Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa menghubungi Abdullah Alloush, putra mendiang Muhammad Zahran Alloush, untuk menyampaikan ucapan selamat atas pernikahannya.
Kabar tersebut disampaikan langsung oleh Abdullah Alloush melalui akun resminya di platform X pada Jumat (10/7/2026). Dalam unggahannya, Abdullah mengungkapkan bahwa Presiden Ahmad al-Sharaa tidak hanya memberikan ucapan selamat, tetapi juga mengenang ayahnya dengan penuh penghormatan.
Menurut Abdullah, Presiden al-Sharaa memuji jasa dan perjuangan Muhammad Zahran Alloush selama revolusi Suriah serta menyampaikan kata-kata yang baik mengenai sosoknya.

Menanggapi perhatian tersebut, Abdullah Alloush menyampaikan rasa terima kasihnya dan menutup pesannya dengan mengutip firman Allah:
“Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Gestur Presiden Ahmad al-Sharaa ini, ebagai bentuk penghormatan kepada salah satu tokoh penting revolusi Suriah yang memiliki pengaruh besar dalam perlawanan terhadap rezim Bashar al-Assad.
Siapa Muhammad Zahran Alloush?
Muhammad Zahran Alloush merupakan pendiri sekaligus pemimpin Jaish al-Islam (Tentara Islam), salah satu faksi oposisi terbesar yang beroperasi di wilayah Ghouta Timur, pinggiran Damaskus.
Ia lahir di kota Douma pada tahun 1971. Setelah menempuh pendidikan Syariah di Universitas Damaskus, ia melanjutkan studi ke Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.

Pada tahun 2009, Zahran Alloush ditangkap oleh rezim Bashar al-Assad dan dipenjara di Penjara Saydnaya. Ia kemudian dibebaskan melalui program amnesti pada 2011, tidak lama setelah revolusi Suriah dimulai.
Setelah bebas, ia mendirikan Liwa al-Islam pada 2012. Setahun kemudian, kelompok tersebut berkembang menjadi Jaish al-Islam melalui penggabungan sejumlah faksi oposisi bersenjata, dan menjadi salah satu kekuatan utama yang bertahan di Ghouta Timur.
Di bawah kepemimpinannya, Jaish al-Islam terlibat dalam berbagai pertempuran melawan pasukan rezim Assad. Ia juga berperan dalam membentuk komando militer gabungan bagi faksi-faksi oposisi di Ghouta serta ikut memimpin operasi untuk mengusir sel-sel ISIS dari kawasan tersebut.
Muhammad Zahran Alloush gugur pada 25 Desember 2015 dalam serangan udara yang menargetkan markasnya di Ghouta Timur. Sejumlah laporan lokal maupun internasional menyebut serangan tersebut dilakukan oleh pesawat tempur Rusia yang saat itu mendukung operasi militer rezim Bashar al-Assad.
Ucapan Presiden Ahmad al-Sharaa kepada putra Zahran Alloush dipandang sebagai sinyal penghormatan terhadap tokoh-tokoh revolusi Suriah yang gugur selama konflik, sekaligus mencerminkan upaya pemerintah baru untuk mempererat hubungan dengan berbagai elemen yang selama bertahun-tahun terlibat dalam perjuangan menggulingkan rezim Assad. (ahmad/andalusmedia.id)














