Presiden Ahmad al-Sharaa hari ini menerima Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, di Istana Kepresidenan Damaskus dalam pertemuan yang dipandang sebagai langkah serius membangun poros baru Suriah-Lebanon sekaligus mempersempit pengaruh Hizbullah di kawasan.
Pertemuan ini terjadi di tengah perubahan besar geopolitik Timur Tengah setelah melemahnya pengaruh Iran di Suriah dan meningkatnya dukungan regional terhadap pemerintahan baru Damaskus. Kini, Suriah tampak tidak lagi ingin Lebanon terus berada di bawah bayang-bayang Hizbullah yang selama bertahun-tahun menjadi kekuatan paling dominan di Beirut.
Ahmad al-Sharaa Perkuat Beirut, Hizbullah Hadapi Ancaman Politik Baru
Selama ini Hizbullah tumbuh menjadi aktor paling kuat di Lebanon karena lemahnya negara dan besarnya dukungan Iran, baik secara finansial, politik, maupun militer. Pemerintah Lebanon sering terlihat tidak memiliki kendali penuh terhadap arah keamanan dan politik negara karena keputusan strategis banyak dipengaruhi kepentingan Hizbullah dan poros Tehran.
Namun situasi mulai berubah. Pemerintahan Ahmad al-Sharaa kini memilih membangun hubungan langsung dengan institusi resmi Lebanon dan memperkuat negara Lebanon sebagai mitra regional. Damaskus tampaknya ingin Beirut kembali dipimpin oleh negara, bukan dikendalikan kelompok bersenjata.
Pertemuan Al-Sharaa dan Nawaf Salam disebut membahas koordinasi keamanan, hubungan politik, penguatan perbatasan, serta sikap bersama menghadapi tekanan Israel. Di balik itu semua, ada pesan yang jauh lebih besar: Suriah ingin membangun Lebanon yang kuat melalui pemerintah resminya, bukan melalui dominasi Hizbullah.
Langkah ini otomatis menjadi ancaman politik bagi Hizbullah. Sebab semakin kuat hubungan resmi Damaskus-Beirut, semakin kecil ruang Hizbullah untuk bergerak sebagai kekuatan tunggal yang mengontrol keputusan Lebanon.
Apalagi setelah pemerintahan baru Suriah mulai membuka diri kepada Turki, Arab Saudi, Qatar, dan negara-negara Arab lainnya, pengaruh Iran di Levant perlahan mulai terdesak. Kawasan kini bergerak menuju poros baru yang lebih menekankan penguatan negara dan stabilitas regional dibanding dominasi milisi bersenjata.
Dalam beberapa bulan terakhir, Ankara dan Riyadh juga terlihat semakin aktif mendukung stabilitas Lebanon dan Suriah. Kedua negara disebut mendorong terbentuknya koordinasi regional baru untuk menghadapi tekanan Israel sekaligus mencegah Lebanon jatuh sepenuhnya ke dalam konflik internal dan pengaruh kelompok bersenjata.
Bagi Damaskus, memperkuat pemerintah resmi Lebanon juga penting untuk menghentikan skenario Israel yang mencoba memecah Suriah dan Lebanon melalui jalur negosiasi terpisah. Suriah khawatir Israel memanfaatkan lemahnya posisi Beirut untuk membangun realitas geopolitik baru di wilayah selatan Lebanon dan Suriah selatan.
Karena itu, koordinasi langsung antara Al-Sharaa dan Nawaf Salam dipandang sebagai langkah strategis untuk membangun front politik baru yang lebih terorganisir dan berbasis negara resmi, bukan jaringan milisi.
Di sisi lain, Hizbullah kini menghadapi tekanan yang tidak ringan. Selain tekanan militer dan ekonomi, kelompok itu mulai kehilangan lingkungan regional yang dulu menopangnya. Pemerintahan baru Suriah tidak lagi sepenuhnya berada di orbit Iran seperti era sebelumnya, sementara negara-negara Arab mulai aktif masuk membangun pengaruh di Beirut dan Damaskus.
Pertemuan hari ini di Damaskus menjadi sinyal bahwa Suriah sedang memainkan peran baru di kawasan: membangun hubungan erat dengan pemerintah Lebanon sekaligus mendorong berakhirnya era dominasi kelompok bersenjata atas negara.
Jika poros Damaskus-Beirut terus menguat, maka untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Hizbullah bisa menghadapi ancaman politik paling serius terhadap pengaruhnya di Lebanon. (ahmad/andalusmedia.id)