Pemerintah Suriah mengumumkan keberhasilan aparat keamanan membongkar dan menangkap seluruh anggota sel teroris yang bertanggung jawab atas serangkaian aksi pengeboman di Damaskus pada 7 Juli 2026. Serangan tersebut menewaskan seorang anggota keamanan Suriah, melukai puluhan warga sipil, dan sempat mengancam stabilitas ibu kota saat Presiden Prancis Emmanuel Macron melakukan kunjungan resmi ke Damaskus.
Kementerian Dalam Negeri Suriah menyatakan operasi penangkapan dilakukan melalui kerja sama antara Pasukan Keamanan Internal, Dinas Intelijen Umum, dan Direktorat Kontra-Terorisme. Setelah melakukan pelacakan intelijen selama beberapa hari, aparat berhasil mengidentifikasi para pelaku dan menggerebek sejumlah lokasi persembunyian mereka di Damaskus dan sekitarnya.
Operasi berlangsung serentak di beberapa wilayah, di antaranya Qatifa, Sayyidah Zainab, Qudsaya, serta kawasan Al-Hurriyah. Aparat sempat menutup akses keluar-masuk beberapa lingkungan untuk memastikan tidak ada anggota jaringan yang berhasil melarikan diri.
Menurut hasil penyelidikan awal yang disampaikan otoritas Suriah, sel tersebut berafiliasi dengan kelompok ISIS. Menteri Dalam Negeri Suriah Anas Khattab memastikan seluruh anggota jaringan kini telah berada dalam tahanan, sementara penyelidikan terus dilakukan guna mengungkap pihak-pihak yang membantu maupun mengendalikan operasi mereka.
Penangkapan ini menjadi jawaban atas janji Anas Khattab beberapa hari sebelumnya yang menegaskan bahwa pemerintah tidak akan berhenti sebelum seluruh pelaku berhasil ditangkap dan diadili.
Teror Gagal Mengganggu Diplomasi Suriah
Pemerintah Suriah meyakini bahwa aksi pengeboman tersebut bukan sekadar serangan keamanan biasa, tetapi juga memiliki tujuan politik yang jelas. Ledakan terjadi bertepatan dengan kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Damaskus, sebuah kunjungan bersejarah yang menandai semakin terbukanya hubungan Suriah dengan negara-negara Barat setelah bertahun-tahun mengalami isolasi diplomatik.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Suriah menjelaskan bahwa para pelaku diduga ingin mengirim pesan kepada dunia bahwa Suriah masih merupakan negara yang tidak aman. Dengan menciptakan kepanikan di ibu kota saat berlangsungnya kunjungan kepala negara asing, mereka berharap kunjungan tersebut dibatalkan atau setidaknya menciptakan citra negatif terhadap situasi keamanan Suriah.
Namun, tujuan itu tidak tercapai.
Kunjungan Presiden Macron tetap berlangsung sesuai agenda. Seluruh rangkaian pertemuan diplomatik, pembahasan kerja sama, serta kesepakatan yang telah direncanakan tetap dilaksanakan tanpa perubahan. Hal ini dinilai sebagai sinyal bahwa pemerintah Suriah mampu menjaga stabilitas meskipun masih menghadapi ancaman dari jaringan teror.
Keberhasilan aparat keamanan membongkar sel tersebut dalam waktu singkat juga dipandang sebagai bukti meningkatnya kemampuan institusi keamanan Suriah dalam menghadapi ancaman pascaperang. Sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri telah mengungkap bahwa penyidik menemukan sejumlah petunjuk penting hanya beberapa jam setelah ledakan terjadi. Dari petunjuk inilah aparat kemudian melacak pergerakan para pelaku hingga akhirnya berhasil menangkap mereka dalam operasi berskala besar.
Meski seluruh anggota sel telah diamankan, pemerintah Suriah menyatakan investigasi belum selesai. Aparat masih mendalami jaringan komunikasi para pelaku, sumber pendanaan, serta kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam perencanaan serangan tersebut.
Bagi pemerintah Suriah, pengungkapan kasus ini bukan hanya keberhasilan keamanan, tetapi juga pesan bahwa upaya kelompok teroris untuk menggagalkan proses normalisasi Suriah dengan masyarakat internasional tidak akan berhasil. Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi negara itu, Damaskus berupaya menunjukkan bahwa stabilitas keamanan tetap menjadi prioritas utama, sekaligus memastikan proses pemulihan politik dan diplomatik Suriah terus berjalan. (ahmad/andalusmedia.id)














