Pemerintah Suriah terus memperluas hubungan diplomatiknya dengan berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini terlihat dari pertemuan Menteri Dalam Negeri Suriah dengan delegasi diplomatik Indonesia di Damaskus yang membahas penguatan kerja sama bilateral antara kedua negara.
Menurut laporan Kantor Berita Arab Suriah SANA, Menteri Dalam Negeri Suriah Anas Khattab menerima delegasi Kedutaan Besar Republik Indonesia yang dipimpin oleh Lukman Hakim Siregar di Damaskus.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Direktur Departemen Kerja Sama Internasional Kementerian Dalam Negeri Suriah Kolonel Abdul Rahim Jabara serta perwakilan dari Kementerian Luar Negeri Suriah.
Dalam pembicaraan itu, kedua pihak membahas berbagai peluang kerja sama bilateral yang dapat dikembangkan pada periode mendatang, khususnya dalam bidang administrasi, keamanan, dan koordinasi antar lembaga pemerintahan.
Pemerintah Suriah menyebut pertemuan tersebut sebagai bagian dari dimulainya tugas resmi duta besar Indonesia yang baru di Damaskus. Langkah ini sebagai sinyal positif dalam hubungan Suriah–Indonesia setelah bertahun-tahun kawasan Timur Tengah mengalami ketidakstabilan akibat perang.
Banyak pengamat melihat komunikasi diplomatik ini sebagai tanda bahwa Damaskus mulai kembali membuka hubungan lebih luas dengan negara-negara Asia, termasuk Indonesia yang selama ini dikenal memiliki posisi penting di dunia Islam.
Pertemuan tersebut juga menunjukkan bahwa pemerintahan baru Suriah di bawah kepemimpinan Ahmad al-Sharaa sedang berupaya memperluas jaringan hubungan internasionalnya, baik di bidang politik, ekonomi, maupun keamanan.
Di waktu yang hampir bersamaan, Presiden Ahmad al-Sharaa juga menerima Direktur Organisasi Intelijen Nasional Turki, İbrahim Kalın, di Istana Rakyat Damaskus.
Pertemuan tersebut membahas perkembangan kawasan dan peningkatan koordinasi antara Suriah dan Turki. Hadir pula Menteri Luar Negeri Suriah Asaad Hassan al-Shaibani serta Kepala Badan Intelijen Umum Suriah Hussein al-Salamah.
Serangkaian pertemuan diplomatik ini memperlihatkan bahwa Suriah sedang bergerak menuju fase baru hubungan luar negeri pasca perang panjang yang menghancurkan negara tersebut selama lebih dari satu dekade.
Setelah bertahun-tahun mengalami isolasi internasional, Damaskus kini mulai membangun kembali komunikasi regional dan internasional secara lebih aktif.
Hubungan dengan Indonesia memiliki potensi besar, terutama karena kedua negara sama-sama memiliki posisi penting di dunia Islam dan memiliki kepentingan dalam stabilitas kawasan.
Selain isu diplomasi, kerja sama di bidang pendidikan, kemanusiaan, ekonomi, dan rekonstruksi Suriah juga dinilai berpotensi berkembang pada masa mendatang.
Banyak pihak di Suriah melihat Indonesia sebagai negara Muslim besar yang memiliki pengaruh penting di Asia Tenggara dan dapat menjadi salah satu mitra strategis dalam proses pemulihan Suriah pascaperang.
Sementara itu, bagi Indonesia, hubungan yang lebih aktif dengan Damaskus dinilai penting untuk memperkuat jalur diplomasi di Timur Tengah yang saat ini sedang mengalami perubahan geopolitik cukup besar.
Langkah Suriah memperluas hubungan internasional juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, terutama akibat serangan-serangan Israel yang terus berulang di wilayah Suriah.
Karena itu, pemerintah Suriah saat ini tidak hanya fokus pada pemulihan ekonomi dan keamanan dalam negeri, tetapi juga berupaya memperkuat hubungan diplomatik dan regional untuk menghadapi tantangan geopolitik yang semakin kompleks.
Banyak pengamat melihat pemerintahan Ahmad al-Sharaa sedang mencoba membangun citra Suriah sebagai negara yang kembali aktif, terbuka terhadap kerja sama internasional, dan perlahan keluar dari isolasi politik yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Pertemuan dengan Indonesia menjadi salah satu bagian dari langkah tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa Damaskus kini mulai kembali diperhitungkan dalam percaturan diplomasi kawasan dan dunia Islam. (ahmad/andalusmedia.id)














