Pemerintah Belanda berencana mengalokasikan dana sebesar 15 juta euro untuk mendukung pemulihan dan rekonstruksi Suriah sebelum akhir 2026. Dana tersebut akan disalurkan melalui mekanisme pendanaan baru Bank Dunia yang ditujukan untuk memperbaiki infrastruktur, memulihkan layanan dasar, dan mendorong kebangkitan ekonomi Suriah.
Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Pembangunan Belanda, Sjoerd Sjoersma, menyampaikan rencana tersebut pada Rabu (14/10/2026). Ia mengatakan bantuan itu dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat Suriah, terutama melalui rehabilitasi fasilitas dasar, peningkatan layanan publik, dan dukungan terhadap kegiatan ekonomi.
Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian dalam program tersebut. Pemulihan sektor ini dinilai penting untuk membantu menghidupkan kembali aktivitas ekonomi dan membuka peluang penghidupan bagi masyarakat.
Kementerian Luar Negeri Belanda menjelaskan bahwa kontribusi tersebut merupakan bagian dari upaya internasional untuk menghimpun dana yang dibutuhkan Suriah dalam memasuki tahap pemulihan dan rekonstruksi. Norwegia juga telah menyatakan komitmennya untuk memberikan kontribusi serupa kepada dana tersebut.
Pengumuman itu disampaikan dalam pertemuan di sela-sela pertemuan tahunan Bank Dunia pada 14 Oktober. Pertemuan tersebut dihadiri Menteri Keuangan Suriah serta sejumlah perwakilan negara Eropa dan Teluk untuk membahas pembentukan dana baru dan mekanisme koordinasi dukungan internasional bagi Suriah.
Bagian dari komitmen 25 juta euro
Alokasi 15 juta euro tersebut bersumber dari tambahan anggaran sebesar 25 juta euro yang sebelumnya disiapkan pemerintah Belanda pada 2026 untuk mendukung stabilitas dan rekonstruksi Suriah.
Pada September lalu, Belanda telah mengumumkan komitmen pendanaan tersebut sebagai bagian dari kebijakan untuk membantu memperbaiki kondisi di Suriah, termasuk berbagai hambatan yang selama ini menyulitkan pengungsi untuk kembali ke negara asal mereka.
Sjoerd Sjoersma sebelumnya menjelaskan dalam sesi parlemen bahwa anggaran itu termasuk dalam alokasi bantuan perdagangan luar negeri dan pembangunan Belanda untuk tahun 2026. Program tersebut diarahkan untuk mendukung stabilitas dan rekonstruksi sekaligus menciptakan kondisi yang memungkinkan kepulangan pengungsi secara sukarela.
Melalui dukungan keuangan dan pemulihan layanan publik, pemerintah Belanda berharap masyarakat Suriah memperoleh kondisi kehidupan yang lebih baik serta peluang ekonomi untuk membangun kembali kehidupan mereka.
Baca Artikel Lainnya: PBB Desak Dukungan Internasional untuk Suriah Diwujudkan dalam Bantuan Nyata
Pemulihan menjadi faktor kepulangan pengungsi
Belanda juga mengaitkan dukungan rekonstruksi dengan upaya menciptakan kondisi yang memungkinkan pengungsi Suriah kembali ke tanah air mereka secara sukarela dan aman.
Dalam penjelasan sebelumnya, Sjoersma menyebut kurangnya keamanan, stabilitas, dan akses terhadap layanan dasar sebagai sejumlah hambatan utama bagi kepulangan pengungsi. Perbaikan kondisi tersebut dinilai penting agar keputusan untuk kembali dapat diambil tanpa paksaan dan didukung oleh lingkungan yang lebih layak.
Menurut informasi yang disampaikan dalam laporan tersebut, sebanyak 58 persen warga Suriah yang tinggal di Belanda menyatakan bersedia mempertimbangkan kepulangan apabila situasi keamanan dan kondisi kehidupan di Suriah membaik.
Meski demikian, dukungan rekonstruksi tidak hanya berkaitan dengan kepulangan pengungsi. Pemulihan infrastruktur, layanan publik, dan kegiatan ekonomi juga menjadi kebutuhan masyarakat yang masih menghadapi dampak konflik berkepanjangan.
Penyaluran dana melalui Bank Dunia diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya internasional untuk mengoordinasikan bantuan dan memastikan pendanaan diarahkan pada kebutuhan pemulihan yang mendesak.
Komitmen Belanda tersebut menambah dukungan Eropa terhadap upaya rekonstruksi Suriah. Namun, dampak nyata bantuan akan bergantung pada pelaksanaan program, penentuan prioritas kebutuhan, serta kemampuan mengubah komitmen pendanaan menjadi layanan dan peluang ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. (haidar/andalusmedia.id)














