GAZA — Situasi keamanan di Jalur Gaza kembali memanas setelah komandan senior Brigade Al-Qassam, Izzuddin Al-Haddad, dilaporkan tewas dalam serangan pada Jumat (15/5/2026). Kematian tokoh yang dijuluki “Sang Hantu” oleh Israel dinilai dapat memperbesar eskalasi konflik di tengah rapuhnya kesepakatan gencatan senjata.
Al-Haddad dikenal sebagai salah satu tokoh militer Hamas yang paling lama diburu aparat keamanan Israel. Selama bertahun-tahun, ia berhasil lolos dari sejumlah percobaan pembunuhan dan memainkan peran penting dalam struktur militer Brigade Al-Qassam di Gaza.
Sejumlah sumber Palestina menyebut Al-Haddad memiliki pengaruh besar dalam pengembangan strategi militer Hamas, terutama dalam penguatan jaringan pertahanan dan koordinasi operasi di wilayah Gaza utara. Namanya mulai dikenal luas sejak meningkatnya konfrontasi antara Hamas dan Israel dalam beberapa tahun terakhir.
Pimpinan senior Hamas, Osama Hamdan, menilai pembunuhan tersebut merupakan bagian dari upaya Israel untuk memperoleh kemenangan moral di tengah tekanan perang yang berkepanjangan. Menurutnya, langkah itu juga dimaksudkan untuk menekan Hamas agar menerima tuntutan pelucutan senjata dalam proses negosiasi internasional.
Dalam keterangannya kepada media, Hamdan menegaskan Hamas tetap membuka ruang diplomasi selama jalur perundingan tidak dihancurkan sepenuhnya oleh tindakan militer Israel.
“Negosiasi bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari perjuangan politik yang berjalan seiring dengan perlawanan,” ujarnya.
Hamas juga meminta mediator internasional dan komunitas global meningkatkan tekanan kepada Israel agar mematuhi kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya. Kelompok tersebut menyebut pembunuhan Al-Haddad sebagai tindakan yang dapat merusak peluang terciptanya ketenangan di Gaza.
Di sisi lain, berbagai kalangan internasional memiliki pandangan berbeda terkait dampak peristiwa ini. Sebagian analis menilai eskalasi kemungkinan masih berada dalam skala terbatas, namun ada pula yang memperingatkan potensi konflik lebih luas jika ketegangan terus meningkat.
Di Amerika Serikat, belum ada pernyataan resmi pemerintah terkait tingginya Al-Haddad. Namun sejumlah media dan pengamat di Washington peristiwa itu dengan dinamika perang Gaza pasca-serangan 7 Oktober yang hingga kini masih mempengaruhi kebijakan luar negeri AS terhadap Israel dan Palestina.
Baca Artikel Lainnya: Wartawan Indonesia Ditahan Israel usai Armada Bantuan Gaza Dicegat di Laut Mediterania
Pengamat hubungan internasional di Washington, Hassan Mneimneh, menilai kebijakan Amerika Serikat masih berangkat dari pandangan bahwa Hamas harus dilemahkan secara politik maupun militer. Oleh karena itu, tekanan diplomatik internasional lebih banyak diarahkan kepada Hamas dibandingkan pemerintah Israel.
Sementara itu, kondisi kemanusiaan di Gaza terus memburuk akibat serangan yang belum sepenuhnya berhenti. Serangan udara terbaru dilaporkan menyebabkan jatuhnya korban sipil, termasuk seorang janin berusia delapan bulan yang meninggal setelah ibunya terkena dampak serangan di kawasan Al-Rimal, Kota Gaza.
Rumah sakit di Gaza juga melaporkan kembali mengirimkan menangani korban luka di tengah keterbatasan obat-obatan, listrik, dan bahan bakar. Organisasi kesejahteraan internasional memperingatkan bahwa situasi sipil di Gaza semakin mendekati titik kritis jika akses bantuan terus terhambat.
Jenazah Al-Haddad dimakamkan di Gaza dengan dihadiri ribuan warga Palestina yang membawa bendera perlawanan dan mengirimkan dukungan terhadap Brigade Al-Qassam. Suasana pemakaman berlangsung penuh emosi dan pengamanan ketat di tengah kekhawatiran akan kemungkinan serangan lanjutan.
Sebelum terbunuh, Al-Haddad diketahui pernah memimpin Brigade Gaza dan disebut menjadi salah satu komandan utama Al-Qassam setelah sejumlah petinggi Hamas lainnya gugur dalam konflik yang terus berlangsung hingga sekarang. (haidar/andalusmedia.id)














