Dalam kunjungannya ke Kota Tartus pada Selasa (9/6), Presiden Suriah Ahmad Al-Sharaa mencuri perhatian publik setelah menghentikan pembacaan puisi yang berisi sanjungan untuk dirinya. Di hadapan ratusan warga yang menyambut kedatangannya, Al-Sharaa justru menyampaikan pesan yang tidak biasa dalam tradisi politik Timur Tengah yang selama puluhan tahun identik dengan kultus individu dan pengagungan kepada penguasa.
“Zaman ketika orang-orang membacakan puisi tentang presiden telah berakhir. Sekarang giliran presiden yang membacakan puisi tentang rakyat yang hebat,” ujar Al-Sharaa, disambut tepuk tangan para hadirin.
Pernyataan tersebut segera menyebar luas di media sosial dan memicu beragam tanggapan. Banyak warga menilai ucapan itu mencerminkan semangat baru yang ingin dibangun pemerintahan Suriah pasca tumbangnya rezim Bashar al-Assad, yakni menempatkan rakyat sebagai pusat perhatian negara, bukan lagi pemimpin sebagai objek pujian dan pengagungan.
Kunjungan Al-Sharaa ke Tartus sendiri memiliki arti penting. Kota pesisir itu selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu wilayah yang paling dekat dengan pemerintahan Bashar al-Assad. Karena itu, kehadiran presiden baru Suriah di wilayah tersebut mendapat perhatian besar dari masyarakat maupun pengamat politik.
Dalam pertemuan tersebut, warga menyampaikan berbagai aspirasi dan harapan mereka terhadap masa depan negara. Suasana berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Di tengah acara itulah muncul upaya sejumlah peserta untuk membacakan syair pujian kepada presiden.
Alih-alih menikmati sanjungan tersebut, Al-Sharaa justru mengarahkan perhatian kepada rakyat.
Pernyataan itu mencerminkan pendekatan yang berbeda dari pola politik yang selama ini dikenal masyarakat Suriah. Selama beberapa dekade, kehidupan politik Suriah tidak bisa dilepaskan dari kultus individu. Foto-foto penguasa memenuhi ruang publik, nama presiden hadir dalam berbagai slogan, dan pujian kepada penguasa menjadi bagian yang lazim dalam banyak acara resmi.
Bagi sebagian warga Suriah, pengalaman panjang tersebut masih sangat membekas. Karena itu, ucapan Al-Sharaa sebagai pesan bahwa masa depan negara tidak boleh lagi dibangun di atas pengagungan satu tokoh.Mereka menilai seorang pemimpin seharusnya menghormati rakyat yang telah bertahan menghadapi berbagai kesulitan selama bertahun-tahun konflik, krisis ekonomi, dan ketidakstabilan politik.
Sebagian komentar bahkan menyebut bahwa rakyat Suriah selama ini telah membayar harga yang sangat mahal untuk mempertahankan negara mereka. Jutaan warga kehilangan rumah, pekerjaan, anggota keluarga, dan masa depan akibat perang yang berlangsung lebih dari satu dekade. Karena itu, penghargaan kepada rakyat dianggap lebih pantas dibandingkan penghormatan berlebihan kepada pejabat atau pemimpin.
Peristiwa di Tartus juga terjadi ketika Suriah sedang menjalani fase baru dalam sejarah politiknya. Pemerintah berusaha membangun kembali berbagai lembaga negara, memperbaiki layanan publik, menarik investasi, dan memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan pusat.
Tugas tersebut tidak ringan. Selain menghadapi tantangan ekonomi yang besar, pemerintah juga harus meyakinkan warga bahwa negara sedang bergerak menuju arah yang berbeda dibandingkan masa lalu.
Dalam situasi seperti itu, setiap pernyataan pemimpin memiliki makna yang besar bagi masyarakat. Ucapan yang disampaikan Al-Sharaa menunjukkan bahwa pemerintah ingin menghadirkan hubungan yang lebih dekat dengan rakyat dan menjauh dari budaya politik lama yang menempatkan pemimpin sebagai pusat penghormatan.
Bagi banyak warga, perubahan tidak hanya diukur dari kebijakan ekonomi atau pembangunan infrastruktur. Cara seorang pemimpin berbicara kepada rakyat dan memperlakukan masyarakat juga menjadi ukuran penting.
Di tengah upaya negara itu membuka lembaran baru setelah bertahun-tahun konflik, banyak warga berharap penghormatan terhadap rakyat tidak berhenti sebagai slogan, melainkan benar-benar menjadi prinsip dalam menjalankan pemerintahan.
Harapan itu muncul karena bagi sebagian besar rakyat Suriah, merekalah yang selama ini menanggung beban terberat dari perang, kehancuran, pengungsian, dan berbagai krisis yang melanda negara. Jika ada pihak yang layak mendapat penghargaan, menurut banyak warga, maka pihak itu adalah rakyat Suriah sendiri yang tetap bertahan melewati masa-masa paling sulit dalam sejarah modern negeri mereka. (ahmad/andalusmedia.id)














