Kelompok Negara Islam (ISIS) kembali mengklaim bertanggung jawab atas serangan mematikan di Suriah. Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui kantor berita Amaq, ISIS mengaku telah menewaskan dua anggota tentara Suriah dalam sebuah serangan di wilayah Manbij, pedesaan timur Aleppo, pada Sabtu (20/6/2026).
Dilansir dari Syria TV pada Ahad (21/6/2026), ISIS menyebut para anggotanya menyerang dua personel militer Suriah menggunakan senapan mesin di desa Salha yang berada di dekat kota Manbij. Kelompok tersebut mengklaim kedua tentara tewas di lokasi akibat serangan yang mereka lakukan.
Pernyataan itu menjadi klaim terbaru ISIS atas serangkaian aksi yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir di berbagai wilayah Suriah. Meski telah kehilangan wilayah kekuasaan yang dulu mereka kuasai, kelompok tersebut masih mempertahankan jaringan bawah tanah dan sel-sel tidur yang mampu melancarkan serangan sporadis terhadap aparat keamanan maupun target militer.
Sebelumnya, koresponden Syria TV di Aleppo melaporkan bahwa dua anggota tentara Suriah tewas setelah diserang oleh orang-orang bersenjata tak dikenal di kawasan Manbij. Pada saat laporan awal diterbitkan, identitas pelaku belum dapat dipastikan.
Sementara itu, Reuters yang mengutip Kementerian Pertahanan Suriah juga mengonfirmasi kematian dua tentara dalam insiden di dekat Manbij. Namun pihak kementerian tidak memberikan rincian tambahan terkait pelaku maupun kronologi lengkap serangan tersebut.
Media lokal Suriah kemudian menayangkan rekaman prosesi pemakaman kedua tentara yang menjadi korban serangan. Upacara pemakaman itu dihadiri keluarga korban, rekan sesama prajurit, serta sejumlah pejabat setempat.
Manbij Kembali Jadi Titik Rawan
Wilayah Manbij selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu kawasan yang sering mengalami dinamika keamanan kompleks. Letaknya yang strategis di utara Suriah menjadikan daerah ini sebagai jalur penting yang kerap menjadi lokasi aktivitas berbagai kelompok bersenjata.
Meskipun situasi keamanan relatif membaik dibanding beberapa tahun lalu, sejumlah daerah di sekitar Manbij masih menghadapi ancaman dari kelompok ekstremis yang bergerak secara sembunyi-sembunyi.
Pengamat keamanan menilai serangan terbaru ini menunjukkan bahwa ISIS masih memiliki kemampuan untuk melakukan operasi terbatas terhadap target yang dianggap rentan. Serangan semacam ini biasanya bertujuan menunjukkan eksistensi kelompok sekaligus mengirim pesan bahwa mereka masih aktif meskipun telah kehilangan basis wilayah yang luas.
Baca Artikel Lainnya: JD Vance Kritik Menteri Netanyahu, Hubungan AS-Israel Kembali Memanas
Aktivitas ISIS Dilaporkan Meningkat
Serangan di Manbij bukan satu-satunya aksi yang diklaim ISIS dalam beberapa pekan terakhir. Pada 17 Juni lalu, kelompok tersebut juga mengaku berada di balik pengeboman yang menargetkan kepala departemen Istana Kehakiman di kota Babila, selatan Damaskus.
Dalam insiden itu, sebuah bom tempel dilaporkan meledak dan menyebabkan korban mengalami luka berat hingga harus menjalani amputasi kaki.
Selain itu, ISIS sebelumnya juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas keamanan di Raqqa yang menewaskan seorang anggota pasukan keamanan Suriah.
Rangkaian serangan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa kelompok itu sedang berupaya meningkatkan aktivitasnya di sejumlah wilayah setelah beberapa tahun mengalami tekanan militer yang intensif.
Operasi Besar Pemerintah Suriah
Di sisi lain, pemerintah Suriah menegaskan bahwa upaya pemberantasan ISIS terus dilakukan secara intensif. Kementerian Dalam Negeri Suriah bersama Direktorat Jenderal Intelijen mengumumkan keberhasilan operasi keamanan besar-besaran yang berlangsung selama tiga bulan terakhir.
Menurut data resmi yang dipublikasikan pemerintah, aparat keamanan berhasil menangkap 235 tersangka yang diduga memiliki hubungan dengan jaringan ISIS. Dari jumlah tersebut, 198 orang merupakan warga Suriah, sementara 37 lainnya adalah warga negara asing.
Operasi yang dilakukan di berbagai provinsi itu juga berhasil membongkar tujuh sel ISIS yang diduga terlibat dalam aktivitas perekrutan, perencanaan serangan, hingga penyimpanan senjata.
Selain melakukan penangkapan, aparat turut menyita berbagai jenis senjata, amunisi, perangkat komunikasi, dan perlengkapan lain yang diduga digunakan untuk mendukung aktivitas kelompok tersebut.
Pemerintah Suriah menegaskan bahwa operasi keamanan akan terus dilanjutkan demi menjaga stabilitas nasional dan mencegah kebangkitan kembali jaringan ISIS di berbagai wilayah negara itu.
Meski kemampuan ISIS saat ini jauh berbeda dibanding masa puncak kekuasaannya, serangan di Manbij menjadi pengingat bahwa ancaman kelompok tersebut belum sepenuhnya hilang. Aparat keamanan masih menghadapi tantangan besar untuk memburu sel-sel yang tersisa dan mencegah mereka memanfaatkan celah keamanan untuk melancarkan aksi baru. (haidar/andalusmedia.id)














