ISIS kembali memainkan pola lama mereka di Suriah, menyerang titik sensitif, memancing emosi sektarian, lalu mencoba mendorong negara masuk ke dalam kekacauan pasca jatuhnya Assad. Kali ini target mereka adalah kawasan Sayyidah Zainab di pedesaan Damaskus, salah satu wilayah paling sensitif bagi komunitas Syiah.
ISIS pada Kamis (7/5) secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan Farhan Hassan al-Mansour, seorang tokoh Syiah di kompleks makam Sayyidah Zainab. Farhan tewas setelah sebuah granat dilempar ke mobilnya usai shalat Jumat di kawasan Fatimiyah.
Ledakan tersebut memicu kepanikan warga sekitar. Tidak lama kemudian, media-media pendukung ISIS mulai menyebarkan klaim operasi itu dan menyebut Farhan sebagai target mereka.
Dalam propaganda yang beredar, ISIS Farhan sebagai “tokoh Rafidhah murtad”, mereka juga menuduh Farhan mendukung milisi Syiah yang sebelumnya terlibat dalam perang Suriah bersama rezim Assad. Dalam narasinya, ISIS menggambarkan pembunuhan itu sebagai bagian dari operasi “Tentara Khilafah” terhadap pihak-pihak yang mereka anggap musuh.
Di bagian lain propaganda yang sama, ISIS juga mengklaim membunuh seorang mantan anggota milisi pro-Assad di wilayah barat Hama. Korban disebut sebagai mantan anggota National Defense Forces (NDF), kelompok paramiliter pendukung Bashar al-Assad selama perang Suriah.
Namun di balik propaganda sektarian itu, banyak pihak melihat tujuan ISIS jauh lebih besar daripada sekadar menyerang tokoh Syiah.
ISIS Ingin Bakar Konflik Internal Suriah
Dari pola yang terlihat, ISIS tampaknya sedang mencoba memancing ledakan konflik sosial di Suriah. Kelompok itu diduga ingin membuat komunitas Syiah marah, kehilangan rasa aman, lalu mulai menyalahkan pemerintah Damaskus karena dianggap gagal melindungi minoritas.
Tujuan akhirnya adalah menciptakan kekacauan politik dan keamanan.
ISIS berharap setelah terjadinya aksi itu, muncul tuduhan internasional bahwa pemerintahan Presiden Ahmad al-Sharaa bersikap anti-minoritas atau tidak mampu menjaga stabilitas negara. Jika situasi memburuk, tekanan asing terhadap Suriah bisa kembali meningkat.
Pola seperti ini sebenarnya pernah dimainkan ISIS pada masa awal setelah jatuhnya Damaskus. Saat itu sel-sel ISIS mencoba menciptakan serangan-serangan sektarian untuk memancing bentrokan horizontal dan membentuk opini global bahwa Suriah sedang menuju perang agama.
Karena itu, banyak analis melihat pembunuhan Farhan bukan sekadar aksi teror biasa, tetapi bagian dari operasi yang lebih besar untuk mengguncang fondasi sosial Suriah.
Sel ISIS sempat merencanakan pengeboman langsung terhadap kompleks makam Sayyidah Zainab pada Februari tahun lalu. Jika rencana itu berhasil, dampaknya bisa sangat besar. Kompleks Sayyidah Zainab bukan hanya situs keagamaan biasa, tetapi simbol penting bagi komunitas Syiah di Suriah, Lebanon, Irak, hingga Iran.
Serangan di tempat itu berpotensi memicu ledakan kemarahan besar, mobilisasi kelompok bersenjata Syiah, bahkan membuka konflik sektarian baru di kawasan.
Namun aparat keamanan Suriah disebut berhasil menggagalkan rencana tersebut sebelum dieksekusi.
Kementerian Dalam Negeri Suriah sendiri menyebut serangan terhadap Farhan sebagai bagian dari “upaya sistematis untuk mengguncang keamanan dan merusak perdamaian sipil”. Pemerintah juga menegaskan akan memburu semua pihak yang terlibat dalam operasi tersebut.
Komunitas Syiah Murka, Ahmad al-Sharaa Juga Jadi Target
Pihak pengelola makam Sayyidah Zainab mengeluarkan kecaman keras atas pembunuhan Farhan. Dalam pernyataannya, mereka menyebut serangan itu sebagai “kejahatan keji terhadap kemanusiaan dan simbol-simbol Ahlul Bait.”
Mereka juga mengatakan darah Syekh Farhan tidak akan membuat mereka mundur. Pernyataan itu menegaskan bahwa komunitas Syiah akan tetap “teguh membela jalan Ahlul Bait dan menghadapi kebatilan.”
Di media sosial, kemarahan juga mulai terlihat. Banyak akun Syiah menyebut serangan itu sebagai upaya ISIS menghidupkan kembali perang sektarian di Suriah. Sebagian bahkan mulai mempertanyakan keamanan kawasan Sayyidah Zainab yang selama ini dianggap sebagai wilayah paling dijaga di Damaskus.
Di saat yang sama, muncul pula informasi bahwa ISIS tidak hanya menargetkan tokoh Syiah, tetapi juga Presiden Ahmad al-Sharaa. Kelompok itu disebut memiliki rencana untuk menyerang pemimpin Suriah tersebut sebagai bagian dari upaya mengguncang pemerintahan baru Damaskus.
Hal ini memperlihatkan bahwa target utama ISIS sebenarnya bukan satu kelompok tertentu saja. Yang mereka incar adalah Suriah secara keseluruhan.
ISIS membutuhkan Suriah yang kacau, penuh ketakutan, dan dipenuhi konflik internal agar mereka bisa kembali hidup di tengah kekacauan itu. Karena bagi kelompok tersebut, stabilitas adalah musuh terbesar mereka. (ahmad/andalusmedia.id)