Skandal baru kembali mengejutkan Israel setelah sejumlah aktivis internasional yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla mengungkap dugaan penyiksaan terhadap tahanan sipil usai armada bantuan Gaza dicegat di Laut Mediterania.
Salah satu aktivis, Mousa Taher, mengungkap para relawan yang dipukul, dihina, dipukuli, dan ditahan dalam kondisi memprihatinkan selama berada di bawah pengawasan aparat Israel. Kesaksian itu secara langsung memicu kemarahan publik internasional dan memperbesar sorotan terhadap perlakuan Israel terhadap aktivis pro-Palestina.
Armada Bantuan Global Sumud Flotilla sendiri berlayar membawa kemanusiaan untuk warga Gaza yang masih menghadapi krisis besar akibat perang berkepanjangan dan blokade ketat Israel. Dalam misi tersebut, ratusan aktivis dari berbagai negara ikut bergabung sebagai simbol solidaritas internasional terhadap Palestina.
Namun pelayaran itu berakhir tegang setelah kapal-kapal Israel menghentikan konvoi bantuan di perairan internasional pada Selasa (19/5/2026). Para aktivisme kemudian dibawa ke fasilitas terpencil sebelum menjalani pemeriksaan keamanan.
Dalam wawancara dengan media Turki Anadolu Agency, Mousa Taher menggambarkan situasi mencekam saat proses terpencil sedang berlangsung. Ia menyebut sejumlah aktivis yang dipaksa duduk di tanah dengan tangan terikat selama berjam-jam.
“Sebagian relawan dipukul dan diteriaki. Kami diperlakukan seperti penjahat padahal kami membawa bantuan kemanusiaan,” ungkapnya.
Kesaksian serupa juga datang dari beberapa aktivis Eropa yang ikut berada dalam armada bantuan Gaza tersebut. Mereka mengaku mendapat ancaman verbal, tekanan psikologis, hingga perlakuan kasar selama berada di pusat penahanan Israel.
Sejumlah aktivis perempuan bahkan menyebut mereka mengalami intimidasi saat proses pemeriksaan berlangsung. Kondisi itu memicu kritik keras organisasi hak asasi manusia internasional yang menilai tindakan Israel melanggar prinsip perlindungan terhadap warga sipil.
Baca Artikel Lainnya: Krisis Gaza Memburuk, Bantuan Rekonstruksi Internasional Dinilai Sangat Lambat
Kontroversi semakin memanas setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video yang menampilkan para aktivis dalam posisi berlutut dengan tangan terikat. Rekaman itu viral di media sosial dan memicu kecaman luas dari berbagai negara.
Banyak pengguna media sosial menilai video tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap tahanan sipil dan upaya mempermalukan aktivis kemanusiaan di depan publik internasional.
Gelombang tekanan komunikasi pun mulai bermunculan. Inggris, Prancis, Italia, dan Polandia melaporkan memanggil diplomat Israel untuk meminta penjelasan terkait perlakuan terhadap peserta armada Gaza. Uni Eropa menyuarakan ikut kecaman dan mendesak penyelidikan independen terhadap dugaan kekerasan telah tersingkir.
Organisasi bantuan hukum Adalah yang mendampingi para aktivis menyebut sebagian besar tahanan mengalami tekanan fisik dan psikologis yang serius. Mereka mengungkap para lawan sempat dibiarkan terikat dalam waktu lama tanpa akses komunikasi yang memadai.
“Perlakuan seperti ini tidak dapat dibenarkan terhadap misi kemanusiaan sipil,” kata perwakilan organisasi tersebut.
Di sisi lain, pemerintah Israel membantah seluruh tuduhan penyiksaan. Otoritas penjara Israel menyebut operasi pencegatan dilakukan sesuai prosedur keamanan dan klaim para aktivis dianggap tidak berdasar.
Israel terus berdalih bahwa blokade laut Gaza diperlukan untuk mencegah penyelundupan senjata ke wilayah yang dikuasai Hamas. Namun alasan tersebut kembali dibahas setelah video dan kesaksian para pemain tersebar luas di internet.
Insiden ini mengingatkan dunia pada tragedi Mavi Marmara tahun 2010 ketika pasukan Israel mengirimkan kapal bantuan Gaza dan meluncurkan sejumlah aktivis internasional. Peristiwa itu sempat memicu krisis besar dan bersahabat dengan citra Israel di mata dunia.
Kini, kasus Global Sumud Flotilla kembali memuat soal internasional blokade Gaza, kebebasan misi kemanusiaan, dan perlakuan terhadap aktivis sipil di wilayah konflik.
Di tengah situasi kemanusiaan Gaza yang semakin memburuk, aksi solidaritas internasional justru terus bermunculan. Banyak kelompok bantuan masyarakat sipil menyatakan pencegatan armada tidak akan menghentikan dukungan global terhadap rakyat Palestina. (haidar/andalusmedia.id)














