Pengadilan pertama akhirnya digelar kepada para kriminal Rezim Assad, pengadilan terbuka ini digelar di Damaskus terhadap pejabat senior rezim Assad yang menjadi pemicu awal revolusi Suriah tahun 2011.
Tokoh yang duduk di kursi terdakwa itu adalah Atef Najib, mantan kepala Keamanan Politik di Daraa sekaligus sepupu Bashar al-Assad. Ia dikenal luas sebagai salah satu figur kepala cabang keamanan Suriah yang dikenal bengis dan tak punya perasaan.
Suasana di Istana Kehakiman Damaskus pada (26/5) berlangsung penuh emosi. Keluarga korban memenuhi ruang sidang sambil meneriakkan slogan revolusi Suriah yang dulu menggema di jalan-jalan Daraa. Sebagian menangis ketika melihat Atef Najib dibawa masuk mengenakan seragam tahanan hitam-coklat dan borgol di tangannya.
Bagi banyak warga Suriah, pemandangan itu terasa nyaris mustahil terjadi beberapa tahun lalu. Di bawah rezim Assad, pengadilan sering dipakai untuk menghukum aktivis, demonstran, dan lawan politik. Kini, ruang sidang yang dahulu menjadi ruang ketakutan justru dipakai untuk mengadili tokoh penting rezim Assad sendiri.
Kasus Atef Najib memiliki makna simbolik yang sangat besar karena namanya terkait langsung dengan peristiwa yang memicu revolusi Suriah pada Maret 2011. Saat itu, belasan remaja di Daraa ditangkap karena menulis grafiti anti-pemerintah di dinding sekolah, terinspirasi oleh gelombang Musim Semi Arab yang menyapu Timur Tengah.
Remaja-remaja itu kemudian disiksa aparat keamanan Suriah. Ketika keluarga mereka datang meminta pembebasan anak-anak tersebut, Atef Najib melontarkan hinaan yang memicu kemarahan besar warga Daraa. Ucapan itu kemudian menyulut demonstrasi massal yang berkembang menjadi revolusi nasional melawan rezim Assad.
Demonstrasi damai tersebut dibalas dengan kekerasan brutal oleh aparat keamanan rezim Assad. Penembakan terhadap demonstran di Daraa menjadi titik awal revolusi Suriah yang berlangsung lebih dari satu dekade dan menewaskan jutaan orang.
Pengadilan Atef Najib bukan sekadar sidang biasa. Ia dianggap sebagai pengadilan pertama terhadap pelaku utama yang memicu revolusi Suriah sekaligus membuka jalan menuju proses keadilan yang lebih luas terhadap kejahatan rezim Assad.
Persidangan ini juga menjadi pengadilan terbuka pertama di Suriah terhadap pejabat era Bashar al-Assad sejak pemerintahan lama runtuh. Selain Atef Najib, pengadilan turut membacakan dakwaan terhadap Bashar al-Assad dan adiknya Maher al-Assad secara in absentia atau tanpa kehadiran terdakwa karena keduanya berada di Rusia.
Pemerintahan baru Suriah di bawah Presiden sementara Ahmed al-Sharaa menyebut pengadilan ini sebagai bagian dari proses keadilan transisional untuk mengadili kejahatan rezim Assad. Pemerintah baru juga mulai menangkap sejumlah mantan pejabat keamanan yang diduga terlibat dalam penyiksaan, pembantaian, dan pembunuhan warga sipil selama perang Suriah.
Namun proses ini juga memunculkan kritik. Sejumlah aktivis HAM dan pengacara menilai sistem hukum Suriah belum siap menangani kasus kejahatan perang skala besar. Mereka mengatakan hukum Suriah saat ini belum memiliki aturan khusus terkait kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang.
Pengacara HAM Suriah, Anwar al-Bunni, memperingatkan bahwa pengadilan seperti ini bisa kehilangan makna jika hanya dijadikan simbol politik tanpa reformasi hukum yang serius. Ia meminta pemerintah membentuk sistem peradilan khusus dengan hakim berpengalaman untuk menangani kejahatan era rezim Assad.
Meski begitu, bagi rakyat Suriah yang kehilangan keluarga akibat perang, persidangan ini sebagai langkah besar. Banyak warga percaya kejatuhan rezim Assad tidak akan berarti apa-apa jika tokoh-tokoh yang bertanggung jawab atas penyiksaan dan pembunuhan tidak pernah diadili.
Di luar gedung pengadilan, keluarga korban membawa foto kerabat mereka yang hilang atau tewas selama revolusi. Sebagian datang dari Daraa, kota tempat revolusi Suriah pertama kali meledak. Mereka berharap pengadilan Atef Najib menjadi awal dari pengungkapan seluruh kejahatan yang dilakukan aparat rezim Assad selama bertahun-tahun.
Persidangan ini juga menunjukkan perubahan besar dalam politik Suriah pasca-Assad. Jika dahulu pejabat keamanan dianggap tidak tersentuh, kini salah satu tokoh paling ditakuti pada awal revolusi justru berdiri di balik jeruji besi di hadapan rakyat Suriah sendiri.
Meski jalan menuju keadilan masih panjang dan penuh tantangan, pengadilan terbuka terhadap kriminal rezim Assad ini telah menjadi simbol penting bahwa era impunitas di Suriah mulai retak. Bagi banyak korban perang, inilah pertama kalinya negara benar-benar memperlihatkan bahwa pelaku kejahatan negara dapat dimintai pertanggungjawaban di depan hukum. (ahmad/andalusmedia.id)