Tentara Arab Suriah untuk pertama kalinya ikut ambil bagian dalam latihan militer internasional EFES yang diselenggarakan oleh Turki. Partisipasi ini menjadi salah satu tanda paling jelas bahwa hubungan antara Damaskus dan Ankara kini memasuki fase baru setelah bertahun-tahun berada dalam ketegangan akibat kepemimpinan rezim Bashar Assad di Suriah.
Latihan militer EFES sendiri merupakan salah satu latihan perang terbesar yang rutin digelar Angkatan Bersenjata Turki di wilayah Aegean. Tahun ini, sekitar 50 negara ikut terlibat dalam latihan tersebut, termasuk negara-negara dari Eropa, Asia, Timur Tengah, dan Afrika.
Menurut laporan Kantor Berita Arab Suriah SANA, unit Tentara Arab Suriah ikut serta dalam berbagai simulasi operasi militer modern bersama pasukan internasional lainnya.
Latihan tersebut melibatkan operasi darat, laut, dan udara, termasuk manuver lapangan, latihan amfibi, tembak langsung, koordinasi komando, penggunaan drone tempur, hingga sistem pertahanan udara modern.
Pemerintah Suriah menyebut keikutsertaan ini sebagai bagian dari kerja sama militer dan upaya meningkatkan kemampuan profesional Tentara Suriah melalui pengenalan metode peperangan modern dan sistem koordinasi gabungan.
Bagi banyak pengamat, partisipasi Tentara Suriah dalam latihan militer Turki bukan sekadar agenda teknis biasa. Langkah ini memiliki makna politik yang cukup besar karena terjadi setelah bertahun-tahun hubungan Damaskus dan Ankara berada di titik paling buruk sejak konflik Suriah pecah pada 2011.
Selama perang berlangsung, Turki menjadi salah satu negara yang paling keras menentang pemerintahan Bashar al-Assad. Ankara juga mendukung berbagai kelompok oposisi Suriah dan memiliki kehadiran militer langsung di wilayah utara Suriah.
Namun sejak terbentuknya pemerintahan baru Suriah di bawah kepemimpinan Ahmad al-Sharaa pada 2025, hubungan kedua negara perlahan mulai berubah.
Dalam beberapa bulan terakhir, komunikasi politik dan keamanan antara Damaskus dan Ankara terlihat semakin terbuka. Kedua negara sama-sama memiliki kepentingan besar untuk menjaga stabilitas kawasan, terutama terkait isu perbatasan, kelompok bersenjata, dan ancaman keamanan regional.
Keikutsertaan Tentara Suriah dalam latihan EFES juga dipandang sebagai simbol bahwa Suriah mulai kembali diterima dalam kerja sama regional dan internasional setelah bertahun-tahun mengalami isolasi akibat perang.
Suriah Mulai Bersiap Hadapi Ancaman Israel
Latihan EFES tahun ini mendapat perhatian besar karena menampilkan berbagai teknologi militer terbaru, termasuk sistem drone tempur, operasi gabungan multi-domain, dan sistem pertahanan udara berlapis yang menjadi ciri peperangan modern.
Bagi Tentara Suriah, keterlibatan dalam latihan seperti ini dianggap penting untuk meningkatkan kemampuan operasional setelah lebih dari satu dekade perang yang menguras sumber daya militer negara tersebut.
Selain membangun kemampuan teknis, latihan gabungan ini juga memberi kesempatan bagi pasukan Suriah untuk memperkuat koordinasi dengan militer negara lain dan memahami pola operasi modern yang digunakan dalam konflik masa kini.
Di media sosial Suriah, banyak pihak menyambut positif partisipasi tersebut. Sebagian melihatnya sebagai tanda bahwa Suriah mulai keluar dari isolasi dan kembali aktif dalam hubungan regional.
Banyak pengamat juga menilai langkah ini menunjukkan perubahan besar dalam kebijakan luar negeri pemerintahan Ahmad al-Sharaa yang kini lebih fokus pada stabilitas, diplomasi regional, dan pembangunan hubungan strategis dengan negara-negara sekitar.

Hubungan Suriah dan Turki sendiri selama bertahun-tahun menjadi salah satu isu paling rumit di Timur Tengah. Ketegangan antara kedua negara sempat memuncak akibat konflik di Idlib, kehadiran militer Turki di Suriah utara, serta dukungan Ankara terhadap kelompok oposisi bersenjata.
Namun perubahan situasi regional, meningkatnya ancaman keamanan bersama, dan kebutuhan stabilitas ekonomi membuat kedua negara perlahan mulai membuka jalur komunikasi baru.
Partisipasi Tentara Suriah dalam latihan EFES dipandang sebagai salah satu hasil nyata dari perubahan tersebut.
Meski masih ada banyak persoalan yang belum terselesaikan antara Damaskus dan Ankara, langkah ini memperlihatkan bahwa kedua pihak kini mulai bergerak menuju hubungan yang lebih pragmatis dan terbuka dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Bagi pemerintahan Ahmad al-Sharaa, keterlibatan dalam latihan militer internasional seperti EFES juga menjadi pesan bahwa Suriah ingin kembali tampil sebagai negara yang aktif dalam kerja sama regional, bukan lagi hanya dikenal sebagai medan perang berkepanjangan.
Latihan ini juga dipandang sebagai bagian dari persiapan besar Suriah menghadapi ancaman keamanan regional, terutama serangan-serangan Israel yang selama bertahun-tahun berulang kali menyerang wilayah Suriah dan dianggap melanggar kedaulatan negara tersebut.
Dengan mempelajari teknologi tempur modern, penggunaan drone, hingga sistem pertahanan udara terbaru, Tentara Suriah dinilai sedang membangun kemampuan baru untuk menghadapi tantangan militer di masa depan.
Perkembangan ini disebut menjadi salah satu hal yang mulai diperhatikan dan dikhawatirkan Israel. Setelah bertahun-tahun Suriah melemah akibat perang internal, Damaskus kini perlahan mulai membangun kembali kekuatan militernya serta memperluas hubungan strategis dengan negara-negara regional seperti Turki.
Banyak pengamat melihat bahwa Suriah di era Ahmad al-Sharaa tidak lagi hanya fokus pada pemulihan dalam negeri, tetapi juga mulai menata ulang posisi geopolitiknya dan membangun fondasi kekuatan baru di kawasan Timur Tengah. (ahmad/andalusmedia.id)














