Surat kabar Israel Haaretz mengungkap skandal keamanan baru terkait penyelundupan barang ke Jalur Gaza. Sebanyak 21 truk dilaporkan berhasil masuk ke Gaza melalui jalur ilegal dengan dugaan keterlibatan perwira militer Israel, pejabat intelijen, dan jaringan mafia penyelundupan.
Menurut laporan yang dipublikasikan pada Rabu (6/5/2026), otoritas pajak Israel bersama militer menyita truk-truk tersebut setelah diketahui membawa barang bernilai jutaan shekel tanpa melalui pemeriksaan keamanan resmi.
Investigasi menyebut kendaraan tersebut memasuki Gaza melalui penyeberangan Kissufim secara ilegal. Para penyelundup diduga menggunakan modus melaporkan truk sebagai “kendaraan curian” di wilayah Israel guna menutupi aktivitas pergerakan mereka.
Truk-truk tersebut kemudian terdeteksi saat mencoba kembali dalam keadaan kosong melalui perlintasan Kerem Abu Salem untuk mengambil muatan baru.
Kasus ini memicu penyelidikan besar yang berujung pada dakwaan terhadap sejumlah warga Israel. Mereka yang disebut terlibat mencakup perwira militer hingga pejabat senior badan intelijen Shin Bet.
Laporan juga menyebut nama Bezalel Zini, saudara kepala Shin Bet, yang dituduh terlibat dalam penyelundupan berbagai barang terlarang ke Gaza. Barang-barang tersebut antara lain rokok, telepon genggam, dan komputer.
Munculnya kasus ini disebut berkaitan dengan situasi ekonomi dan kemanusiaan yang memburuk di Gaza. Organisasi kemanusiaan menilai pembatasan ketat Israel terhadap barang “dual-use” atau penggunaan ganda telah memicu berkembangnya pasar gelap di wilayah tersebut.
Barang-barang penting seperti generator listrik, panel surya, hingga suku cadang kendaraan dilaporkan diperjualbelikan dengan harga sangat tinggi melalui jalur ilegal. Kondisi ini terjadi karena keterbatasan akses resmi terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
Baca Artikel Lainnya: Hamas dan Mediator Bertemu di Turki untuk “Menyelamatkan” Perjanjian Gaza
Selain berdampak pada aktivitas ekonomi, pembatasan tersebut juga disebut menghambat organisasi internasional dalam memperbaiki infrastruktur penting di Gaza. Beberapa proyek yang terdampak meliputi jaringan limbah, sistem pembuangan air, hingga fasilitas publik yang rusak akibat konflik.
Kasus penyelundupan ini muncul di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Gaza akibat blokade berkepanjangan dan terbatasnya distribusi bantuan kemanusiaan.
Sejumlah pihak menilai berkembangnya jalur ilegal menjadi indikasi bahwa situasi ekonomi dan kebutuhan dasar masyarakat Gaza semakin sulit dipenuhi melalui mekanisme resmi. Hal tersebut juga memunculkan kekhawatiran terkait potensi meningkatnya aktivitas pasar gelap dan jaringan kriminal di wilayah perbatasan.
Hingga kini, pihak berwenang Israel masih melanjutkan penyelidikan terhadap dugaan keterlibatan berbagai pihak dalam kasus tersebut. Perkembangan lebih lanjut diperkirakan akan menjadi perhatian publik karena menyangkut isu keamanan dan pengawasan di wilayah perbatasan Gaza. (haidar/andalusmedia.id)