Suriah kembali mencatat langkah diplomatik besar di bawah pemerintahan Presiden Ahmad al-Sharaa setelah laporan terbaru menyebut Damaskus akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Prancis sebagai negara tamu. Jika terealisasi, ini akan menjadi partisipasi pertama Suriah dalam forum negara-negara ekonomi terbesar dunia sejak kelompok tersebut dibentuk pada tahun 1975.
Menurut laporan Reuters yang mengutip tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Presiden Ahmad al-Sharaa dijadwalkan menghadiri KTT G7 yang berlangsung pada 15–17 Juni 2026 di Évian-les-Bains, Prancis tenggara. Undangan itu disebut telah disampaikan langsung kepada Menteri Keuangan Suriah Yisr Barnieh saat menghadiri pembicaraan keuangan internasional di Paris awal pekan ini.
Kehadiran Suriah dalam forum G7 sebagai perkembangan diplomatik yang sangat signifikan. Setelah lebih dari satu dekade terisolasi akibat perang, sanksi, dan konflik berkepanjangan, Damaskus kini mulai kembali diterima di berbagai forum internasional tingkat tinggi.
Langkah tersebut juga memperlihatkan perubahan besar dalam posisi geopolitik Suriah pasca runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada akhir 2024. Pemerintahan baru di bawah Ahmad al-Sharaa secara bertahap berhasil membuka kembali hubungan dengan negara-negara regional maupun Barat, termasuk dalam bidang ekonomi, keamanan, dan investasi.
Suriah Era Ahmad Al Sharaa Menjadi Wilayah Strategis di Tengah Krisis Global
Menurut salah satu sumber Reuters, pembahasan mengenai Suriah di forum G7 kemungkinan akan berfokus pada peran strategis negara itu dalam rantai pasokan global, khususnya setelah terganggunya jalur perdagangan internasional akibat penutupan Selat Hormuz selama perang Iran yang meletus pada Februari lalu.
Gangguan di Selat Hormuz telah memukul perdagangan global dan memicu kekhawatiran besar terhadap distribusi energi dan logistik internasional. Dalam situasi tersebut, Suriah dipandang memiliki posisi geografis penting yang dapat menjadi jalur alternatif perdagangan dan distribusi regional.
Posisi Suriah yang menghubungkan kawasan Timur Tengah, Mediterania, Turki, dan jalur menuju Eropa menjadikan negara itu kembali dilihat sebagai titik strategis dalam peta ekonomi kawasan. Pemerintah Suriah sendiri dalam beberapa bulan terakhir aktif menawarkan proyek investasi besar di sektor pelabuhan, logistik, transportasi, dan energi.
Partisipasi Suriah di KTT G7 juga terjadi di tengah berbagai upaya pemulihan ekonomi yang sedang dijalankan Damaskus. Setelah sebagian besar sanksi internasional mulai dilonggarkan, pemerintah Suriah bergerak cepat membangun kembali hubungan perbankan, sistem pembayaran global, dan konektivitas perdagangan internasional.
Dalam beberapa pekan terakhir, Suriah juga mulai kembali terhubung dengan jaringan pembayaran Visa dan Mastercard setelah lebih dari 15 tahun terisolasi dari sistem keuangan global. Pemerintah melihat pemulihan ekonomi digital dan investasi asing sebagai fondasi utama pembangunan pascaperang.
Meski demikian, tantangan yang dihadapi Suriah masih sangat besar. Infrastruktur di berbagai wilayah masih rusak akibat perang panjang, sementara pemulihan sektor perbankan dan investasi berjalan lebih lambat dibanding harapan sebagian pejabat.
Namun undangan menuju forum G7 sebagai sinyal politik dan ekonomi yang sangat penting. Banyak pengamat melihat langkah ini sebagai bentuk meningkatnya pengakuan internasional terhadap pemerintahan baru Suriah dan stabilitas yang mulai terbentuk di negara tersebut.
Kehadiran Ahmad al-Sharaa di forum G7 juga diperkirakan akan membuka peluang pembicaraan baru mengenai investasi, rekonstruksi, perdagangan, hingga kerja sama keamanan kawasan. Di saat dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik akibat konflik Iran dan ketegangan global lainnya, posisi Suriah kini perlahan berubah dari negara konflik menjadi aktor regional yang mulai diperhitungkan kembali.
Dalam beberapa bulan terakhir, Ahmad al-Sharaa juga aktif melakukan kunjungan diplomatik ke berbagai negara. Ia telah melakukan pertemuan dengan sejumlah pemimpin regional dan Barat untuk memperluas kerja sama politik dan ekonomi Suriah.
Bagi Damaskus, undangan menuju G7 adalah bagian dari strategi lebih besar untuk mengembalikan Suriah ke panggung internasional setelah bertahun-tahun terkucil akibat perang dan sanksi.
Jika kehadiran tersebut benar-benar terwujud bulan depan, maka itu akan menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam transformasi politik Suriah modern. Dari negara yang selama bertahun-tahun identik dengan perang saudara dan isolasi internasional, Suriah kini mulai tampil kembali dalam forum elite global bersama negara-negara ekonomi terbesar dunia.
Perkembangan ini sekaligus menunjukkan bahwa peta politik Timur Tengah terus berubah cepat. Dan di tengah perubahan tersebut, Suriah di bawah Ahmad al-Sharaa tampaknya sedang berusaha membangun posisi baru sebagai negara yang tidak lagi hanya menjadi arena konflik, tetapi juga pemain penting dalam dinamika ekonomi dan geopolitik kawasan. (ahmad/andalusmedia.id)














