• Latest
  • All
  • Kabar Suriah
  • Kabar Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
Perang Iran

Perang Iran Belum Selesai, Trump Hanya Menekan Tombol Jeda

1 minggu ago
Abiy Ahmed

Perang Sudan Kian Panas, Nama Abiy Ahmed Muncul di Balik Dukungan untuk RSF

16 jam ago
Al-Aqsa

Al-Aqsa Memanas Jelang Jumat Nakba, Palestina Sebut Ancaman Israel Paling Berbahaya

16 jam ago
Pemerintah Baru Suriah Desak Lebanon Seret Buronan Rezim Assad

Pemerintah Baru Suriah Tuduh Hizbullah Lindungi Penjahat Rezim Assad di Lebanon

19 jam ago
Hizbullah

Hizbullah Sembunyikan Ratusan Perwira Rezim Assad di Lebanon

19 jam ago
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Copyright
Kamis, Mei 14, 2026
Andalus Media
  • Home
  • Suriah
    • Kabar Suriah
    • Masa Revolusi Suriah
    • Tokoh Revolusi Suriah
    • Sejarah Suriah
  • Palestina
    • Kabar Palestina
    • Sejarah Palestina
    • Tokoh Palestina
  • Dunia Islam
    • Afghanistan
    • Arab Saudi
    • Qatar
    • Yordania
    • Turki
    • Irak
    • Uyghur
    • Sudan
    • Rohingnya
    • Lebanon
    • Mesir
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Andalus Media
  • Home
  • Suriah
  • Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi
Home Opini

Perang Iran Belum Selesai, Trump Hanya Menekan Tombol Jeda

by Admin Andalus
1 minggu ago
A A
Perang Iran

Rakyat Iran mengibarkan bendera negaranya dan memegang potret mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan putranya Ayatollah Mojtaba Khamenei untuk mendukungnya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru di Baghdad, Senin (9/3/2026). (AP Photo/Hadi Mizban)

2.4k
SHARES
4.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Perang Iran belum benar-benar selesai. Pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Kongres pada 1 Mei 2026 tentang berakhirnya operasi militer melawan Iran lebih terlihat sebagai jeda taktis daripada akhir konflik sesungguhnya. Di balik pernyataan resmi Washington, bara perang Iran masih menyala dan bahkan berpotensi menjadi lebih berbahaya dari sebelumnya.

Alasan utama pecahnya perang Iran pada akhir Februari lalu tidak pernah benar-benar diselesaikan. Program nuklir Iran tetap menjadi ancaman utama menurut Amerika Serikat dan Israel. Pengaruh regional Teheran juga belum runtuh. Bahkan muncul persoalan baru yang jauh lebih sensitif: ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur energi paling vital di dunia.

Artikel opini Nasr Taha Mustafa di Al Jazeera menggambarkan bahwa Iran memang mengalami kerusakan besar akibat serangan Israel dan Amerika Serikat. Pusat-pusat militer, keamanan, dan politik Iran dihantam keras. Pembunuhan sejumlah elite strategis mengguncang struktur kekuasaan Teheran. Tetapi yang mengejutkan dunia adalah fakta bahwa Republik Islam Iran ternyata tidak runtuh.

Iran justru menunjukkan daya tahan yang selama ini diremehkan Barat. Setelah puluhan tahun hidup di bawah sanksi internasional, tekanan ekonomi, dan isolasi politik, Teheran terbiasa bertahan dalam situasi ekstrem. Sistem teokrasi Iran mungkin terlihat rapuh dari luar, tetapi perang membuktikan bahwa fondasi kekuasaan mereka jauh lebih kokoh dibanding perkiraan banyak pihak.

RelatedPosts

Rusia-Iran dan Permainan Besar Timur Tengah

Israel sendiri sudah lama mempersiapkan perang ini. Artikel tersebut menyoroti bagaimana operasi intelijen Israel terhadap Iran berlangsung lebih dari dua dekade. Puncaknya terlihat setelah peristiwa “Banjir Al-Aqsa” pada 7 Oktober 2023, ketika Israel mulai menggempur seluruh poros perlawanan yang berafiliasi dengan Teheran, mulai dari Lebanon, Suriah, Irak hingga Yaman.

Namun perang Iran juga membuka kenyataan pahit bagi Barat. Selama bertahun-tahun, sanksi terhadap Iran ternyata gagal menghentikan ambisi regional dan program militernya. Nuklir Iran tetap berkembang. Pengaruh Iran di Timur Tengah justru meluas setelah perang Amerika di Afghanistan dan Irak menghancurkan keseimbangan kawasan.

Penulis bahkan menilai kebijakan Barat terhadap Iran selama puluhan tahun penuh kontradiksi. Di satu sisi, Barat menyebut Iran sebagai ancaman. Tetapi di sisi lain, negara-negara Barat tetap memberi ruang bagi Teheran untuk memperluas pengaruhnya. Perjanjian nuklir 2015 pada era Barack Obama dianggap menjadi titik penting yang memberi Iran ruang ekonomi dan politik lebih besar. Dana Iran yang dibekukan dicairkan kembali dan sebagian besar memperkuat proyek militer serta jaringan proksi regional mereka.

