Sebuah artikel panjang yang ditulis peneliti Suriah Subhi Hadidi di media Al-Quds Al-Arabi menyoroti satu hal menarik, media dan kalangan Zionis jauh lebih nyaman dengan rezim Bashar al-Assad dibanding pemerintahan baru Suriah di bawah kepemimpinan Ahmad al-Sharaa.
Menurut Hadidi, selama puluhan tahun keluarga Assad justru dianggap “stabil” dan “bisa diprediksi” oleh Israel, terutama setelah perang 1973 ketika front Golan praktis berubah menjadi wilayah paling tenang bagi Israel.
Ia menyebut banyak media Zionis, khususnya media sayap kanan Israel, selama ini tidak melihat rezim Assad sebagai ancaman nyata. Bahkan dalam banyak momen, Assad justru dipandang sebagai pihak yang menjaga stabilitas perbatasan.
Assad dan “Ketenteraman” di Perbatasan Israel
Dalam artikelnya, Hadidi mengingatkan bagaimana Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel selama puluhan tahun berubah menjadi salah satu perbatasan paling tenang di kawasan.
Meski Suriah secara resmi selalu berbicara soal “perlawanan”, realitas di lapangan berbeda. Israel bisa memperluas permukiman, menjaga stabilitas ekonomi, dan merasa aman dari ancaman perang besar dari Suriah.
Karena itulah, menurut Hadidi, jatuhnya Bashar al-Assad pada Desember 2024 menjadi pukulan besar bagi banyak kalangan Zionis. Bukan karena mereka mencintai Assad, tetapi karena mereka kehilangan rezim yang selama puluhan tahun dianggap bisa menjaga situasi tetap terkendali.
Ia menyebut media dan analis Zionis tiba-tiba panik menghadapi Suriah baru yang mereka belum pahami sepenuhnya.
Dulu Assad Diberi Ruang di Media Barat Pro-Israel
Hadidi juga mengungkap bagaimana Bashar al-Assad sejak awal revolusi Suriah berusaha membangun citra positif di media Barat yang dekat dengan Israel.
Saat demonstrasi rakyat mulai meledak tahun 2011 dan rezim Assad menggunakan kekerasan brutal, Bashar justru memilih media-media Barat pro-Israel untuk tampil pertama kali.
Salah satunya wawancara dengan jurnalis Inggris Andrew Gilligan di Sunday Telegraph. Tak lama kemudian Assad juga tampil eksklusif bersama Barbara Walters di televisi Amerika.
Dalam wawancara itu, Assad digambarkan sebagai sosok “modern”, “terdidik Barat”, fasih bahasa Inggris, dan berbeda dari citra diktator Timur Tengah pada umumnya.
Media-media itu juga ikut membangun narasi bahwa Damaskus masih aman dan tenang meski pembantaian sedang terjadi di banyak wilayah Suriah.
Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa Dipandang Berbeda
Berbeda dengan Assad, pemerintahan baru Suriah di bawah Ahmad al-Sharaa justru menghadapi sikap jauh lebih dingin dari media dan kalangan Zionis.
Menurut Hadidi, banyak analis Zionis awalnya berharap Suriah pasca-Assad akan tenggelam dalam perang saudara besar antara Sunni, Alawi, Druze, Kurdi, dan kelompok lainnya.
Salah satu yang disebut dalam artikel itu adalah Daniel Pipes, penulis Amerika pro-Israel yang dikenal sangat anti-Islam dan anti-Arab.
Setelah Assad jatuh, Pipes langsung memprediksi Suriah akan hancur dalam perang sektarian dan perpecahan wilayah. Tapi menurut Hadidi, prediksi itu gagal total.
Meski Suriah tetap menghadapi konflik dan ketegangan, negara itu tidak runtuh menjadi perang saudara besar seperti yang diperkirakan banyak analis Zionis.
Israel Mulai Lebih Agresif Setelah Assad Jatuh
Artikel itu juga menyinggung bagaimana Benjamin Netanyahu justru meningkatkan serangan ke Suriah hanya beberapa jam setelah runtuhnya rezim Assad.
Puluhan lokasi militer Suriah dibombardir Israel, sesuatu yang menurut Hadidi justru jarang dilakukan secara terbuka selama Assad masih berkuasa.
Penulis menilai hal itu menunjukkan bahwa Israel sebenarnya lebih nyaman menghadapi rezim lama yang sudah mereka pahami pola dan batasnya.
Sementara pemerintahan baru Suriah dianggap membawa situasi yang belum bisa diprediksi sepenuhnya.
Ketakutan Lama Israel Mulai Berubah
Hadidi menyimpulkan bahwa selama 54 tahun, hubungan antara rezim Assad dan Israel dipenuhi paradoks.
Di depan publik, rezim Assad selalu memakai slogan perlawanan terhadap Israel. Tapi di lapangan, Israel justru menikmati stabilitas luar biasa di front Suriah.
Kini situasinya berubah.
Menurutnya, ketidaknyamanan Israel terhadap Suriah baru bukan semata karena ancaman militer langsung, tetapi karena hilangnya “formula lama” yang selama puluhan tahun membuat kawasan tetap terkendali bagi kepentingan Israel.
Dan bagi banyak analis Zionis, Suriah di bawah Ahmad al-Sharaa masih menjadi teka-teki yang belum benar-benar mereka pahami. (ahmad/andalusmedia.id)














