• Latest
  • All
  • Kabar Suriah
  • Kabar Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
Israel

Dilema Israel di Tengah Eskalasi AS-Iran: Diuntungkan Tekanan, Khawatir Iran Bangkit Lebih Kuat

2 minggu ago
Asy Syaraa

Asy Syaraa Buka Peluang Kesepakatan dengan Israel, Suriah Utamakan Jaminan Keamanan

8 jam ago
Houthi

Houthi Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi, Front Baru Perang AS-Iran Makin Memanas

8 jam ago
PBB

PBB Peringatkan 74 Ribu Anak Gaza Berisiko Malnutrisi Akut dalam Setahun

3 hari ago
Pemimpin Baru Hamas

Pemimpin Baru Hamas Tetapkan 6 Prioritas, Hentikan Serangan Israel Jadi Fokus Utama

3 hari ago
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Copyright
Senin, Juli 27, 2026
Andalus Media
  • Home
  • Suriah
    • Kabar Suriah
    • Masa Revolusi Suriah
    • Tokoh Revolusi Suriah
    • Sejarah Suriah
  • Palestina
    • Kabar Palestina
    • Sejarah Palestina
    • Tokoh Palestina
  • Dunia Islam
    • Afghanistan
    • Arab Saudi
    • Qatar
    • Yordania
    • Turki
    • Irak
    • Uyghur
    • Sudan
    • Rohingnya
    • Lebanon
    • Mesir
    • Amerika
    • Iran
    • Israel
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Andalus Media
  • Home
  • Suriah
  • Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi
Home Israel

Dilema Israel di Tengah Eskalasi AS-Iran: Diuntungkan Tekanan, Khawatir Iran Bangkit Lebih Kuat

Posisi "Israel" di tengah memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran makin rumit. Tel Aviv menikmati tekanan terhadap Teheran, tetapi juga khawatir setiap kesepakatan diplomatik justru membuka jalan bagi Iran memperkuat kembali program nuklir dan kemampuan militernya.

by Admin Andalus
2 minggu ago
A A
Israel

"Israel" di tengah eskalasi Iran berada dalam posisi dilematis: antara mengambil keuntungan dan menghadapi kekhawatiran.

2.4k
SHARES
4.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Eskalasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran menempatkan “Israel” dalam posisi yang penuh perhitungan. Di satu sisi, Tel Aviv memperoleh keuntungan dari tekanan militer, ekonomi, dan diplomatik yang terus menghantam Teheran. Namun di sisi lain, pemerintah “Israel” justru dihantui kekhawatiran bahwa konflik ini akan berakhir lewat meja perundingan yang memberi Iran kesempatan membangun kembali kekuatannya.

Menurut analisis yang dimuat Yedioth Ahronoth, situasi saat ini memberi keuntungan strategis bagi “Israel” karena Iran dipaksa menguras sumber daya untuk menghadapi tekanan dari Amerika Serikat. Sanksi ekonomi tetap berjalan, aktivitas perdagangan Iran ikut terganggu, dan ruang gerak Teheran di kawasan menjadi lebih terbatas.

Meski begitu, para analis keamanan di Tel Aviv menilai ancaman terbesar bukan terletak pada perang yang sedang berlangsung, melainkan apa yang akan terjadi setelah konflik mereda. Kekhawatiran utama adalah munculnya kesepakatan baru yang memungkinkan Iran kembali memperkuat ekonomi, memperbaiki kemampuan militernya, dan melanjutkan program nuklir.

Analis militer Yedioth Ahronoth, Ronen Ben-Yishai, menyebut strategi Amerika Serikat sejauh ini memang berhasil menekan Iran. Namun tekanan tersebut belum tentu menghilangkan ancaman jangka panjang yang selama ini menjadi perhatian utama “Israel”.

Menurutnya, jika Washington memilih penyelesaian diplomatik tanpa memastikan pembatasan permanen terhadap program nuklir Iran, maka hasil akhirnya justru bisa lebih menguntungkan Teheran dibanding kondisi sebelum konflik.

Washington Masih Memegang Kendali

Sejumlah pengamat menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang menjalankan strategi yang menggabungkan operasi militer terbatas dengan tekanan diplomatik.

Serangan terhadap sejumlah target Iran dipandang bukan sebagai upaya memulai perang besar, melainkan alat untuk meningkatkan posisi tawar Washington dalam perundingan.

Pendekatan itu dipandang berbeda dengan kepentingan “Israel”. Tel Aviv menginginkan ancaman nuklir Iran benar-benar dihilangkan, sedangkan Amerika Serikat lebih berfokus menciptakan kesepakatan yang dapat mengurangi ketegangan kawasan sekaligus menjaga stabilitas jalur perdagangan energi internasional.

Karena itu, setiap perkembangan diplomatik terus dipantau secara ketat oleh pemerintah Benjamin Netanyahu.

Hubungan yang erat antara Tel Aviv dan Gedung Putih membuat koordinasi terus dilakukan agar setiap kesepakatan yang lahir tidak membuka peluang bagi Iran membangun kembali kapasitas militernya.

Israel Belum Masuk ke Medan Konflik

Meski Iran telah melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk di Qatar dan Oman, “Israel” hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan ikut terlibat secara langsung.

