Pemilu legislatif Israel dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026. Kontestasi ini akan menjadi ujian besar bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang kembali mencalonkan diri setelah menghadapi tekanan politik akibat perang Gaza, krisis keamanan, hingga perpecahan di dalam negeri.
Sesuai ketentuan hukum Israel, masa jabatan Knesset saat ini akan berakhir pada 17 Juli 2026. Penetapan jadwal pemilu membuka peluang bagi pemerintahan Netanyahu menjadi salah satu koalisi yang mampu menyelesaikan masa jabatan penuh selama empat tahun.
Meski begitu, jalan Netanyahu untuk kembali berkuasa diperkirakan tidak akan mudah. Berbagai survei dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan dukungan terhadap pemimpin Partai Likud itu terus mengalami fluktuasi, sementara sejumlah tokoh oposisi mulai memperoleh kepercayaan publik.
Netanyahu yang kini berusia 76 tahun tetap optimistis mampu mempertahankan kekuasaan. Ia bahkan menyatakan ingin membentuk pemerintahan nasional yang lebih luas dan tidak hanya bergantung pada koalisi sayap kanan seperti periode sebelumnya.
Gadi Eisenkot Muncul Sebagai Penantang Terkuat
Salah satu nama yang paling banyak diperbincangkan adalah mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Gadi Eisenkot.
Popularitas Eisenkot meningkat setelah keluarganya menjadi korban perang Gaza. Putranya, Gal Eisenkot, gugur dalam pertempuran, disusul dua keponakannya yang juga meninggal dalam konflik tersebut. Peristiwa itu membuat namanya semakin dikenal di tengah masyarakat Israel.
Eisenkot memiliki pengalaman panjang di militer sebelum memasuki dunia politik. Ia pernah menjadi sekretaris militer bagi mantan Perdana Menteri Ehud Barak dan Ariel Sharon, kemudian bergabung dengan Benny Gantz pada 2022.
Pada 2025, Eisenkot mendirikan Partai Yashar (Lurus). Sejumlah survei bahkan menempatkannya sebagai kandidat yang memiliki tingkat elektabilitas lebih tinggi dibanding Netanyahu.
Naftali Bennett Siap Comeback
Mantan Perdana Menteri Naftali Bennett juga diperkirakan menjadi pesaing serius.
Bennett dikenal sebagai tokoh yang berhasil mengakhiri dominasi Netanyahu pada 2021 setelah membentuk koalisi lintas partai. Meski pemerintahannya hanya bertahan sekitar satu tahun, banyak pemilih menilai Bennett memiliki gaya kepemimpinan yang lebih pragmatis.
Dalam isu keamanan, Bennett tetap dikenal memiliki sikap keras terhadap Palestina. Namun sebagian kalangan melihat pendekatannya lebih fleksibel dalam mengelola pemerintahan dibanding Netanyahu.
Baca Artikel Lainnya: Aturan Baru Pemilu Mahmoud Abbas Picu Polemik, Masa Depan Politik Palestina Kembali Dipertanyakan
Yair Lapid Masih Jadi Andalan Oposisi
Nama lain yang tak bisa diabaikan adalah Yair Lapid, pemimpin Partai Yesh Atid.
Lapid pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan, Menteri Luar Negeri, hingga Perdana Menteri Israel pada 2022 melalui sistem rotasi pemerintahan.
Selama beberapa tahun terakhir, ia menjadi tokoh utama yang memimpin kritik terhadap reformasi sistem peradilan yang diusung pemerintahan Netanyahu. Sikap tersebut membuat Lapid memperoleh dukungan dari kelompok liberal dan masyarakat perkotaan.
Lieberman Tetap Jadi Ancaman
Mantan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman juga diprediksi kembali meramaikan persaingan.
Pendiri Partai Yisrael Beiteinu itu pernah menjadi sekutu dekat Netanyahu sebelum akhirnya berbalik menjadi salah satu pengkritik paling keras.
Lieberman secara konsisten menentang berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap terlalu mengakomodasi komunitas Yahudi ultra-Ortodoks (Haredi). Ia terus mendorong pemberlakuan wajib militer bagi kalangan Haredi sebagai bagian dari agenda politiknya.
Kritik dari Tokoh Agama
Tantangan Netanyahu tidak hanya datang dari lawan politik, tetapi juga dari kalangan agama.
Mantan Rabi Agung Israel, Yitzhak Yosef, dikabarkan mengkritik Netanyahu karena dianggap tidak memenuhi janji terkait pembebasan pelajar sekolah agama dari kewajiban wajib militer.
Dalam laporan Radio Militer Israel, Yosef bahkan disebut membuka peluang memberikan dukungan kepada Partai Yashar yang dipimpin Gadi Eisenkot dibanding kembali mendukung Partai Likud.
Di sisi lain, Partai Likud dijadwalkan menggelar pemilihan pendahuluan pada 4 Agustus 2026 guna menetapkan daftar calon anggota Knesset sekaligus mengukuhkan kepemimpinan partai menjelang pemilu.
Dengan banyaknya tokoh yang siap bertarung, pemilu legislatif Israel tahun ini diperkirakan menjadi salah satu yang paling menentukan dalam sejarah politik modern negara tersebut. Hasilnya bukan hanya menentukan siapa yang akan memimpin pemerintahan berikutnya, tetapi juga akan memengaruhi arah kebijakan Israel terkait perang, keamanan nasional, dan hubungan luar negeri di tengah dinamika Timur Tengah yang terus berubah. (haidar/andalusmedia.id)














