Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa kembali menjadi sorotan setelah mengunggah foto hadiah dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupa parfum bermerek “Trump Victory” dan surat bertanda tangan resmi Gedung Putih.
Unggahan tersebut dipublikasikan melalui akun resmi Ahmad al-Sharaa di platform X dan dengan cepat menyebar luas di media sosial Arab. Dalam foto yang diunggah, terlihat dua botol parfum berwarna emas bertuliskan “Trump Victory” disertai kartu pribadi dari Donald Trump.
Dalam pesan itu, Trump menulis dengan nada santai bahwa semua orang membicarakan foto pertemuan mereka ketika ia memberikan parfum tersebut kepada Ahmad al-Sharaa, “untuk berjaga-jaga jika Anda kehabisan.”
Menanggapi hadiah tersebut, Ahmad al-Sharaa menulis kalimat diplomatis yang kemudian menjadi viral di akun X pribadinya.
“Sebagian pertemuan meninggalkan kesan, tetapi pertemuan kita meninggalkan aroma yang abadi,” tulis Presiden Suriah tersebut sambil mengucapkan terima kasih kepada Trump atas “kemurahan hati” dan “hadiah berharga” yang diberikan kepadanya.
Bagi sebagian orang, unggahan itu terlihat sederhana dan tidak lebih dari gestur diplomatik biasa. Namun di dunia Arab, terutama di tengah agresi Israel atas Gaza dan dukungan Amerika Serikat terhadap Israel, unggahan tersebut memicu gelombang kritik dan perdebatan yang cukup besar.
Sebagian aktivis menilai Ahmad al-Sharaa terlalu menunjukkan kedekatan personal dengan Donald Trump. Mereka mempertanyakan mengapa hubungan semacam itu dipublikasikan secara terbuka di saat rakyat Gaza masih menghadapi penderitaan akibat agresi yang didukung penuh oleh Washington.
Namun di sisi lain, banyak pengamat justru membela langkah Ahmad al-Sharaa. Mereka menilai kemarahan terhadap unggahan parfum tersebut terlalu emosional dan tidak melihat konteks diplomasi yang lebih luas.
Diplomasi Ahmad al-Sharaa dan Pendekatan terhadap Trump
Menurut pandangan para pengamat, hadiah parfum maupun unggahan tersebut tidak mengandung sesuatu yang haram atau melanggar syariat. Menurut mereka, yang sebenarnya dipermasalahkan sebagian orang hanyalah gaya diplomasi “simbolik” dan “personal” antara Ahmad al-Sharaa dengan Donald Trump.
Padahal, menurut mereka, hubungan yang terlihat “akrab” itu justru membantu Suriah mendapatkan sejumlah keuntungan strategis dalam beberapa bulan terakhir.
Pendekatan tersebut turut membantu mengurangi tekanan militer Israel terhadap Suriah, membuka peluang pencabutan sanksi, menarik investasi asing, hingga memengaruhi kebijakan Amerika Serikat terhadap kelompok Kurdi SDF/Qasad.
Mereka juga menilai bahwa Ahmad al-Sharaa memahami karakter Donald Trump yang dikenal memiliki ego besar dan lebih berpikir layaknya pengusaha dibanding politisi konvensional.
Karena itu, Ahmad al-Sharaa sengaja menggunakan pendekatan komunikasi yang fleksibel dan personal demi membuka jalur hubungan yang menguntungkan Suriah.
“Presiden al-Sharaa memahami bagaimana berbicara dengan Trump dan memainkan nada yang tepat,” tulis salah satu komentator Suriah yang membela unggahan tersebut.
Meski demikian, tidak semua tindakan Ahmad al-Sharaa selalu benar atau penuh “kelicikan politik”. Mereka mengatakan dukungan terhadap diplomasi ini hanya didasarkan pada hasil nyata yang mulai terlihat dalam hubungan luar negeri Suriah.
Sebagian pengamat juga menilai unggahan tersebut mengandung pesan politik terselubung kepada banyak pihak di kawasan, termasuk Irak, Hizbullah, sisa kelompok SDF di Hasakah, hingga berbagai aktor regional lain.
Pesan itu ingin menunjukkan bahwa Suriah kini memiliki jalur komunikasi langsung dengan Amerika Serikat dan Gedung Putih, sesuatu yang tidak dimiliki banyak pemimpin kawasan.
Di tengah kontroversi tersebut, sebagian kalangan Islamis juga membandingkan situasi ini dengan sejarah Islam klasik. Mereka mengingatkan bahwa dalam banyak catatan sejarah, para pemimpin Islam tetap melakukan diplomasi dan pertukaran hadiah bahkan dengan musuh mereka.
Nama Salahuddin al-Ayyubi sering disebut dalam perdebatan ini. Banyak orang memuji diplomasi Salahuddin ketika membaca kisah-kisah Perang Salib, termasuk pertukaran hadiah dengan lawan politiknya. Namun menurut mereka, standar berbeda justru diterapkan ketika diplomasi modern dilakukan oleh pemimpin Muslim masa kini.
Meski begitu, para pengamat ini mengakui bahwa rakyat Gaza tetap memiliki luka mendalam akibat kebijakan Amerika Serikat dan dukungannya terhadap Israel.
Karena itu, mereka menegaskan bahwa pembelaan terhadap langkah diplomatik Suriah bukan berarti mengabaikan penderitaan Palestina. Sebaliknya, mereka meminta publik memahami bahwa negara-negara di kawasan saat ini berada dalam situasi yang rumit dan sering kali dipaksa mengambil jalur diplomasi yang kompleks demi menjaga stabilitas dan kepentingan nasional.
Hingga kini belum ada pengumuman resmi mengenai perubahan besar hubungan Suriah-Amerika Serikat. Namun unggahan parfum tersebut memperlihatkan satu hal yang jelas: pemerintahan Ahmad al-Sharaa sedang membangun hubungan yang jauh lebih terbuka dengan Washington dibanding periode-periode sebelumnya.
Bagi pendukungnya, itu adalah bentuk diplomasi realistis yang diperlukan Suriah untuk keluar dari isolasi dan kehancuran pascaperang. Sementara bagi para pengkritiknya, kedekatan simbolik dengan Donald Trump tetap dianggap problematis selama perang Gaza masih berlangsung dan Amerika Serikat terus mendukung Israel.
Perdebatan itu kemungkinan akan terus berlanjut. Namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri, Ahmad al-Sharaa kini berhasil menjadikan setiap langkah diplomasinya sebagai perhatian besar dunia Arab dan internasional. (ahmad/andalusmedia.id)














