Pemerintahan baru Suriah mengumumkan penemuan besar terkait sisa program senjata kimia peninggalan rezim Bashar al-Assad. Otoritas Suriah menemukan puluhan rudal, bom udara, bahan baku gas sarin, hingga perlengkapan produksi senjata kimia di sejumlah lokasi rahasia.
Informasi tersebut disampaikan oleh perwakilan tetap Suriah untuk Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) di Den Haag, Mohammed Kattoub, dalam wawancara bersama Reuters pada Selasa, (26/5).
Menurut Kattoub, pemerintah Suriah juga telah menangkap sedikitnya 18 orang yang terlibat dalam program senjata kimia era Assad. Mereka terdiri dari mantan pejabat militer, tokoh politik, hingga teknisi senior yang sebelumnya bekerja dalam proyek rahasia tersebut.
Meski identitas para tersangka belum dipublikasikan karena penyelidikan masih berlangsung, Kattoub mengungkapkan bahwa beberapa di antaranya berpangkat mayor jenderal pada masa pemerintahan Assad. Sedikitnya empat nama disebut masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Inggris.
Pengungkapan ini menjadi perkembangan penting di tengah upaya pemerintahan baru Suriah membangun citra berbeda dari era sebelumnya. Setelah perang panjang selama lebih dari satu dekade, Damaskus kini berusaha menunjukkan keterbukaan terhadap komunitas internasional serta komitmen membersihkan warisan program senjata pemusnah massal yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu isu paling kontroversial di Suriah.
OPCW Temukan Puluhan Amunisi Kimia
Dalam laporan terpisah, OPCW menyatakan bahwa tim inspeksi mereka bersama otoritas Suriah telah mengunjungi sejumlah lokasi prioritas tinggi di wilayah pesisir utara dan tengah Suriah.
Dari operasi tersebut, ditemukan puluhan amunisi kimia yang sebelumnya tidak pernah diumumkan kepada dunia internasional. Temuan itu mencakup bom udara, rudal, agen kimia, serta berbagai perlengkapan terkait produksi senjata kimia.
Kattoub menjelaskan bahwa tim gabungan Suriah dan OPCW menemukan lebih dari 70 rudal dan bom udara yang diduga berkaitan dengan program senjata kimia Assad. Selain itu, ditemukan pula bahan baku pembuatan gas sarin, termasuk heksamin yang dikenal sebagai zat penstabil dalam produksi senjata saraf mematikan tersebut.
Gas sarin sendiri merupakan senjata kimia yang pernah digunakan dalam beberapa serangan paling mematikan selama perang Suriah. Salah satu yang paling dikenal adalah tragedi Ghouta Timur pada Agustus 2013 yang menewaskan lebih dari 1.300 orang. Serangan lain juga terjadi di wilayah Latamneh pada tahun 2017.
Inspeksi di tiga lokasi turut mengungkap keberadaan fasilitas pencampuran bahan kimia dan tempat penyimpanan senjata terlarang yang selama ini disembunyikan dari pengawasan internasional.
Kattoub menyebut penemuan tersebut sebagai “kemenangan bagi rakyat Suriah dan dunia.” Menurutnya, untuk pertama kalinya amunisi semacam itu berhasil diamankan sebelum kembali digunakan dalam kejahatan terhadap warga sipil.
Ia menegaskan bahwa pengamanan stok senjata dan bahan kimia tersebut memiliki dampak penting terhadap keamanan nasional Suriah sekaligus keamanan internasional.
Pemerintahan Baru Suriah Ingin Tinggalkan Warisan Assad
Selama bertahun-tahun, rezim Bashar al-Assad dituduh menggunakan senjata kimia secara berulang dalam perang melawan oposisi. Investigasi gabungan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan OPCW sebelumnya menyimpulkan bahwa pasukan Assad menggunakan gas sarin, klorin, dan mustard sulfur dalam sejumlah serangan.
Meski Suriah resmi menandatangani Konvensi Senjata Kimia pada 2013 dan mengklaim telah menyerahkan sekitar 1.300 ton persediaan bahan kimia, berbagai laporan internasional menunjukkan penggunaan senjata kimia tetap berlangsung setelahnya.
Karena itu, komunitas internasional selama ini mempertanyakan apakah seluruh persenjataan kimia Suriah benar-benar telah dimusnahkan.
Kini, pemerintahan baru Suriah berusaha membuka lembaran berbeda. Otoritas transisi menyatakan siap bekerja sama penuh dengan OPCW dan negara-negara internasional guna menghapus seluruh sisa program senjata kimia yang diwariskan rezim sebelumnya.
Pada Maret lalu, Suriah bahkan meluncurkan rencana yang didukung Washington untuk menghancurkan seluruh sisa persenjataan kimia yang masih ada di negara tersebut.
Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya Damaskus memperbaiki hubungan internasional sekaligus mengakhiri isolasi panjang akibat kebijakan brutal era Assad.
OPCW sendiri memperkirakan masih ada hingga 100 lokasi di Suriah yang perlu diperiksa untuk memastikan tidak ada lagi fasilitas atau stok senjata kimia tersembunyi.
Penemuan terbaru ini sekaligus memperlihatkan besarnya jaringan program rahasia yang dibangun rezim Assad selama bertahun-tahun. Banyak lokasi penyimpanan dan fasilitas produksi ternyata belum pernah dilaporkan sebelumnya kepada lembaga internasional.
Di tengah proses transisi politik yang masih berlangsung, pengungkapan ini menjadi salah satu ujian besar bagi pemerintah baru Suriah. Namun di sisi lain, keterbukaan Damaskus terhadap investigasi internasional dinilai sebagai sinyal bahwa Suriah saat ini berusaha bergerak menjauh dari pola pemerintahan lama yang tertutup dan penuh penyangkalan. (ahmad/andalusmedia.id)

![Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi pada 18 Januari 2026. [GETTY]](https://andalusmedia.id/wp-content/uploads/2026/05/clipboard-image-1779850121-75x75.webp)










![Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi pada 18 Januari 2026. [GETTY]](https://andalusmedia.id/wp-content/uploads/2026/05/clipboard-image-1779850121-120x86.webp)

