Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, langsung melakukan komunikasi dengan pimpinan Gerakan Perlawanan Islam Hamas, Khalil al-Hayya, sesaat setelah Teheran menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Amerika Serikat. Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa isu Palestina dan perang di Jalur Gaza tetap menjadi prioritas utama Iran di tengah proses diplomasi yang sedang berlangsung dengan Washington.
Menurut laporan Al Arabiya pada Selasa (24/6/2026), percakapan telepon antara kedua tokoh tersebut berlangsung hanya beberapa jam setelah Iran mengumumkan tercapainya kesepakatan awal dengan Amerika Serikat. Nota kesepahaman itu disebut menjadi dasar bagi perundingan lanjutan mengenai berbagai isu strategis, termasuk program nuklir Iran, stabilitas kawasan, serta mekanisme pencegahan konflik regional.
Dalam pembicaraan tersebut, Araghchi menjelaskan kepada Khalil al-Hayya mengenai perkembangan terbaru dialog antara Teheran dan Washington. Ia memaparkan sejumlah poin utama yang telah disepakati dalam nota kesepahaman serta arah pembahasan yang akan dilanjutkan dalam putaran negosiasi berikutnya.
Menlu Iran menegaskan bahwa isu Palestina, khususnya perang yang masih berlangsung di Gaza, tetap menjadi salah satu topik penting dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat. Menurutnya, pembukaan jalur diplomasi tidak akan mengubah posisi Iran terhadap perjuangan rakyat Palestina.
“Gaza tetap menjadi isu sentral dalam negosiasi yang sedang berlangsung dengan Washington, dan Republik Islam Iran akan terus mendukung rakyat Palestina serta perjuangan mereka yang sah,” ujar Araghchi.
Pernyataan tersebut dinilai penting karena muncul di tengah spekulasi mengenai kemungkinan perubahan kebijakan luar negeri Iran setelah dimulainya kembali dialog dengan Amerika Serikat. Sejumlah pengamat sebelumnya mempertanyakan apakah proses diplomasi itu akan memengaruhi hubungan Teheran dengan kelompok-kelompok sekutunya di kawasan.
Namun Araghchi menegaskan bahwa pendekatan diplomatik yang ditempuh Iran tidak berarti meninggalkan komitmen terhadap Palestina maupun kelompok-kelompok yang selama ini menjadi bagian dari poros perlawanan di Timur Tengah.
Ia menekankan bahwa Iran tetap memandang dukungan terhadap Palestina sebagai bagian dari prinsip dasar kebijakan luar negerinya.
Dari pihak Hamas, Khalil al-Hayya menyampaikan apresiasi atas dukungan yang terus diberikan Iran kepada rakyat Palestina. Dalam percakapan tersebut, ia juga memberikan gambaran mengenai perkembangan terbaru di Jalur Gaza, termasuk kondisi kemanusiaan yang disebut masih memburuk akibat operasi militer Israel yang terus berlangsung.
Baca Artikel Lainnya: Ribuan Pelayat Ikuti Prosesi 8 Muharram di Srinagar, Rute Bersejarah Kembali Dipadati Umat Syiah
Al-Hayya menjelaskan bahwa masyarakat Gaza masih menghadapi berbagai kesulitan, mulai dari kerusakan infrastruktur hingga kebutuhan mendesak terhadap bantuan kemanusiaan. Karena itu, ia menilai dukungan politik dan diplomatik dari berbagai pihak tetap sangat diperlukan.
Kontak langsung antara Araghchi dan pimpinan Hamas menunjukkan bahwa komunikasi antara kedua pihak tetap terjaga di tengah perubahan dinamika politik regional. Bagi Hamas, hubungan dengan Iran masih dianggap penting dalam menghadapi perkembangan situasi di Gaza dan kawasan secara umum.
Sementara bagi Teheran, komunikasi segera setelah penandatanganan MoU dengan Amerika Serikat memiliki makna politik yang cukup besar. Langkah tersebut dipandang sebagai pesan bahwa Iran berupaya menjalankan diplomasi dengan Washington tanpa mengorbankan hubungan dengan para sekutunya di kawasan.
Sejumlah analis menilai Iran saat ini berusaha menampilkan diri sebagai aktor regional yang mampu menggabungkan dua pendekatan sekaligus, yakni membuka ruang dialog dengan Barat sambil tetap mempertahankan dukungan politik terhadap kelompok-kelompok yang dianggap bagian dari poros perlawanan.
Perkembangan ini diperkirakan akan terus menjadi perhatian Amerika Serikat, Israel, serta sejumlah negara Arab. Posisi Hamas dalam berbagai pembahasan mengenai masa depan Gaza masih menjadi salah satu isu paling sensitif dalam upaya membangun stabilitas kawasan pascakonflik.
Dengan masih berlangsungnya perang di Gaza dan berlanjutnya negosiasi Iran-AS, hubungan antara Teheran dan Hamas diperkirakan akan tetap memainkan peran penting dalam dinamika politik Timur Tengah dalam beberapa bulan mendatang. (haidar/andalusmedia.id)














