Situasi di Suriah selatan kembali memanas setelah pasukan pendudukan Israel dilaporkan melakukan serangkaian operasi militer baru di Provinsi Quneitra. Dalam beberapa hari terakhir, warga setempat melaporkan adanya penahanan warga sipil, penyitaan telepon genggam, pendirian pos pemeriksaan sementara, hingga pembatasan akses masyarakat terhadap lahan pertanian dan sumber daya alam.
Insiden terbaru yang memicu kemarahan warga terjadi pada Senin (8/6), ketika empat anak penggembala domba dari Kota Al-Rafid, wilayah barat Quneitra, ditahan oleh pasukan Israel saat berada di lahan pertanian sekitar kota tersebut.
Menurut laporan koresponden Syria TV, anak-anak tersebut sedang menggembalakan ternak seperti biasa ketika pasukan Israel mengepung mereka. Setelah itu, para tentara melakukan penggeledahan, memeriksa identitas mereka, dan menyita telepon seluler yang mereka bawa.
Tidak berhenti sampai di situ, para anak tersebut juga dilaporkan mengalami pemukulan selama proses interogasi lapangan yang dilakukan oleh pasukan Israel.
Warga setempat mengatakan bahwa tangan keempat anak itu diikat menggunakan kabel plastik selama hampir satu jam sebelum akhirnya dilepaskan di sebuah lokasi yang tidak jauh dari Kota Al-Rafid. Seorang warga yang melintas kemudian menemukan mereka dalam kondisi terikat. Ia membantu melepaskan ikatan tersebut dan mengantar mereka kembali kepada keluarga masing-masing.
Foto-foto kabel plastik yang digunakan untuk mengikat tangan anak-anak itu kemudian beredar dan memicu reaksi luas di kalangan masyarakat Suriah.

Peristiwa ini menambah daftar panjang insiden yang terjadi di wilayah selatan Suriah sejak meningkatnya aktivitas militer Israel di kawasan tersebut.
Tekanan terhadap Warga Sipil Suriah Terus Meningkat
Penduduk Quneitra dan Daraa mengeluhkan semakin sempitnya ruang gerak mereka dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Berbagai laporan menyebutkan bahwa pasukan Israel secara rutin melakukan patroli, operasi keamanan, dan pembatasan akses terhadap wilayah yang selama ini digunakan warga untuk bertani maupun menggembalakan ternak.
Bagi masyarakat pedesaan di wilayah tersebut, lahan pertanian bukan sekadar sumber pendapatan, tetapi juga penopang utama kehidupan keluarga. Karena itu, berbagai pembatasan yang diberlakukan dinilai semakin memperburuk kondisi ekonomi warga yang selama bertahun-tahun telah terdampak konflik.
Sejumlah organisasi lokal juga mencatat meningkatnya rasa takut di kalangan masyarakat akibat seringnya operasi militer mendadak yang dilakukan di desa-desa sekitar garis pemisah.
Data yang dihimpun media lokal menunjukkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir puluhan warga sipil tewas atau terluka akibat tembakan maupun serangan artileri Israel di wilayah selatan Suriah.
Salah satu insiden paling mematikan terjadi di Kota Beit Jinn, di lereng Gunung Hermon, yang menewaskan sedikitnya 13 warga dan melukai sekitar 25 orang lainnya.
Serangan Baru dan Pos Pemeriksaan Dadakan
Belum genap dua hari setelah penahanan empat anak tersebut, pasukan Israel kembali melakukan operasi baru di pedesaan Quneitra.
Pada Rabu (10/6), tiga kendaraan militer Israel dilaporkan memasuki jalan yang menghubungkan Desa Saida Al-Golan dengan Al-Muqraz di wilayah selatan provinsi tersebut.
Sumber-sumber lokal mengatakan bahwa pasukan Israel mendirikan pos pemeriksaan sementara dan menghentikan sejumlah warga yang melintas. Beberapa orang diperiksa sebelum pasukan akhirnya meninggalkan lokasi beberapa waktu kemudian.
Operasi ini terjadi sehari setelah seorang pemuda Suriah ditahan di kawasan pertanian Umm Al-Luqs. Ia dibawa untuk diperiksa selama beberapa jam sebelum akhirnya dilepaskan.
Rangkaian kejadian tersebut memperkuat kekhawatiran warga bahwa aktivitas militer Israel di wilayah selatan Suriah terus meningkat dari waktu ke waktu.
Lebih dari 700 Operasi Sejak Jatuhnya Rezim Assad
Menurut data yang dipublikasikan Radio Golan FM, media yang mendokumentasikan berbagai pelanggaran Israel di Suriah, tentara Israel telah melaksanakan lebih dari 700 operasi keamanan dan militer di wilayah Suriah sejak runtuhnya rezim Bashar al-Assad.
Operasi-operasi tersebut mencakup patroli darat, penahanan warga, pendirian pos militer sementara, hingga berbagai bentuk intervensi keamanan lainnya di kawasan perbatasan.
Pemerintah Suriah berulang kali menegaskan bahwa seluruh aktivitas militer Israel di wilayah selatan Suriah tidak memiliki dasar hukum dan bertentangan dengan hukum internasional.
Damaskus juga kembali menyerukan kepada masyarakat internasional agar mengambil langkah nyata untuk menghentikan pelanggaran yang terus berlangsung dan mendorong penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Suriah.
Di tengah ketidakpastian situasi keamanan, warga Quneitra dan Daraa kini hidup dalam bayang-bayang operasi militer yang bisa terjadi kapan saja. Bagi banyak keluarga, terutama mereka yang bergantung pada pertanian dan peternakan, tantangan terbesar bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari di tengah meningkatnya tekanan dan ketegangan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. (ahmad/andalusmedia.id)














