Sejumlah warga Palestina yang pernah ditahan di penjara Israel mengungkap dugaan penyiksaan, pelecehan seksual, dan perlakuan tidak manusiawi selama masa penahanan mereka. Kesaksian tersebut disampaikan kepada media dan organisasi hak asasi manusia internasional di tengah meningkatnya jumlah tahanan Palestina sejak perang di Jalur Gaza berlangsung.
Menurut laporan media dan kelompok HAM, para mantan tahanan mengaku mengalami pemukulan, penghinaan, pelecehan seksual, hingga ancaman pemerkosaan selama berada di pusat-pusat penahanan Israel.
Salah satu mantan tahanan, Mohammed al-Bakri, mengatakan dirinya ditangkap saat operasi militer Israel di Gaza pada Maret 2024 dan ditahan selama sekitar 20 bulan.
Ia mengaku dipindahkan ke beberapa pusat penahanan sebelum akhirnya ditempatkan di sebuah penjara di Yerusalem Timur. Selama masa penahanan, ia disebut berada dalam kondisi mata tertutup dan tangan diborgol selama berbulan-bulan.
Dalam kesaksiannya kepada media, al-Bakri menyebut tentara Israel pernah menelanjanginya, melepaskan anjing ke arah tahanan, dan melakukan pelecehan seksual.
“Mereka memborgol tangan kami, menelanjangi kami, lalu melempar kami ke lantai. Anjing-anjing dilepaskan dan menyerang kami,” ujarnya.
Setelah dibebaskan, al-Bakri mengaku baru mengetahui bahwa istrinya telah tewas dalam serangan di Gaza saat dirinya masih berada dalam tahanan.
Kesaksian lain datang dari seorang remaja berusia 17 tahun dengan nama samaran Ahmed. Ia ditangkap di dekat titik distribusi bantuan di Rafah ketika berusaha mencari makanan untuk keluarganya.
Ahmed mengaku mengalami pelecehan seksual selama masa penahanan. Menurut keterangannya, para tahanan diperintahkan untuk telanjang sepenuhnya sebelum mengalami perlakuan yang ia sebut merendahkan.
“Saya ditempatkan di ruangan sempit, lalu sejumlah tentara perempuan datang dan melakukan pelecehan,” katanya.
Organisasi Euro-Med Human Rights Monitor menyebut kesaksian-kesaksian tersebut sebagai bagian dari pola pelanggaran sistematis terhadap tahanan Palestina.
Baca Artikel Lainnya: Skandal Penyelundupan di Perbatasan Gaza, 21 Truk “Hantu” Disita Israel
Dalam laporan berjudul Another Genocide Behind the Walls, organisasi itu mendokumentasikan berbagai bentuk kekerasan seksual, termasuk ancaman pemerkosaan dan penghinaan seksual terhadap tahanan.
Perwakilan Euro-Med, Maha Hussaini, mengatakan pihaknya menemukan sedikitnya tujuh bentuk kekerasan seksual terhadap tahanan Palestina berdasarkan hasil dokumentasi lapangan.
Sementara itu, Kifaya Khraim dari Women’s Centre for Legal Aid and Counselling menyatakan pihaknya telah mewawancarai 75 perempuan Palestina yang pernah ditahan di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem.
“Semua perempuan yang diwawancarai berbicara tentang kekerasan seksual, penghinaan, atau perlakuan merendahkan,” ujarnya.
Kelompok advokasi tahanan Palestina menyebut jumlah warga Palestina yang kini berada di penjara Israel telah melampaui 9.600 orang. Angka tersebut meningkat tajam dibanding sekitar 5.250 tahanan sebelum perang Gaza pecah.
Data tersebut mencakup sekitar 350 anak-anak dan lebih dari 3.500 tahanan administratif yang ditahan tanpa dakwaan resmi.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Israel terkait tuduhan yang disampaikan dalam laporan dan kesaksian tersebut.
Kasus ini kembali memicu perhatian internasional terhadap kondisi tahanan Palestina di penjara Israel, terutama di tengah meningkatnya sorotan global terhadap situasi kemanusiaan di Gaza dan wilayah Palestina lainnya. (haidar/andalusmedia.id)