Analis militer Channel 13, Alon Ben David, mengatakan pemerintah “Israel” masih memilih menjaga kesiagaan sambil terus memantau perkembangan di lapangan.

Selama wilayah “Israel” belum menjadi sasaran langsung, Tel Aviv diperkirakan akan tetap memberikan dukungan politik dan intelijen kepada Amerika Serikat tanpa membuka front peperangan baru.

Pendekatan tersebut dinilai memberikan keuntungan karena “Israel” tetap memperoleh manfaat dari tekanan terhadap Iran tanpa harus menanggung risiko perang terbuka.

Baca Artikel Lainnya: Houthi Gempur Bandara Abha, Balas Serangan Saudi ke Bandara Sanaa

Program Nuklir Tetap Jadi Garis Merah

Meski konflik terus berkembang, perhatian utama pemerintah “Israel” tetap tertuju pada program nuklir Iran.

Laporan Channel 13 menyebut intelijen Amerika Serikat dan “Israel” kini memusatkan perhatian pada kompleks bawah tanah baru di kawasan Gunung Kapak (Jabal al-Fa’s), dekat Natanz.

Fasilitas yang dibangun jauh di bawah permukaan tanah itu diyakini memiliki tingkat perlindungan lebih tinggi dibanding fasilitas Fordow sehingga dinilai lebih sulit dihancurkan apabila sewaktu-waktu dilakukan operasi militer.

Kondisi tersebut memperkuat keyakinan Tel Aviv bahwa ancaman nuklir Iran belum benar-benar hilang.

RelatedPosts

Asy Syaraa Buka Peluang Kesepakatan dengan Israel, Suriah Utamakan Jaminan Keamanan

Houthi Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi, Front Baru Perang AS-Iran Makin Memanas

Benjamin Netanyahu berulang kali menegaskan pemerintahannya tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun.

Pernyataan serupa juga disampaikan Menteri Pertahanan Yisrael Katz yang mengatakan operasi militer terhadap Iran dapat kembali dilakukan apabila tujuan strategis belum sepenuhnya tercapai.

Dua Faktor Penentu

Sejumlah analis menilai terdapat dua kondisi yang berpotensi membuat “Israel” ikut terjun langsung ke dalam konflik.

Pertama, apabila Iran melancarkan serangan langsung ke wilayah “Israel”.

Kedua, apabila terdapat bukti kuat bahwa Iran semakin dekat memproduksi senjata nuklir.

Selama dua kondisi tersebut belum terjadi, Tel Aviv diperkirakan akan tetap memilih berada di belakang Washington dengan memberikan dukungan intelijen, koordinasi militer, dan kerja sama diplomatik.

Bagi “Israel”, situasi saat ini memang memberikan keuntungan karena Iran terus berada di bawah tekanan. Namun keuntungan itu bisa berubah menjadi ancaman apabila konflik berakhir dengan kesepakatan yang memungkinkan Teheran bangkit lebih kuat daripada sebelumnya. (haidar/andalusmedia.id)

Tags: Amerika Serikatberita Timur Tengah terbaruIranisraelYedioth Ahronoth
Share945Tweet591SendShare
Previous Post

Houthi Gempur Bandara Abha, Balas Serangan Saudi ke Bandara Sanaa

Next Post

Ghalibaf Tuding AS Ingin Pecah Belah Iran, Negosiator Teheran Sebut MoU di Ujung Tanduk

Admin Andalus

Website ini dikelola oleh tim editorial yang dipimpin oleh Ust Masud Izzul Mujahid, Lc, berfokus pada penyajian informasi bumi syam, perkembangan dunia islam, serta dinamika geopolitik kawasan Timteng dengan pendekatan analitis dan berbasis sumber terverifikasi.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Hizbullah

Hizbullah Rencanakan Pembunuhan Kepada Pejabat Tinggi Suriah

6 Mei 2026
Israel khawatir pertahanan udara Suriah Damaskus

Israel Khawatir Pertahanan Udara Suriah Bangkit

3 Mei 2026
Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa mencium tangan ayahnya hari ini (media sosial)

Presiden Suriah Ahmad Al-Sharaa Meminta Maaf Kepada Rakyatnya Atas Ucapan Ayahnya

23 Mei 2026
Masjid Umayyah Damaskus simbol sejarah Islam dan pusat peradaban di Bumi Syam sejak masa kekhalifahan

Bumi Syam: Keutamaan, Sejarah, dan Jejak Peradaban Islam

sejarah negara Suriah Damaskus

Sejarah Negara Suriah Modern yang Menentukan Arah Timur Tengah

sejarah Palestina Yerusalem lama

Sejarah Palestina Pasca Runtuhnya Utsmani yang Mengguncang Timur Tengah

Asy Syaraa

Asy Syaraa Buka Peluang Kesepakatan dengan Israel, Suriah Utamakan Jaminan Keamanan

27 Juli 2026
Houthi

Houthi Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi, Front Baru Perang AS-Iran Makin Memanas

27 Juli 2026
PBB

PBB Peringatkan 74 Ribu Anak Gaza Berisiko Malnutrisi Akut dalam Setahun

24 Juli 2026

Copyright © 2026 Andalus Media.

Discover More

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Copyright

Follow Us

  • Home
  • Suriah
  • Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi

Copyright © 2026 Andalus Media.