Hubungan antara Rusia dan pemerintahan baru Suriah memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun menjadi pendukung utama rezim Bashar al-Assad, Moskow kini terlibat pembicaraan intensif dengan pemerintah Presiden Ahmad Al-Sharaa mengenai masa depan pangkalan militer Rusia di Suriah.
Kementerian Luar Negeri Rusia pada Rabu (10/6) mengonfirmasi bahwa kedua negara sedang membahas kemungkinan “penataan ulang” fungsi pangkalan-pangkalan militer Rusia yang berada di wilayah Suriah. Pernyataan tersebut menjadi sinyal terbaru bahwa hubungan Damaskus-Moskow sedang mengalami proses penyesuaian pasca tumbangnya rezim Assad pada Desember 2024.
Selama lebih dari satu dekade perang Suriah, Rusia menjadikan pangkalan udara Hmeimim di Latakia dan pangkalan laut Tartus sebagai pusat operasi militernya di Timur Tengah. Kedua fasilitas tersebut memiliki nilai strategis yang sangat penting karena merupakan satu-satunya pangkalan militer Rusia di luar wilayah bekas Uni Soviet.
Kini, setelah perubahan politik besar di Damaskus, muncul pertanyaan mengenai bagaimana masa depan kehadiran Rusia di Suriah.
Dari Pendukung Assad Menjadi Mitra Pemerintahan Baru Suriah
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menjelaskan bahwa komunikasi dengan pemerintah Suriah berjalan aktif dan konstruktif.
Menurutnya, pembahasan tidak lagi sekadar mengenai keberadaan militer Rusia, tetapi juga menyangkut kemungkinan perubahan fungsi dan peran fasilitas-fasilitas yang selama ini digunakan oleh Moskow.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya spekulasi mengenai posisi Rusia setelah Presiden Ahmad Al-Sharaa mengambil alih kepemimpinan Suriah.
Berbeda dengan masa Assad yang sangat bergantung pada dukungan militer Rusia, pemerintahan baru Suriah berusaha membangun hubungan yang lebih seimbang dengan berbagai kekuatan internasional. Di satu sisi, Damaskus tetap membuka ruang kerja sama dengan Moskow. Namun di sisi lain, pemerintah baru juga menuntut pertanggungjawaban atas berbagai persoalan masa lalu, termasuk permintaan ekstradisi Bashar al-Assad yang saat ini mendapatkan suaka politik di Rusia.
Meski permintaan tersebut belum menunjukkan perkembangan berarti, kedua negara tampaknya memilih memisahkan isu politik itu dari hubungan strategis yang lebih luas.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah pertemuan tingkat tinggi antara pejabat Suriah dan Rusia terus berlangsung. Kedua pihak sama-sama menyadari bahwa mereka masih memiliki kepentingan bersama, terutama dalam bidang keamanan, ekonomi, energi, dan perdagangan.
Hmeimim dan Tartus Tetap Penting
Perhatian terbesar tertuju pada pangkalan udara Hmeimim dan pangkalan laut Tartus.
Sejak intervensi Rusia di Suriah pada tahun 2015, dua fasilitas tersebut menjadi simbol pengaruh Moskow di Timur Tengah. Dari Hmeimim, Rusia menjalankan berbagai operasi udara yang membantu mempertahankan rezim Assad selama perang. Sementara Tartus menjadi pusat logistik utama bagi armada laut Rusia di kawasan Mediterania.
Namun situasi kini telah berubah.
Beberapa laporan media Barat menyebut Rusia sedang berupaya mempertahankan jejak militernya dengan pendekatan yang lebih fleksibel. Alih-alih mempertahankan model lama yang identik dengan operasi militer besar-besaran, Moskow disebut mempertimbangkan transformasi sebagian fasilitas menjadi pusat logistik, perdagangan, dan dukungan teknis.
Laporan Wall Street Journal bahkan menyebut sebuah kapal kargo Rusia yang terkena sanksi Amerika Serikat sempat merapat di Tartus bulan lalu untuk mengirimkan peralatan dan logistik baru.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada rincian resmi mengenai bentuk penataan ulang yang sedang dibahas.
Baik pihak Suriah maupun Rusia tampaknya masih menjaga kerahasiaan detail negosiasi tersebut.
Yang jelas, keberadaan Rusia di Suriah saat ini berada pada fase berbeda dibanding era Assad. Jika sebelumnya hubungan kedua negara dibangun atas dasar kebutuhan militer dan kelangsungan rezim, kini kerja sama tersebut harus menyesuaikan diri dengan realitas politik baru yang berkembang di Damaskus.
Bagi Rusia, mempertahankan akses ke Tartus dan Hmeimim berarti menjaga pengaruhnya di Laut Mediterania dan Timur Tengah. Sementara bagi Suriah, hubungan dengan Moskow tetap memiliki nilai strategis, terutama dalam bidang investasi, energi, dan pembangunan pascaperang.
Karena itu, banyak pengamat menilai bahwa yang sedang terjadi bukanlah proses pengakhiran kehadiran Rusia di Suriah, melainkan upaya merumuskan format hubungan baru yang lebih sesuai dengan kondisi politik pasca-Assad.
Negosiasi yang berlangsung saat ini akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah hubungan Damaskus dan Moskow pada tahun-tahun mendatang. Hasil akhirnya bukan hanya berdampak pada kedua negara, tetapi juga berpengaruh terhadap keseimbangan geopolitik kawasan Timur Tengah yang terus berubah setelah berakhirnya era Bashar al-Assad. (ahmad/andalusmedia.id)














