terutama pertanian dan industri dasar, sebagai jalan keluar dari krisis ekonomi berkepanjangan.
Para petani di berbagai wilayah menyambut positif kebijakan tersebut. Banyak di antara mereka menilai keputusan Presiden Ahmad al-Sharaa memberikan harapan baru bagi keberlangsungan sektor pertanian yang selama ini menghadapi tekanan berat.
Langkah ini juga penting untuk mencegah para petani menjual hasil panen mereka ke pasar gelap atau keluar dari jalur distribusi resmi negara. Dengan harga yang lebih kompetitif dan bonus tambahan, pemerintah berupaya memastikan hasil panen nasional tetap masuk ke cadangan strategis negara.
Dalam konteks yang lebih luas, kebijakan ini memperlihatkan bagaimana pemerintahan Suriah mulai fokus membangun stabilitas ekonomi dari bawah, yakni melalui dukungan langsung kepada petani, pekerja, dan sektor produksi domestik.
Bagi banyak warga Suriah, keputusan Presiden Ahmad al-Sharaa ini bukan hanya tentang angka atau bonus pertanian semata, tetapi tanda bahwa negara mulai kembali hadir untuk mendukung rakyatnya setelah bertahun-tahun dilanda perang dan krisis. (ahmad/andalusmedia.id)














