Kepala Hamas di Gaza, Khalil al-Hayya, menegaskan bahwa serangan Israel terhadap para pemimpin Palestina dan anggota keluarga mereka tidak akan melemahkan keteguhan rakyat Palestina dalam menghadapi perang yang terus berlangsung di Jalur Gaza.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera Arabic pada Rabu (7/5/2026), Al-Hayya mengungkapkan bahwa putranya, Azzam al-Hayya, mengalami luka serius akibat serangan udara Israel yang menghantam kawasan Al-Daraj di Gaza pada Rabu malam.
Ia juga menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Hamza al-Sharbasi dalam serangan yang sama. Menurut Al-Hayya, sejumlah korban lain turut mengalami luka berat di tengah kondisi kemanusiaan yang disebut semakin memburuk.
Al-Hayya tidak secara langsung memastikan apakah putranya menjadi target utama dalam serangan tersebut. Namun, ia menilai seluruh rakyat Palestina kini menjadi sasaran operasi militer Israel yang terus berlangsung di Gaza.
Menurutnya, Israel menggunakan kebijakan pembunuhan dan intimidasi sebagai upaya untuk menekan para negosiator Palestina agar menyerah dalam proses perundingan yang sedang berlangsung.
“Penargetan terhadap para pemimpin dan anak-anak mereka tidak akan mematahkan tekad rakyat Palestina,” kata Al-Hayya dalam wawancara tersebut.
Ia menambahkan bahwa rakyat Palestina akan tetap bertahan di tanah mereka meskipun harus menghadapi pengorbanan besar akibat konflik yang berkepanjangan.
Terkait perjanjian gencatan senjata, Al-Hayya menuduh Israel tidak menjalankan komitmen dalam fase pertama kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya.
Menurutnya, lebih dari 850 warga Palestina tewas selama tujuh bulan terakhir, dengan rata-rata lima korban jiwa setiap hari. Selain itu, ribuan warga lainnya disebut mengalami luka-luka akibat serangan yang terus berlangsung.
Al-Hayya juga menuduh Israel menerapkan “kelaparan sistematis” dengan membatasi masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza. Ia menyebut Hamas telah menyerahkan laporan harian kepada para mediator internasional terkait dugaan pelanggaran tersebut, namun Israel disebut mengabaikannya.
Ia mendesak negara-negara mediator, terutama Amerika Serikat, untuk memberikan tekanan kepada Israel agar mematuhi isi kesepakatan gencatan senjata.
Dalam pembahasan negosiasi, Al-Hayya menyatakan kegagalan menuju fase kedua perjanjian disebabkan oleh ketidakpatuhan Israel terhadap kewajiban pada fase pertama.
Baca Artikel Lainnya: Tokoh Palestina Ungkap Proyek Ekspansionis Israel di Timur Tengah
Meski demikian, Hamas disebut tetap siap melanjutkan proses menuju tahap berikutnya apabila seluruh kewajiban kemanusiaan dilaksanakan secara penuh, termasuk distribusi bantuan dan perlindungan warga sipil.
Al-Hayya juga menolak wacana pelucutan senjata kelompok perlawanan pada kondisi saat ini. Menurutnya, pembicaraan mengenai isu strategis tersebut tidak realistis ketika kebutuhan dasar masyarakat Gaza seperti makanan, obat-obatan, dan akses bantuan kemanusiaan belum terpenuhi.
Ia menambahkan bahwa ribuan jenazah korban masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan akibat serangan yang terjadi selama konflik berlangsung.
Dalam pernyataannya, Al-Hayya menyebut para mediator seperti Mesir, Qatar, Turki, serta Amerika Serikat menghadapi tanggung jawab besar untuk memastikan Israel mematuhi kesepakatan.
Menurutnya, keberhasilan negosiasi sangat bergantung pada kemampuan negara-negara penjamin dalam menekan Israel agar memenuhi kewajibannya.
Ia juga mengungkapkan bahwa proses perundingan masih berlangsung dan beberapa pertemuan intensif telah digelar di Kairo dalam beberapa hari terakhir.
Menanggapi ancaman Israel untuk melanjutkan perang, Al-Hayya menegaskan bahwa agresi sebenarnya tidak pernah berhenti, melainkan hanya berlangsung dalam intensitas berbeda.
Meski demikian, Hamas disebut tidak menginginkan eskalasi baru, tetapi siap membela rakyat Palestina apabila konfrontasi kembali meningkat.
Ia menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah menghentikan perang secara total, memulai rekonstruksi Gaza, serta memastikan penarikan pasukan Israel dari wilayah tersebut.
Al-Hayya juga menyerukan keterlibatan komunitas internasional untuk mencegah situasi berkembang menjadi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. (haidar/andalusmedia.id)