Tulisan ini juga menyentuh isu yang sangat sensitif: bagaimana Barat memandang Iran secara historis. Penulis berpendapat bahwa dunia Barat memiliki ketertarikan besar terhadap peradaban Persia yang berusia ribuan tahun. Karena itu, Iran sering diperlakukan berbeda dibanding negara-negara Arab lain. Bahkan ketika Iran dipimpin tokoh reformis seperti Mohammad Khatami atau Hassan Rouhani, Barat selalu menyambutnya dengan optimisme, meski struktur teokrasi Iran tidak pernah benar-benar berubah menjadi demokrasi penuh.

Pandangan tajam lain dalam artikel ini adalah dugaan bahwa Iran selama ini diposisikan sebagai penyeimbang dunia Arab. Menurut penulis, keberadaan Iran dianggap penting bagi keseimbangan geopolitik kawasan dan secara tidak langsung menjadi pelengkap kepentingan Israel dalam menjaga dunia Arab tetap terpecah. Pandangan ini memang kontroversial, tetapi menunjukkan betapa rumitnya permainan politik Timur Tengah selama puluhan tahun terakhir.

Nama Donald Trump juga menjadi sorotan utama. Penulis menilai Trump adalah presiden Amerika yang paling serius menghadapi ekspansi Iran dibanding para pendahulunya. Pada masa jabatan pertamanya, Trump keluar dari perjanjian nuklir Iran dan memerintahkan pembunuhan Qassem Soleimani, tokoh penting di balik jaringan militer Iran di Timur Tengah.

Kini, pada masa jabatan keduanya, Trump dianggap ingin menyelesaikan proyek lama tersebut. Tetapi perang Iran kali ini ternyata tidak berjalan semudah yang dibayangkan Washington dan Tel Aviv. Serangan besar-besaran memang melukai Iran, tetapi gagal menghasilkan kemenangan cepat dan mutlak.

Yang paling mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa perang Iran telah mengubah peta konflik kawasan. Dukungan Barat terhadap Israel mulai menurun akibat brutalnya perang Gaza. Pada saat bersamaan, sikap Barat terhadap Iran menjadi semakin keras. Kombinasi inilah yang membuat Timur Tengah berada dalam kondisi paling rapuh dalam beberapa dekade terakhir.

Karena itu, klaim bahwa perang Iran telah berakhir terdengar terlalu dini. Konflik ini belum selesai. Amerika Serikat mungkin menghentikan operasi terbuka, tetapi akar pertarungan tetap hidup: nuklir Iran, pengaruh regional Teheran, keamanan Israel, dan perebutan dominasi Timur Tengah.

Trump mungkin hanya menekan tombol jeda. Dan dunia kini sedang menunggu kapan perang Iran kembali meledak dengan skala yang lebih besar. (ahmad/andalusmedia.id)

Tags: amerika vs iranPerang Iranperang iran vs israel
Share946Tweet592SendShare
Previous Post

Rusia-Iran dan Permainan Besar Timur Tengah

Next Post

Rezim Assad Tumbang, Mampukah Ahmad Al-Sharaa Bawa Pengungsi Suriah Pulang?

Admin Andalus

Website ini dikelola oleh tim editorial yang dipimpin oleh Ust Masud Izzul Mujahid, Lc, berfokus pada penyajian informasi bumi syam, perkembangan dunia islam, serta dinamika geopolitik kawasan Timteng dengan pendekatan analitis dan berbasis sumber terverifikasi.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Hizbullah

Hizbullah Rencanakan Pembunuhan Kepada Pejabat Tinggi Suriah

6 Mei 2026
Israel khawatir pertahanan udara Suriah Damaskus

Israel Khawatir Pertahanan Udara Suriah Bangkit

3 Mei 2026
Ahmad al-Sharaa

Ahmad al-Sharaa Rombak Kabinet Suriah, Kritik Rakyat Mulai Dijawab

11 Mei 2026
Masjid Umayyah Damaskus simbol sejarah Islam dan pusat peradaban di Bumi Syam sejak masa kekhalifahan

Bumi Syam: Keutamaan, Sejarah, dan Jejak Peradaban Islam

sejarah negara Suriah Damaskus

Sejarah Negara Suriah Modern yang Menentukan Arah Timur Tengah

sejarah Palestina Yerusalem lama

Sejarah Palestina Pasca Runtuhnya Utsmani yang Mengguncang Timur Tengah

Abiy Ahmed

Perang Sudan Kian Panas, Nama Abiy Ahmed Muncul di Balik Dukungan untuk RSF

13 Mei 2026
Al-Aqsa

Al-Aqsa Memanas Jelang Jumat Nakba, Palestina Sebut Ancaman Israel Paling Berbahaya

13 Mei 2026
Pemerintah Baru Suriah Desak Lebanon Seret Buronan Rezim Assad

Pemerintah Baru Suriah Tuduh Hizbullah Lindungi Penjahat Rezim Assad di Lebanon

13 Mei 2026

Copyright © 2026 Andalus Media.

Discover More

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Copyright

Follow Us

  • Home
  • Suriah
  • Palestina
  • Dunia Islam
  • Nasional
  • Opini
  • Kontribusi

Copyright © 2026 Andalus Media.