Harapan ribuan pengungsi asal pedesaan Provinsi Sweida untuk kembali ke kampung halaman mereka kembali mengemuka setelah digelarnya aksi protes di Kota Sweida pada Sabtu (20/6/2026). Para peserta aksi menuntut langkah konkret dari pihak berwenang untuk merealisasikan kepulangan mereka setelah hampir satu tahun hidup dalam pengungsian akibat peristiwa kekerasan yang mengguncang wilayah tersebut pada Juli 2025.
Dilansir dari Syria TV, aksi berlangsung di sekitar Bundaran Thala dan diikuti oleh warga yang berasal dari sejumlah desa di wilayah barat dan utara Sweida. Dalam aksi tersebut, para pengungsi menyampaikan ultimatum selama lima hari kepada Dewan Administrasi Sweida dan milisi Garda Nasional (National Guard) agar segera memulai proses nyata yang memungkinkan mereka kembali ke rumah dan lahan pertanian yang telah mereka tinggalkan.
Para demonstran menegaskan bahwa kehidupan di pengungsian semakin sulit. Selain kehilangan rumah dan sumber penghasilan, mereka juga harus menghadapi tingginya biaya hidup yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut para peserta aksi, banyak keluarga pengungsi saat ini tinggal di rumah-rumah sewaan di Kota Sweida dengan biaya yang cukup besar. Harga sewa rumah disebut berkisar antara 100 hingga 200 dolar AS per bulan, angka yang dianggap memberatkan bagi sebagian besar keluarga yang kehilangan mata pencaharian akibat konflik.
Pengungsi Kehilangan Kesabaran
Dalam berbagai orasi yang disampaikan selama aksi berlangsung, para pengungsi mengaku mulai kehilangan kesabaran karena belum melihat adanya perkembangan signifikan terkait proses pemulangan.
Mereka juga mengkritik pihak-pihak yang selama ini disebut sebagai “negara-negara penjamin” yang dianggap gagal menghadirkan solusi nyata bagi para korban pengungsian.
Menurut laporan Suwayda 24 yang dikutip Syria TV, banyak warga menilai berbagai janji yang pernah disampaikan selama setahun terakhir belum menghasilkan perubahan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sebagian pengungsi bahkan menyatakan bahwa kondisi mereka saat ini semakin sulit dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Selain persoalan ekonomi, banyak keluarga juga mengalami tekanan sosial dan psikologis akibat ketidakpastian mengenai masa depan mereka.
“Kami ingin kembali ke rumah kami. Kami tidak ingin terus hidup sebagai pengungsi di tanah kami sendiri,” menjadi salah satu pesan yang berulang kali disampaikan para peserta aksi.
Garda Nasional Janjikan Kepulangan Mulai Juli
Menjelang berakhirnya aksi duduk tersebut, sejumlah perwakilan Garda Nasional mendatangi lokasi demonstrasi untuk berdialog dengan para pengungsi.
Dalam pertemuan itu, para pemimpin milisi menyampaikan bahwa proses pemulangan warga ke desa-desa mereka direncanakan mulai berjalan pada Juli 2026.
Mereka menjelaskan bahwa langkah tersebut berkaitan dengan sejumlah kesepahaman yang disebut telah dicapai dengan pihak Israel. Namun hingga kini tidak ada rincian resmi yang dipublikasikan mengenai isi kesepahaman tersebut maupun mekanisme pelaksanaannya.
Pernyataan itu sempat memberikan sedikit harapan bagi sebagian peserta aksi. Namun banyak warga tetap merespons dengan hati-hati karena berbagai janji serupa sebelumnya belum pernah benar-benar diwujudkan.
Sejumlah pengungsi mengaku baru akan percaya apabila melihat langkah nyata di lapangan, termasuk pembukaan akses ke desa-desa mereka dan jaminan keamanan untuk kembali menetap.
Baca Artikel Lainnya: ISIS Klaim Tewaskan Dua Tentara Suriah di Manbij, Ancaman Keamanan Kembali Jadi Sorotan
Kritik terhadap Kepemimpinan Lokal
Selain menuntut pemulangan, para demonstran juga menyampaikan kritik terhadap sejumlah pihak yang dianggap bertanggung jawab atas lambannya proses penyelesaian masalah pengungsi.
Laporan Suwayda 24 menyebut sebagian warga menilai kepemimpinan Garda Nasional dan kantor keamanan yang memiliki hubungan dengan Salman al-Hijri belum berhasil memenuhi berbagai komitmen yang pernah diberikan kepada masyarakat.
Kritik tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan publik terhadap otoritas lokal yang selama ini berperan dalam mengelola situasi pasca-konflik di Sweida.
Dampak Besar Konflik Sweida
Aksi protes ini terjadi hanya beberapa hari setelah muncul laporan investigasi internasional yang mengungkap besarnya dampak tragedi yang terjadi di Sweida pada Juli 2025.
Menurut laporan tersebut, lebih dari 1.700 orang dilaporkan tewas selama gelombang kekerasan yang melanda wilayah itu. Selain korban jiwa, ratusan ribu warga juga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan di daerah lain yang dianggap lebih aman.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu krisis kemanusiaan terbesar yang pernah dialami wilayah Sweida dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga saat ini, isu pemulangan pengungsi, rekonsiliasi sosial, dan pemulihan kehidupan masyarakat masih menjadi tantangan utama yang dihadapi wilayah tersebut.
Banyak pengamat menilai keberhasilan proses pemulangan akan menjadi ujian penting bagi stabilitas Sweida ke depan. Tanpa solusi yang jelas, ketidakpuasan masyarakat berpotensi terus meningkat dan menghambat upaya pemulihan pasca-konflik yang sedang berlangsung.
Dengan tenggat lima hari yang diberikan para pengungsi, perhatian kini tertuju pada langkah yang akan diambil Garda Nasional dan Dewan Administrasi Sweida dalam menjawab tuntutan ribuan warga yang ingin kembali ke rumah mereka. (haidar/andalusmedia.id)














