KABUL — Pemimpin tertinggi Imarah Islam Afghanistan (IIA), Hibatullah Akhundzada, meminta para ulama dan cendekiawan agama untuk menulis serta mengabadikan sejarah perjuangan Taliban selama perang Afghanistan.
Seruan itu disampaikan dalam pertemuan bersama Dewan Ulama Provinsi Parwan dan Kapisa pada Ahad (17/5/2026). Dalam forum tersebut, Akhundzada menekankan pentingnya mendokumentasikan kisah para pejuang Taliban yang tewas selama konflik melawan pemerintahan Afghanistan sebelumnya dan pasukan asing pimpinan Amerika Serikat.
Pemerintah Taliban menyebut para pejuang yang gugur itu sebagai “mujahidin” dan “syuhada”. Akhundzada meminta kisah mereka ditulis dalam bentuk buku, risalah, dan dokumentasi sejarah agar tetap dikenang generasi Afghanistan berikutnya.
“Tulislah buku dan risalah tentang para pejuang yang gugur agar sejarah jihad tetap hidup bagi generasi mendatang,” ujar Akhundzada seperti dikutip media Afghanistan.
Ia juga meminta perhatian khusus diberikan pada lokasi gugurnya para pejuang Taliban. Menurutnya, tempat-tempat tersebut perlu didokumentasikan dan dijaga sebagai bagian dari sejarah perjuangan Afghanistan selama perang dua dekade terakhir.
Pertemuan itu turut dihadiri Amir Khan Muttaqi, pejabat pemerintahan Taliban, serta sejumlah ulama Afghanistan. Wakil juru bicara Taliban, Hamdullah Fitrat, mengatakan pembahasan juga mencakup pemasangan plakat atau penanda di makam para pejuang Taliban sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian sejarah.
Baca Artikel Lainnya: Armada Sumud Dekati Gaza, Kapal Misterius Kepung Konvoi Bantuan Kemanusiaan
Sejak kembali menguasai Kabul pada Agustus 2021, Taliban aktif membangun narasi resmi mengenai kemenangan mereka melalui lembaga pendidikan, media, penerbitan buku, hingga dokumentasi sejarah perang Afghanistan. Pemerintahan Taliban menilai perang melawan pasukan asing sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kedaulatan Afghanistan.
Akhundzada sendiri memimpin Taliban sejak 2016 setelah pendahulunya, Mullah Akhtar Mansour, tewas dalam serangan drone Amerika Serikat di Pakistan. Berbeda dengan sejumlah pemimpin Taliban lain yang dikenal sebagai komandan lapangan, Akhundzada lebih dikenal sebagai ulama dan otoritas fatwa di dalam struktur Taliban.
Sejumlah pengamat internasional menilai langkah Taliban mendokumentasikan sejarah perang merupakan bagian dari strategi memperkuat legitimasi politik dan ideologi mereka pasca kemenangan militer. Dengan membangun narasi sejarah resmi, Taliban berupaya membentuk identitas generasi muda Afghanistan sesuai versi perjuangan mereka.
Namun, pemerintahan Taliban masih terus mendapat sorotan dunia internasional terkait isu hak asasi manusia, pembatasan terhadap perempuan, pendidikan anak perempuan, hingga kebebasan sipil sejak kembali berkuasa di Afghanistan. (haidar/andalusmedia.id)














