Rezim Assad akhirnya runtuh setelah lebih dari 14 tahun perang yang menghancurkan Suriah. Kejatuhan Rezim Assad pada 8 Desember 2024 menjadi titik sejarah besar yang mengubah arah politik Timur Tengah. Namun kemenangan itu bukan akhir perjuangan. Bagi Ahmad Al Sharaa dan Hayat Tahrir al Sham (HTS), tantangan sebenarnya justru baru dimulai sekarang, memimpin negara yang hancur, memulihkan stabilitas, dan meyakinkan jutaan pengungsi Suriah bahwa mereka punya rumah untuk kembali.
Selama bertahun-tahun, Suriah berubah menjadi simbol kehancuran dunia Arab modern. Rezim Assad meninggalkan kota-kota runtuh, ekonomi lumpuh, jutaan korban jiwa, dan gelombang pengungsi terbesar dalam sejarah modern Timur Tengah. Lebih dari 6 juta warga Suriah hidup di luar negeri sebagai pengungsi, sementara jutaan lainnya terlantar di dalam negeri. Kini, setelah rezim Assad jatuh, dunia mulai bertanya: apakah Suriah benar-benar memasuki era baru?
Ahmad Al Sharaa kini berada di pusat harapan sekaligus tekanan besar. HTS memang berhasil menjatuhkan rezim Assad, sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap mustahil. Tetapi menjatuhkan pemerintahan berbeda jauh dengan membangun negara. Dunia kini mengawasi apakah Ahmad Al Sharaa mampu mengubah kemenangan militer menjadi stabilitas politik yang nyata.
Tantangan terbesar pemerintahan baru Suriah adalah mengembalikan rasa aman. Sebab bagi jutaan pengungsi Suriah, alasan utama mereka belum pulang bukan sekadar soal politik, tetapi ketakutan akan masa depan yang belum jelas. Banyak kota hancur total akibat perang era rezim Assad. Rumah sakit rusak, sekolah lumpuh, listrik terbatas, dan lapangan kerja hampir tidak ada. Dalam kondisi seperti itu, sulit mengharapkan pengungsi kembali hanya karena rezim lama sudah tumbang.
Di sinilah peran Ahmad Al Sharaa menjadi sangat penting. Jika HTS ingin diakui sebagai pemerintahan sah Suriah, mereka harus membuktikan mampu menjaga keamanan seluruh kelompok masyarakat Suriah, termasuk minoritas agama dan etnis yang selama ini hidup dalam ketakutan akibat perang berkepanjangan.
Dunia internasional juga masih menunggu langkah konkret dari pemerintahan baru Damaskus. Hayat Tahrir al Sham sebelumnya masih masuk daftar organisasi teroris di sejumlah negara Barat. Karena itu, Ahmad Al Sharaa menghadapi tugas diplomatik besar, membangun kepercayaan internasional tanpa kehilangan dukungan internal. Ia harus menunjukkan bahwa Suriah baru bukan negara balas dendam, tetapi negara rekonsiliasi dan pembangunan.
Meski penuh tantangan, jatuhnya rezim Assad membuka peluang besar bagi masa depan Suriah. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, rakyat Suriah memiliki kesempatan membangun ulang negara mereka tanpa dominasi keluarga Assad yang selama puluhan tahun memerintah dengan tangan besi.
Ahmad Al Sharaa juga memahami bahwa stabilitas ekonomi akan menjadi kunci utama keberhasilan pemerintahannya. Pengungsi Suriah tidak akan pulang jika tidak ada pekerjaan, rumah, dan layanan dasar. Karena itu, pemerintah baru perlu fokus pada rekonstruksi infrastruktur, membuka akses bantuan internasional, dan menarik investasi dari negara-negara regional.
Sejumlah negara Arab mulai menunjukkan sikap lebih terbuka terhadap pemerintahan baru Suriah. Jika Ahmad Al Sharaa mampu menjaga stabilitas keamanan dan membangun pemerintahan yang lebih inklusif, peluang Suriah keluar dari isolasi internasional akan semakin besar. Ini penting karena pembangunan kembali Suriah membutuhkan dana raksasa yang mustahil ditanggung sendiri setelah kehancuran panjang era rezim Assad.
Yang juga tidak kalah penting adalah membangun kembali kepercayaan rakyat Suriah sendiri. Generasi muda Suriah tumbuh di tengah perang, pengungsian, dan trauma panjang. Banyak anak Suriah bahkan tidak pernah merasakan hidup normal di negara mereka sendiri. Pemerintahan baru harus mampu menghadirkan harapan nyata, bukan hanya kemenangan simbolik di medan perang.
Pemulangan pengungsi hanya akan berhasil jika Suriah benar-benar stabil dan dunia internasional mendukung proses rekonstruksi secara serius. Artinya, keberhasilan Ahmad Al Sharaa tidak hanya diukur dari keberhasilannya menjatuhkan rezim Assad, tetapi dari kemampuannya membangun perdamaian jangka panjang.
Hari ini, Suriah berada di persimpangan sejarah. Rezim Assad sudah jatuh, tetapi masa depan negara itu masih belum pasti. Ahmad Al Sharaa dan HTS kini memikul tanggung jawab besar yang jauh lebih sulit daripada perang, menyatukan negara yang terpecah, menenangkan rakyat yang trauma, dan membuka jalan agar jutaan pengungsi Suriah bisa benar-benar pulang dengan aman dan bermartabat. (ahmad/andalusmedia.id)