Pemerintah Australia kembali memulangkan warganya yang selama ini tinggal di kamp-kamp penahanan di Suriah timur laut pasca runtuhnya ISIS. Kelompok terbaru yang dipulangkan terdiri dari perempuan dan anak-anak yang selama bertahun-tahun hidup di kamp Roj, salah satu kamp paling terkenal yang menampung keluarga eks anggota ISIS dari berbagai negara.
Laporan ini pertama kali disampaikan Australian Broadcasting Corporation (ABC) dan kemudian dikutip Al Jazeera. Menurut laporan tersebut, sebuah bus yang membawa rombongan perempuan dan anak-anak Australia meninggalkan kamp Roj pada Kamis sore dengan pengawalan pejabat pemerintah Suriah.
Mereka diperkirakan akan dibawa lebih dulu ke Damaskus sebelum melanjutkan perjalanan menuju Australia. Meski begitu, pemerintah Australia belum mengumumkan kapan mereka benar-benar akan tiba.
Dulu Datang ke Suriah Ikut Suami Gabung ISIS
Sebagian besar perempuan ini diketahui datang ke Suriah sekitar tahun 2012 hingga 2016. Saat itu perang Suriah sedang memanas dan ISIS berada di puncak kekuatannya.
Banyak dari mereka datang mengikuti suami yang bergabung dengan ISIS. Ada yang pindah secara diam-diam, ada juga yang berangkat lewat jaringan perekrutan online yang saat itu sangat aktif di Australia dan negara Barat lainnya.
Namun setelah ISIS runtuh pada 2019, nasib mereka berubah total.
Ribuan perempuan dan anak-anak asing akhirnya terjebak di kamp-kamp penahanan di Suriah timur laut dibawah otoritas SDF. Mereka hidup bertahun-tahun dalam kondisi serba terbatas, tenda pengungsian, keamanan ketat, kekurangan fasilitas, dan masa depan yang tidak jelas.
Kamp Roj sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu tempat penahanan keluarga eks ISIS asing. Penghuninya berasal dari berbagai negara, mulai dari Eropa sampai Australia.
Australia Dulu Menolak, Sekarang Mulai Terima Lagi
Selama bertahun-tahun, pemerintah Australia sebenarnya sangat keras soal pemulangan warga yang terkait ISIS. Canberra berkali-kali menolak membantu mereka pulang karena alasan keamanan nasional.
Pemerintah Australia khawatir sebagian dari mereka masih memiliki hubungan dengan jaringan ekstremis atau membawa ideologi ISIS.
Tapi situasi di Suriah mulai berubah.
Sistem keamanan kamp-kamp penahanan di wilayah timur laut Suriah perlahan melemah, terutama setelah kondisi pasukan penjaga di sana makin tidak stabil. Karena itulah beberapa negara mulai berubah sikap dan memilih memulangkan sebagian warganya dibanding membiarkan mereka tetap berada di Suriah tanpa kepastian.
Awal bulan ini, Australia juga sudah menerima empat perempuan dan sembilan anak dari Suriah.
Namun kepulangan mereka langsung bikin heboh.
Langsung Ditangkap Setibanya di Australia
Begitu tiba di Melbourne, dua perempuan bernama Kawsar Ahmed dan putrinya Zainab Ahmed langsung ditangkap aparat keamanan Australia.
Keduanya didakwa terlibat kasus perbudakan terhadap perempuan Yazidi saat berada di wilayah kekuasaan ISIS beberapa tahun lalu.
Sementara perempuan lain, Janay Safar, menghadapi dakwaan terkait aktivitas terorisme.
Kasus itu langsung memicu perdebatan panas di Australia. Banyak pihak menuduh pemerintah terlalu lunak karena membiarkan mereka kembali setelah bertahun-tahun hidup bersama ISIS di Suriah.
Kelompok oposisi bahkan menyebut pemerintah gagal mencegah kembalinya orang-orang yang dianggap punya keterkaitan dengan organisasi ekstremis.
Meski begitu, pemerintah Australia tetap melanjutkan proses pemulangan dengan pengawasan ketat dari aparat keamanan dan intelijen.
Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, mengatakan seluruh badan keamanan sudah bersiap menghadapi kedatangan kelompok berikutnya. Pemeriksaan keamanan juga disebut akan dilakukan secara menyeluruh.
Kamp-kamp ISIS Mulai Jadi Beban Dunia
Gelombang pemulangan ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Australia.
Sejak awal tahun, beberapa negara mulai bergerak memulangkan sebagian warga mereka dari kamp-kamp Suriah. Penyebab utamanya karena situasi keamanan di sana semakin rapuh.
Pada Januari lalu, Amerika Serikat bahkan mulai memindahkan sebagian tahanan ISIS setelah struktur penjagaan kamp di wilayah yang dikuasai SDF pimpinan Kurdi mulai melemah.
Selama ini, SDF menjadi pihak utama yang menjaga ribuan tahanan ISIS dan keluarga mereka di Suriah timur laut. Tapi perubahan situasi politik dan keamanan membuat banyak negara mulai khawatir kamp-kamp itu tidak lagi aman.
Kalau sewaktu-waktu sistem penjagaan runtuh, ribuan eks anggota ISIS dan keluarganya bisa kabur begitu saja. Karena itu, negara-negara Barat kini menghadapi dilema besar.
Di satu sisi mereka khawatir soal ancaman keamanan jika para eks keluarga ISIS dipulangkan. Tapi di sisi lain, membiarkan mereka terus hidup di kamp Suriah tanpa kepastian juga dianggap bukan solusi jangka panjang.
Dan sekarang, Australia perlahan mulai mengambil keputusan yang dulu selama bertahun-tahun mereka hindari: membawa pulang warganya sendiri dari Suriah. (ahmad/andalusmedia.id)














