Pemerintah Suriah kembali bergerak memburu figur-figur yang terlibat dalam kejahatan era Bashar al-Assad. Kali ini, aparat keamanan mengumumkan penangkapan mantan sersan polisi militer bernama Mohammed Imad Mahrez, sosok yang pernah bertugas sebagai penjaga sekaligus sipir di Penjara Militer Saydnaya, tempat yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai simbol horor paling mengerikan rezim Assad.
Kabar penangkapan itu diumumkan langsung oleh Kementrian Dalam Negeri Suriah pada Jumat (22/5).
Dalam keterangannya, kementerian menyebut pasukan keamanan internal berhasil menangkap Mahrez yang diketahui bekerja di Saydnaya sejak tahun 2015, saat perang Suriah berada di fase paling brutal.
Pemerintah Suriah mengatakan proses investigasi masih terus berjalan untuk mengungkap praktik-praktik yang dilakukan Mahrez selama bertugas di penjara tersebut. Otoritas juga menegaskan bahwa proses hukum akan dilanjutkan terhadap siapa pun yang terbukti terlibat dalam penyiksaan atau kejahatan terhadap tahanan.
Penangkapan ini menjadi bagian dari langkah pemerintah baru Suriah dalam membuka kembali file-file lama terkait kejahatan rezim Assad yang selama bertahun-tahun nyaris tak tersentuh.
Saydnaya, Penjara yang Ditakuti Rakyat Suriah
Bagi rakyat Suriah, nama Saydnaya bukan sekadar penjara, Ia adalah simbol ketakutan. Penjara militer yang berada di utara Damaskus itu sejak lama dikenal sebagai tempat hilangnya ribuan orang. Banyak yang masuk ke dalamnya, tetapi tidak pernah kembali.
Awalnya Saydnaya merupakan penjara militer biasa. Namun setelah revolusi Suriah meletus tahun 2011, tempat itu berubah menjadi pusat penahanan massal bagi siapa saja yang dianggap menentang rezim Assad.
Aktivis, demonstran, ulama, mahasiswa, jurnalis, sampai warga sipil biasa, semuanya bisa berakhir di sana hanya karena dicurigai mendukung revolusi.
Selama bertahun-tahun, berbagai organisasi HAM internasional menyebut Saydnaya sebagai salah satu penjara paling brutal di dunia.
Laporan demi laporan keluar, membawa cerita mengerikan tentang penyiksaan, eksekusi rahasia, pemerkosaan, kelaparan, dan kematian di balik dinding penjara.
Tapi selama Assad masih berkuasa, hampir tak ada yang benar-benar bisa menyentuh sistem itu.
Ribuan Orang Dieksekusi Diam-diam
Pada tahun 2017, Amnesty International merilis laporan yang mengguncang dunia, dalam laporan tersebut disebutkan sekitar 13 ribu tahanan dieksekusi secara diam-diam di Saydnaya antara tahun 2011 hingga 2015.
Eksekusi biasanya dilakukan tengah malam, para tahanan disebut dipanggil satu per satu, lalu dibawa ke ruang gantung tanpa pengadilan yang layak. Banyak keluarga bahkan tidak pernah diberi tahu apakah anggota keluarganya masih hidup atau sudah mati.
Yang lebih mengerikan, sebagian mantan tahanan menceritakan bahwa suara jeritan penyiksaan hampir tidak pernah berhenti di dalam penjara.
Ada tahanan yang dipukul sampai lumpuh. Ada yang digantung berjam-jam. Ada yang mati karena kelaparan atau infeksi tanpa pengobatan.
Bahkan menurut sejumlah kesaksian, para tahanan sering dipaksa hidup dalam kondisi gelap total, nyaris tanpa cahaya matahari, dan diperlakukan seperti bukan manusia.
Karena itulah Saydnaya sering dijuluki warga Suriah sebagai “rumah jagal manusia”.
Pemerintah Baru Suriah Mulai Bongkar Warisan Gelap Assad
Sejak jatuhnya Bashar al-Assad pada Desember 2024, pemerintah baru Suriah mulai membuka kembali berbagai arsip dan kasus lama yang berkaitan dengan aparat keamanan rezim sebelumnya.
Penangkapan Mohammed Imad Mahrez sebagai sinyal bahwa otoritas baru tidak ingin kasus-kasus penyiksaan di era Assad hilang begitu saja.
Banyak keluarga korban kini berharap proses perburuan terhadap mantan aparat rezim akan terus berlanjut, terutama terhadap orang-orang yang selama ini dianggap terlibat langsung dalam sistem penyiksaan di penjara-penjara Suriah.
Sebab bagi banyak rakyat Suriah, perang belum benar-benar selesai sebelum para pelaku kejahatan diadili. Dan di antara seluruh wajah kekejaman rezim Assad, nama Saydnaya tetap menjadi luka paling dalam, tempat itu bukan sekadar bangunan penjara, Ia adalah saksi bagaimana ribuan rakyat Suriah pernah menghilang, disiksa, dan dibunuh dalam diam selama bertahun-tahun tanpa dunia benar-benar mampu menghentikannya. (ahmad/andalusmedia.id)














