Otoritas keamanan Lebanon dilaporkan tengah memantau secara ketat sekitar 200 mantan perwira yang sebelumnya bertugas di bawah rezim Assad. Mereka disebut tersebar di sejumlah wilayah sensitif di Lebanon setelah melarikan diri dari Suriah pasca runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad.
Dilansir dari Al Arabiya Net pada Kamis, 14 Mei 2026, sumber keamanan mengungkap bahwa nama-nama para mantan perwira itu kini masuk dalam daftar pemantauan intelijen Lebanon. Mereka diawasi sambil menunggu penyelesaian prosedur hukum dan keamanan yang sedang dibahas antara Beirut dan Damaskus.
Laporan tersebut kembali menyoroti bagaimana sisa-sisa jaringan rezim Assad masih berusaha bertahan di luar Suriah, terutama melalui hubungan lama dengan kelompok-kelompok sekutu di Lebanon.
Masuk Lewat Jalur Ilegal
Menurut sumber keamanan yang dikutip media tersebut, sebagian besar mantan perwira rezim Assad memasuki Lebanon melalui jalur penyelundupan dan perbatasan tidak resmi di kawasan Bekaa dan Lebanon Utara.
Mereka disebut menyeberang secara bertahap setelah jatuhnya Bashar al-Assad dan runtuhnya struktur militer lama Suriah. Banyak dari mereka memilih melarikan diri karena khawatir ditangkap dalam operasi pemburuan terhadap tokoh-tokoh militer rezim Assad yang diduga terlibat dalam pemboman, penahanan massal, dan operasi keamanan selama perang Suriah.
Baca Artikel Lainnya: Pemerintah Baru Suriah Tuduh Hizbullah Lindungi Penjahat Rezim Assad di Lebanon
Sumber yang sama menyebut bahwa aparat Lebanon kini menempatkan “Daftar 200” di bawah pengawasan penuh. Langkah itu dilakukan karena adanya kekhawatiran bahwa sebagian mantan perwira masih memiliki jaringan keamanan dan kemampuan koordinasi militer.
Laporan intelijen bahkan memperingatkan adanya upaya sebagian “sisa unsur militer” rezim Assad untuk membangun kembali struktur mereka dengan tujuan mengganggu stabilitas Suriah dari wilayah Lebanon.
Tersebar di Bekaa hingga Jabal Mohsen
Informasi yang diperoleh Al Arabiya Net menunjukkan bahwa para mantan perwira tersebut kini tersebar di beberapa wilayah yang dikenal sensitif secara politik dan keamanan.
Sebagian besar disebut berada di kawasan Bekaa dan Lebanon Utara. Sementara lainnya dilaporkan menetap di Jabal Mohsen, Tripoli, serta sejumlah desa di Provinsi Akkar, termasuk wilayah perbatasan Hikr al-Dhahiri.
Selain itu, beberapa mantan perwira rezim Assad juga disebut berada di desa-desa di Provinsi Baalbek-Hermel di Lebanon timur.
Baca Artikel Lainnya: Hizbullah Sembunyikan Ratusan Perwira Rezim Assad di Lebanon
Wilayah-wilayah tersebut selama ini dikenal sebagai area yang memiliki hubungan erat dengan sekutu lama Damaskus, baik dari kalangan komunitas Alawi maupun kelompok bersenjata yang selama perang Suriah mendukung pemerintahan Assad.
Menurut sumber keamanan, para mantan perwira itu sengaja memilih wilayah yang dianggap aman dan memiliki jaringan sosial maupun politik yang masih loyal terhadap rezim Assad.
Kekhawatiran Aktivitas Jaringan Lama
Keberadaan ratusan mantan perwira itu memicu kekhawatiran baru di kalangan aparat keamanan Lebanon. Intelijen Lebanon disebut khawatir sebagian dari mereka masih menyimpan akses terhadap jaringan persenjataan, komunikasi, dan mantan anggota militer yang dulu aktif di bawah rezim Assad.
Beberapa laporan juga menyebut adanya kekhawatiran bahwa wilayah Lebanon dapat digunakan sebagai titik konsolidasi bagi sisa-sisa aparat rezim lama yang berusaha menghindari penangkapan di Suriah.
Pasca jatuhnya Bashar al-Assad, pemerintah baru Suriah memang meningkatkan operasi pencarian terhadap mantan pejabat keamanan, pilot militer, serta tokoh-tokoh intelijen yang dianggap terlibat dalam berbagai pelanggaran selama perang.
Banyak nama yang sebelumnya menjadi bagian penting dari struktur keamanan rezim Assad kini dilaporkan berpindah-pindah lokasi untuk menghindari penangkapan.
Lebanon dan Suriah Siapkan Kesepakatan
Di tengah situasi tersebut, sumber keamanan mengungkap bahwa Lebanon dan Suriah sedang mempersiapkan kesepakatan resmi terkait penyerahan para mantan perwira rezim Assad.
Kesepakatan itu disebut sedang dibahas oleh kementerian dalam negeri dan kementerian kehakiman kedua negara. Tujuannya adalah membangun mekanisme hukum dan keamanan agar proses penyerahan dapat dilakukan secara resmi.
Meski belum ada pengumuman terbuka dari pemerintah Lebanon maupun Suriah, sumber tersebut menyebut pembicaraan berlangsung cukup serius.
Jika kesepakatan itu benar-benar diterapkan, maka ratusan mantan perwira rezim Assad yang saat ini berada di Lebanon berpotensi menghadapi proses hukum dan investigasi lebih lanjut di Suriah.
Perkembangan ini sekaligus memperlihatkan bahwa dampak runtuhnya rezim Assad belum sepenuhnya berakhir. Jaringan lama pemerintahan Bashar al-Assad masih tersebar di berbagai wilayah, sementara negara-negara sekitar mulai memperketat pengawasan terhadap pergerakan para mantan pejabat dan perwira militernya. (ahmad/andalusmedia.id)














